Sambut Ramadan, Pelatihan Imam Muda dan Tahsin Al-Qur’an Digelar di Limo Depok

Ketik minimal tiga huruf untuk mulai mencari.

Di sudut Jalan Margonda, Depok, setiap akhir pekan sering terdengar suara khas mesin dua tak yang berdentum pelan. Sekelompok pria dan wanita paruh baya duduk melingkar di samping motor-motor tua mereka—Honda CB, Yamaha RX King, Suzuki A100, hingga Vespa klasik. Bagi warga sekitar, pemandangan ini sudah akrab. Mereka adalah anggota komunitas motor tua Depok yang belakangan semakin solid.
Di balik kesan sekadar berkumpul dan bernostalgia, komunitas ini menyimpan cerita ekonomi yang nyata. Hobi mengoleksi motor tua ternyata menjadi penyangga hidup bagi puluhan bengkel lokal di Kota Depok. Mulai dari bengkel spesialis restorasi hingga tukang las dan bubut kecil di gang-gang permukiman, semuanya merasakan dampaknya.
Komunitas motor tua di Depok bukanlah fenomena baru. Namun dalam lima tahun terakhir, jumlah anggotanya meningkat pesat. Salah satu komunitas besar, Depok Classic Riders, mengklaim memiliki lebih dari 300 anggota aktif dari berbagai kecamatan seperti Beji, Pancoran Mas, Sukmajaya, hingga Cimanggis.
Ketua komunitas tersebut, Rahmat Hidayat (42), menuturkan bahwa motor tua bukan sekadar barang koleksi. Setiap motor yang direstorasi melibatkan banyak pihak: mekanik, penyedia suku cadang, tukang cat, hingga pengrajin jok kulit.
“Satu motor restorasi bisa menghabiskan biaya Rp5 juta sampai Rp30 juta. Itu semua berputar di bengkel-bengkel kecil Depok,” ujar Rahmat saat ditemui di sebuah kopi di Beji.
Di Jalan Keadilan, Sukmajaya, sebuah bengkel kecil bernama Garasi Tua milik Sukarman (55) nyaris tutup pada 2018. Kini, bengkelnya justru kebanjiran order. Setidaknya tiga sampai lima motor tua masuk setiap minggu.
“Dulu saya sempat mau berhenti karena sepi. Sekarang malah harus menolak order karena antrean panjang,” kata Sukarman sambil membersihkan karburator motor RX King pelanggan.
Fenomena serupa terjadi di bengkel-bengkel lain di kawasan Kemiri Muka, Tanah Baru, dan Depok Timur. Komunitas motor tua menjadi penyelamat ekonomi mikro yang selama ini terpinggirkan oleh menjamurnya bengkel motor matik modern.
Bahkan, beberapa anggota komunitas sengaja membeli suku cadang dari bengkel lokal meskipun harga sedikit lebih mahal. Mereka sadar, keberlangsungan bengkel kecil adalah bagian dari ekosistem hobi mereka.
Selain dampak ekonomi, komunitas motor tua di Depok juga berfungsi sebagai ruang sosial. Setiap bulan, mereka mengadakan kopdar (kopi darat) di berbagai titik, seperti Alun-Alun Kota Depok, Margo City, hingga area wisata Danau Situ Pengasinan.
Dalam kopdar tersebut, tidak jarang diadakan workshop singkat tentang perawatan motor klasik. Anggota baru diajari cara menyetel klep, membersihkan karburator, hingga merawat bodi agar bebas karat.
“Banyak anak muda sekarang yang penasaran dan ikut bergabung. Mereka belajar langsung dari senior,” ujar Dina (29), anggota perempuan komunitas yang mengoleksi Honda Astrea Grand 1993.
Kegiatan ini juga menjadi ajang berbagi informasi tentang suku cadang langka. Anggota yang menemukan part di luar kota biasanya membagikan kontaknya. Solidaritas seperti ini yang membuat komunitas motor tua Depok bertahan dan terus tumbuh.
Meski memberi dampak positif, komunitas motor tua di Depok masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah regulasi kendaraan tua yang kerap menjadi perdebatan. Beberapa anggota mengeluhkan sulitnya memperpanjang STNK untuk motor berusia di atas 30 tahun.
Selain itu, polusi suara dan asap dari motor dua tak juga menjadi perhatian. Komunitas mengaku sudah mulai membatasi penggunaan motor dua tak untuk kegiatan harian dan lebih memilih motor empat tak klasik untuk kopdar.
Ke depan, mereka berharap pemerintah Kota Depok bisa memfasilitasi ruang publik untuk kegiatan komunitas otomotif. Misalnya, area khusus untuk pameran motor klasik di acara Car Free Day atau festival kota.
“Kami ingin dianggap sebagai bagian dari budaya kota, bukan sekadar hobi orang tua,” tegas Rahmat.
Potret komunitas motor tua di Depok membuktikan bahwa hobi bisa berjalan seiring dengan penguatan ekonomi lokal. Setiap dentuman mesin tua yang melintas di jalanan Depok adalah bukti bahwa bengkel-bengkel kecil masih hidup dan bernapas.
Bagi Anda yang tertarik, tidak ada salahnya mampir ke kopdar komunitas motor tua terdekat. Siapa tahu, Anda bisa menemukan motor klasik impian sekaligus ikut menggerakkan ekonomi warga Depok.
Yuk, dukung bengkel lokal dan lestarikan budaya otomotif Depok! Bagikan artikel ini ke teman-teman Anda yang hobi motor tua, atau tulis komentar di bawah tentang pengalaman Anda dengan motor klasik.