Jelajah Kampung Budaya di Beji: Menelisik Tradisi Betawi Depok yang Masih Lestari

Ketik minimal tiga huruf untuk mulai mencari.

Kawasan Margonda Raya di Depok bukan hanya pusat pendidikan dan perkantoran, tetapi juga surga kuliner yang tidak pernah tidur. Setiap hari, ribuan orang melintas di jalanan ini, mencari tempat makan yang bisa memuaskan selera setelah beraktivitas. Dua jenis kuliner yang selalu menjadi perbincangan adalah rumah makan Padang dan sate khas Depok. Keduanya memiliki penggemar setia masing-masing, tetapi mana yang sebenarnya paling dicari warga Margonda?
Untuk menjawab pertanyaan ini, Depok News melakukan review langsung ke beberapa lokasi favorit di sepanjang Margonda dan sekitarnya. Kami mengamati jumlah pengunjung, variasi menu, harga, hingga alasan pelanggan memilih kedua jenis kuliner tersebut.
Rumah makan Padang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi banyak warga Depok. Di sepanjang Margonda, setidaknya ada belasan rumah makan Padang dengan nama yang berbeda-beda, mulai dari yang kecil hingga restoran besar. Keunggulan utamanya adalah kecepatan penyajian. Begitu duduk, aneka lauk sudah tersaji di atas meja, dan kita tinggal memilih.
Dari segi harga, rumah makan Padang menawarkan variasi yang sangat ramah kantong. Nasi dengan satu lauk bisa didapat mulai Rp15.000, sementara paket lengkap dengan rendang, ayam pop, dan sayur bisa mencapai Rp30.000–Rp45.000. Bagi mahasiswa dan pekerja yang ingin makan cepat, ini jelas solusi praktis.
Namun, ada catatan dari beberapa pengunjung. Rumah makan Padang terkadang dianggap kurang cocok untuk nongkrong lama karena suasana yang cenderung ramai dan meja cepat dibersihkan. Selain itu, bagi yang tidak suka pedas atau santan, pilihan menu bisa terasa monoton.
Berbeda dengan rumah makan Padang yang berasal dari Sumatera Barat, sate khas Depok memiliki keunikan tersendiri. Meskipun sate secara umum identik dengan Madura atau Padang, versi Depok biasanya menggunakan bumbu kacang yang lebih manis dan daging ayam atau kambing pilihan yang dibakar dengan arang.
Di kawasan Margonda dan sekitarnya, warung sate khas Depok biasanya mulai beroperasi sore hingga malam hari. Tempatnya sering berupa tenda atau kaki lima dengan meja lipat, tetapi justru suasana inilah yang membuatnya digemari. Harga per porsi sate khas Depok berkisar Rp25.000–Rp40.000, tergantung jenis daging dan jumlah tusuk.
Meski begitu, sate khas Depok juga memiliki kekurangan. Waktu penyajian lebih lama karena harus dibakar setelah dipesan. Selain itu, tidak semua warung sate buka pada jam makan siang, sehingga kurang cocok bagi yang mencari makan cepat di tengah hari.
Untuk mengetahui mana yang paling dicari, kami melakukan survei kecil terhadap 50 responden di sekitar Margonda. Responden terdiri dari mahasiswa, karyawan, dan warga lokal. Berikut hasilnya:
Dari data ini, terlihat bahwa rumah makan Padang lebih sering dikunjungi karena faktor kepraktisan dan harga. Namun, sate khas Depok lebih dinanti saat momen santai atau akhir pekan. Jadi, jawabannya sangat bergantung pada kebutuhan dan waktu.
Rumah makan Padang di Margonda tersebar merata, mulai dari dekat Stasiun Depok Baru hingga ke arah UI. Banyak yang buka dari pagi hingga malam. Sementara itu, sate khas Depok lebih banyak ditemukan di gang-gang kecil atau pinggir jalan utama, dan umumnya buka mulai pukul 16.00 WIB. Hal ini membuat rumah makan Padang lebih mudah diakses kapan saja.
Jika pertanyaannya adalah “mana yang paling dicari”, maka rumah makan Padang memimpin dari sisi volume pembeli harian. Namun, sate khas Depok memiliki loyalitas penggemar yang kuat dan sering menjadi tujuan kuliner malam yang wajib dicoba.
Bagi warga Margonda yang sibuk, rumah makan Padang adalah penyelamat. Bagi yang ingin bersantai dan menikmati cita rasa lokal, sate khas Depok adalah juaranya. Keduanya tidak saling menggantikan, melainkan melengkapi pilihan kuliner di Kota Depok.
Yang jelas, persaingan sehat ini menguntungkan konsumen. Kita bisa memilih sesuai suasana hati, isi dompet, dan waktu yang tersedia. Tidak heran jika Margonda tetap menjadi pusat kuliner favorit di Depok.
Kesimpulannya, rumah makan Padang lebih dicari untuk kebutuhan makan cepat sehari-hari, sedangkan sate khas Depok lebih dicari untuk pengalaman kuliner santai. Keduanya punya tempat di hati warga Margonda.
Sudah pernah coba keduanya? Yuk, bagikan pengalaman kulinermu di kolom komentar atau media sosial Depok News. Jangan lupa ikuti terus artikel review kuliner dan wisata Depok lainnya hanya di Depok News!