Kopdar ke-9 IMQI Kota Depok: Menyambung Jejak Ulama, dari Manaqib, Ziarah, hingga Khidmah Al-Qur’an
Ragam

Kopdar ke-9 IMQI Kota Depok: Menyambung Jejak Ulama, dari Manaqib, Ziarah, hingga Khidmah Al-Qur’an

3 hours laluOleh Mujiran

DEPOK – Ikatan Muallim Quran Indonesia (IMQI) Kota Depok menggelar Kopdar ke-9 dan Maidaturrahman di PP Nurul Huda Cimanggis, Kota Depok. Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus pengingat bahwa perjuangan mengajarkan Al-Qur’an memiliki sejarah panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.

IMQI Kota Depok menyampaikan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada Khadimul Ma’had sekaligus Shahibul Bayt, Ustadz Hadi dan Umi Eliyah Nur, atas fasilitas, keramahtamahan, serta hidangan Maidaturrahman yang disediakan.

Dalam rilis yang diterima redaksi, IMQI Kota Depok menyebut bahwa pertemuan ini bukan sekadar ruang berkumpul, tetapi menjadi jalan untuk menyambung kembali mata rantai kebaikan yang pernah dibangun oleh para guru dan ulama.

“Ada perjumpaan yang bukan sekadar mempertemukan orang-orang dalam sebuah majelis. Ia mempertemukan hati. Ada silaturahmi yang bukan hanya sekadar saling bertukar kabar, tetapi menjadi jalan untuk menyambung kembali mata rantai kebaikan yang pernah dibangun oleh guru-guru kita,” demikian keterangan IMQI Kota Depok.

Menghidupkan Kembali Kisah Para Guru

Dalam kesempatan tersebut, peserta menyimak bersama manaqib Almaghfurlah KH Muhammad Thayalisi Rasyad bin KH Abdul Rasyad.

Menyimak manaqib seorang ulama, menurut IMQI, bukan sekadar mendengarkan kisah masa lalu. Di dalamnya terkandung pelajaran tentang bagaimana ilmu dijalani, adab dipelihara, amal dilakukan dengan istiqamah, dan bagaimana seorang guru memberikan manfaat kepada masyarakat di sekitarnya.

Para ulama dan guru terdahulu telah mengambil langkah-langkah besar. Mereka mendirikan pesantren, membangun majelis, mengajarkan Al-Qur’an, mendidik santri, membina masyarakat, menjaga tradisi keilmuan, dan mewariskan ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Meskipun tidak semua fasilitas yang tersedia hari ini ada pada masa mereka, para ulama memiliki modal yang sangat besar: keikhlasan, ketekunan, keberanian berkhidmah, dan kesetiaan terhadap ilmu. Jejak perjuangan itu dinilai tidak boleh hilang dan hanya menjadi cerita yang dikenang sesekali.

Ziarah dan Makna Sanad

Setelah menyimak manaqib, peserta melakukan ziarah ke maqbarah Almaghfurlah KH Muhammad Thayalisi Rasyad bin KH Abdul Rasyad.

Ziarah, menurut IMQI, mengajarkan satu hal sederhana tetapi sangat dalam: bahwa setiap generasi memiliki asal-usul. Kita tidak hadir sebagai generasi yang berdiri sendiri. Ada guru sebelum kita, ada guru dari guru kita, dan ada ulama yang telah lebih dahulu mengorbankan waktu, tenaga, harta, pikiran, bahkan seluruh hidupnya untuk menjaga dan mengajarkan agama.

“Ketika kita berziarah, kita sedang belajar untuk tidak melupakan mereka. Kita mengenang jasa mereka, mendoakan mereka, mengambil ibrah dari kehidupan mereka, sekaligus mengingatkan diri bahwa suatu hari nanti kita pun akan meninggalkan dunia ini,” lanjut keterangan tersebut.

Di sinilah makna sanad menjadi semakin terasa. Sanad bukan sekadar rangkaian nama yang tertulis dalam kitab. Sanad adalah amanah, mata rantai ilmu, adab, amal, dan khidmah yang harus dijaga agar tidak terputus.

Tanggung Jawab Generasi Hari Ini

IMQI menegaskan bahwa generasi hari ini memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk melestarikan, mengembangkan, dan melanjutkan sanad ilmu dari guru-guru. Ilmu yang dipelajari harus terus mengalir, adab yang diterima harus terus diwariskan, tradisi keilmuan yang baik harus terus dijaga, dan semangat khidmah kepada Al-Qur’an harus terus menemukan bentuknya pada zaman yang dijalani.

“Boleh jadi, kita bukanlah generasi yang membangun fondasi pertama. Tetapi kita dapat menjadi generasi yang memperkuat fondasi tersebut dan memastikan bangunannya tetap berdiri untuk generasi berikutnya,” tulis IMQI.

IMQI, Ruang Berjalan Bersama

Dalam konteks itulah kehadiran IMQI — Ikatan Muallim Quran Indonesia, khususnya di Kota Depok, menemukan maknanya. IMQI bukan semata-mata nama sebuah wadah. Ia diharapkan menjadi ruang bertemunya para muallim dan muallimah, para guru Al-Qur’an, para thālib dan thālibah, serta seluruh elemen umat yang memiliki perhatian terhadap pembelajaran dan dakwah Al-Qur’an.

Perbedaan latar belakang, lembaga, pengalaman, dan metode bukan alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, perbedaan pengalaman dapat menjadi kekayaan untuk saling belajar. Yang kuat membantu yang lemah, yang lebih dahulu berjalan membimbing yang baru memulai, yang memiliki ilmu berbagi dengan yang membutuhkan, dan yang memiliki kesempatan membuka jalan bagi saudara-saudaranya.

Menuju Depok Bebas Buta Aksara Al-Qur’an 2045

IMQI Kota Depok juga menegaskan pentingnya kolaborasi untuk mewujudkan cita-cita:

“Gerakan Kota Depok ber-Tajwid, Kota Depok Bebas Buta Aksara Al-Qur’an 2045.”

Cita-cita tersebut dinilai tidak mungkin menjadi pekerjaan satu orang, satu lembaga, atau satu kelompok saja. Ia membutuhkan kebersamaan, persaudaraan, kolaborasi, dan kesinambungan perjuangan lintas generasi.

Hari ini mungkin yang dilakukan masih sederhana: berkumpul, belajar, bersilaturahmi, menyimak manaqib, berziarah, dan menguatkan persaudaraan. Namun dari sesuatu yang sederhana itulah sebuah gerakan besar dapat tumbuh.

Menjadi Mata Rantai Kebaikan

Pada akhirnya, IMQI Kota Depok mengajak seluruh pihak untuk menjadi mata rantai kebaikan. Kita datang sebagai generasi setelah para ulama. Kita menerima ilmu, tradisi kebaikan, dan Al-Qur’an melalui mata rantai guru dan guru-guru sebelumnya. Maka tugas kita bukan hanya menerima, tetapi menjaga dan meneruskan.

“Mari kita menjadi jembatan. Dari guru kepada murid, dari generasi kepada generasi, dari ilmu kepada amal, dari amal kepada keteladanan, dan dari keteladanan kepada peradaban,” ajak IMQI.

Semoga setiap langkah kecil dalam silaturahmi, pembelajaran, pengajaran, dan khidmah kepada Al-Qur’an menjadi bagian dari amal yang terus mengalir. Semoga Allah SWT menjaga persaudaraan, menyatukan hati dalam kebaikan, memberikan keberkahan kepada para guru dan ulama, mengampuni mereka yang telah mendahului, serta memberikan kekuatan untuk meneruskan amanah ilmu dan amal yang telah diwariskan.

Impi Kota Depok

Sinergi, Kolaborasi, Tumbuh Berdampak

Bukan sekadar slogan, tetapi sebuah ikhtiar untuk berjalan bersama, menyambung sanad kebaikan, dan menjadi jembatan bagi generasi yang akan datang.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيقِ

(*/IMQI Kota Depok)

Berita Terkait