Dari Jalan Terang Hadirkan Keamanan: 26 Titik PJU Menyala Berkat Advokasi Pokir Anggota DPRD Mohamad Nur Hidayat

Ketik minimal tiga huruf untuk mulai mencari.

Depok sering dikenal sebagai kota penyangga Jakarta yang sibuk, penuh kampus, mal, dan perumahan modern. Namun di balik hiruk-pikuk itu, tersimpan kisah masa lalu yang nyaris terlupakan: jejak industri kertas Leces dan julukan lama “Kota Kembang”. Bagi banyak warga baru, nama Leces mungkin hanya terdengar sebagai nama jalan atau halte. Padahal, di baliknya ada sejarah panjang tentang industri, tenaga kerja, dan identitas kota yang perlahan tergerus zaman.
Mengulik jejak Pabrik Kertas Leces di Depok bukan sekadar bernostalgia. Ini tentang memahami bagaimana sebuah kawasan bertransformasi dari pusat industri menjadi kota hunian. Artikel ini akan mengajak Anda menelusuri sejarah, kondisi terkini, serta mengapa julukan “Kota Kembang” begitu melekat pada Depok tempo dulu.
Pabrik Kertas Leces sebenarnya berpusat di Probolinggo, Jawa Timur, dan merupakan salah satu pabrik kertas tertua di Indonesia yang berdiri sejak era kolonial. Namun, jejaknya di Depok muncul melalui jaringan distribusi, gudang penyimpanan, serta kawasan industri kecil yang tumbuh di sekitarnya. Pada masa kejayaannya, kertas produksi Leces menjadi primadona untuk kebutuhan percetakan, buku tulis, hingga kemasan.
Di Depok, keberadaan gudang dan agen Leces pernah menjadi denyut ekonomi tersendiri. Banyak warga sekitar bekerja sebagai buruh angkut, penjaga gudang, atau pedagang yang menyuplai kebutuhan karyawan. Kawasan sekitar Jalan Leces dan Margonda kini menjadi saksi bisu bahwa dulu pernah ada aktivitas industri kertas yang ramai.
Seiring waktu, pabrik Leces mengalami pasang surut, hingga akhirnya tutup pada awal 2000-an. Dampaknya terasa hingga Depok: gudang-gudang kosong, lahan terbengkalai, dan perlahan berubah menjadi ruko, kampus, atau perumahan. Nama Leces pun hanya tersisa sebagai penanda jalan, tanpa banyak yang tahu kisah di baliknya.
Akibatnya, cerita tentang Leces lebih sering muncul sebagai obrolan nostalgia orang tua, bukan sebagai narasi resmi sejarah kota. Padahal, jejak ini bisa menjadi daya tarik wisata heritage jika dikelola dengan baik.
Julukan “Kota Kembang” bukan tanpa alasan. Pada era 1970–1990-an, Depok dikenal memiliki banyak taman, bunga, dan suasana yang masih asri. Kawasan Margonda dan sekitarnya dipenuhi pohon rindang, kebun bunga, serta udara yang jauh lebih sejuk dibanding Jakarta. Banyak orang menyebut Depok sebagai “Kota Kembang” karena keindahan dan ketenangan yang kontras dengan ibu kota.
Legenda ini juga diperkuat oleh keberadaan beberapa taman kota dan kebun raya mini yang menjadi tempat favorit keluarga. Sayangnya, pembangunan yang masif perlahan menggeser wajah hijau Depok. Lahan bunga berubah menjadi pusat perbelanjaan, apartemen, dan jalan raya. Kini, sebutan “Kota Kembang” nyaris tidak lagi terdengar, kecuali dalam cerita para sesepuh atau unggahan media sosial bernuansa nostalgia.
Menariknya, semangat “Kota Kembang” masih bisa ditemukan di beberapa sudut Depok, seperti Taman Lembah Gurame, Alun-Alun Depok, atau kebun-kebun kecil di perumahan. Hanya saja, gaungnya tak sebesar dulu.
Saat ini, kawasan bekas jejak Leces dan “Kota Kembang” telah berubah total. Jalan Leces kini ramai dengan kendaraan, kampus, dan kos-kosan. Gudang-gudang tua berganti menjadi minimarket atau tempat usaha. Sementara itu, taman-taman kota terus dirawat meski jumlahnya tidak sebanyak dulu.
Meski begitu, ada geliat positif dari komunitas lokal. Beberapa pegiat sejarah dan komunitas fotografi mulai mendokumentasikan jejak Leces dan cerita Kota Kembang. Mereka menggelar diskusi, pameran foto, hingga jalan-jalan heritage untuk mengenalkan kembali identitas lama Depok kepada generasi muda.
Pemerintah Kota Depok pun mulai melirik potensi ini. Beberapa taman tematik dan ruang terbuka hijau kembali diperbanyak. Harapannya, semangat “Kota Kembang” bisa dihidupkan bukan sekadar sebagai julukan, tetapi sebagai komitmen menjaga keindahan dan kenyamanan kota.
Jika dikelola serius, jejak Leces dan legenda Kota Kembang bisa menjadi daya tarik wisata yang unik. Depok tidak hanya dikenal sebagai kota kampus, tetapi juga kota yang menghargai sejarah dan keindahannya.
Jejak Pabrik Kertas Leces dan legenda “Kota Kembang” adalah dua potongan sejarah yang membuat Depok punya cerita lebih dari sekadar kota penyangga. Keduanya mengingatkan bahwa di balik gedung tinggi dan jalan raya, ada masa lalu yang membentuk karakter kota ini. Melupakan sejarah berarti kehilangan sebagian identitas.
Maka, mari kita mulai peduli. Anda bisa ikut serta dengan cara sederhana: membaca dan membagikan artikel ini, mengunjungi taman kota, atau mendukung komunitas sejarah lokal. Jika Anda punya cerita atau foto lama tentang Leces dan Kota Kembang, bagikan di kolom komentar atau media sosial dengan tagar #JejakDepok. Siapa tahu, cerita Anda menjadi bagian dari upaya menyelamatkan memori kota ini.


