Harga Lahan di Rancagoong Naik 200%: Dampak Tol Depok-Antasari dan Rencana Kota Mandiri

Ketik minimal tiga huruf untuk mulai mencari.

Depok bukan hanya soal kampus dan hunian yang terus berkembang. Di balik hiruk-pikuk kota penyangga Jakarta ini, tersimpan kekayaan kuliner yang jarang dibahas, salah satunya adalah sate dengan bumbu kacang warisan generasi. Beberapa penjual bahkan telah bertahan lebih dari 30 tahun dan mewariskan resepnya dari kakek ke cucu.
Pertanyaannya, dari sekian banyak warung sate di Depok, mana yang benar-benar otentik? Kami mencoba tujuh tempat yang dikenal memiliki bumbu kacang racikan sendiri, bukan bumbu instan pabrikan. Berikut hasil reviewnya.
Berlokasi di kawasan Margonda, warung ini sudah berdiri sejak awal 1990-an. Aroma bakaran sate langsung tercium begitu masuk ke gang kecil tempat warungnya berada. Bumbu kacangnya kental, sedikit kasar, dan terasa kacang tanah sangrai asli, bukan bumbu halus mesin.
Yang membuatnya istimewa adalah campuran kecap manis dan sedikit perasan jeruk limau yang menyeimbangkan rasa gurih. Porsi dagingnya cukup besar, dan harganya masih ramah kantong untuk ukuran kota Depok.
Di kawasan Beji, ada warung sate yang konsisten menggunakan resep keluarga sejak 1985. Ciri khasnya adalah bumbu kacang yang ditumis terlebih dahulu sebelum disajikan, sehingga aromanya lebih harum dan rasanya lebih dalam.
Menurut pemiliknya, resep ini tidak pernah berubah, hanya takarannya yang disesuaikan dengan selera pelanggan. Daging yang digunakan adalah sapi segar dari pasar lokal, bukan daging beku.
Bagi Anda yang menyukai sate dengan cita rasa Betawi klasik, tempat ini wajib dicoba. Suasana warungnya sederhana, tapi justru itu yang menambah nilai otentiknya.
Meski berada di perbatasan Depok dan Cinere, warung tenda ini sering dianggap bagian dari kuliner Depok. Bumbu kacangnya cenderung lebih manis dibanding dua tempat sebelumnya, cocok untuk Anda yang tidak menyukai rasa pedas berlebihan.
Yang menarik, mereka menyediakan dua varian bumbu: kacang halus dan kacang kasar. Pelanggan bisa memilih sesuai selera. Sambal kecapnya juga dibuat sendiri dengan irisan bawang merah dan cabai rawit segar.
Jika Anda tipe yang suka bumbu kacang dominan manis, tempat ini bisa jadi favorit. Namun bagi yang mencari rasa kacang yang lebih kuat, mungkin terasa sedikit terlalu manis.
Warung ini sudah beroperasi lebih dari 25 tahun di kawasan Sawangan. Bumbu kacangnya diracik setiap hari dengan kacang tanah pilihan, dan tidak menggunakan pengawet atau bumbu instan.
Yang membuatnya menonjol adalah konsistensi rasa. Pelanggan setia mengaku rasa bumbunya tidak berubah sejak puluhan tahun lalu. Dagingnya dipotong dengan ukuran sedang, dibakar di atas arang kayu sehingga aroma smokey-nya kuat.
Berbeda dari yang lain, warung sate di Cimanggis ini menambahkan sentuhan rempah seperti kencur dan daun jeruk ke dalam bumbu kacangnya. Hasilnya, aroma bumbu lebih kompleks dan tidak membosankan.
Ini pilihan menarik bagi Anda yang ingin sensasi berbeda dari sate kacang biasa. Porsi bumbunya juga melimpah, jadi bisa dicampur dengan lontong hingga habis.
Sayangnya, karena menggunakan rempah tambahan, rasa kacangnya sedikit tertutup. Bagi sebagian orang ini nilai plus, bagi yang lain bisa jadi kurang pas.
Warung sate di Sukmajaya ini lebih modern dari segi penyajian, tapi tetap mempertahankan bumbu kacang resep nenek. Tempatnya bersih, ada area lesehan, dan cocok untuk makan bersama keluarga.
Bumbu kacangnya creamy dengan tingkat kekentalan sedang. Mereka juga menyediakan paket hemat yang cocok untuk mahasiswa dan pekerja kantoran di sekitar Depok.
Terakhir, ada warung sate di Kalimulya yang masih mempertahankan gaya klasik: gerobak sederhana, kursi plastik, dan bumbu kacang yang diulek manual di tempat. Aroma kacang sangrai tercium jelas saat bumbu baru dibuat.
Rasanya jujur dan apa adanya, tidak dibuat-buat. Harga per porsinya paling murah di antara tujuh tempat yang kami review, tapi kualitasnya tidak murahan.
Jika Anda mencari pengalaman sate yang benar-benar tradisional, tempat ini bisa jadi pilihan utama.
Dari tujuh tempat yang kami review, Sate Pak Haji Sawangan dan Sate Khas Betawi Beji tampil sebagai yang paling otentik. Keduanya konsisten menggunakan resep warisan, bumbu kacang racikan sendiri, dan tidak tergoda menggunakan bumbu instan.
Namun, otentik itu relatif. Bagi sebagian orang, otentik berarti rasa yang tidak berubah sejak dulu. Bagi yang lain, otentik berarti proses pembuatan yang masih manual. Semua tempat di atas punya nilai plus masing-masing.
Yang jelas, kuliner sate khas Depok masih hidup dan layak dilestarikan. Jika Anda warga Depok atau sedang berkunjung ke kota ini, sempatkan mencoba minimal dua tempat dari daftar di atas.
Sudah pernah coba yang mana? Bagikan pengalaman Anda di kolom komentar, atau simpan artikel ini untuk referensi kuliner akhir pekan Anda bersama keluarga dan teman. Jangan lupa cek artikel kuliner Depok lainnya hanya di Depok News!