Menguak Sejarah Kelenteng Boen Tek Bio Depok: Akulturasi Tionghoa dan Ritual Jelang Imlek
Foto: Angela Roma / Pexels
Ragam

Menguak Sejarah Kelenteng Boen Tek Bio Depok: Akulturasi Tionghoa dan Ritual Jelang Imlek

2 days laluOleh Abu Dandan

Depok bukan hanya identik dengan kampus, angkot kuning, atau kuliner martabak yang legendaris. Di balik hiruk-pikuk kota penyangga Jakarta ini, tersimpan jejak sejarah panjang komunitas Tionghoa yang masih hidup hingga kini. Salah satu buktinya adalah Kelenteng Boen Tek Bio, rumah ibadah tua yang menjadi saksi perjalanan budaya dan spiritual warga Depok selama lebih dari satu abad.

Menjelang Imlek, kelenteng ini selalu ramai dikunjungi warga. Suasana khas perayaan Tahun Baru China terasa kental, mulai dari lampion merah yang bergantungan hingga aroma dupa yang menyeruak di setiap sudut ruangan. Bagi warga Depok, kelenteng ini bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol akulturasi yang unik.

Jejak Awal Berdirinya Kelenteng Boen Tek Bio

Kelenteng Boen Tek Bio diperkirakan berdiri sejak akhir abad ke-19, sekitar tahun 1880-an. Nama “Boen Tek Bio” sendiri berasal dari dialek Hokkien yang berarti “tempat pemujaan dewa-dewa leluhur”. Kelenteng ini terletak di kawasan Jalan Pemuda, tak jauh dari pusat kota Depok.

Menurut cerita yang berkembang di kalangan warga Tionghoa Depok, kelenteng ini awalnya dibangun oleh sekelompok keluarga peranakan yang merantau dari Batavia. Mereka mencari tempat tinggal baru di selatan Jakarta dan membangun komunitas di Depok. Seiring bertambahnya jumlah warga, kebutuhan akan tempat ibadah pun muncul.

Bangunan kelenteng mengalami beberapa kali renovasi. Meski demikian, struktur utama dan ornamen khas Tionghoa masih dipertahankan. Arsitektur bergaya Hokkien terlihat dari atap melengkung, ukiran naga, serta tiang kayu berwarna merah yang kokoh.

Yang menarik, kelenteng ini tidak hanya menjadi pusat ibadah umat Tionghoa. Warga dari berbagai latar belakang juga sering berkunjung, terutama saat perayaan hari besar seperti Imlek, Cap Go Meh, dan Waisak. Hal ini menunjukkan bahwa kelenteng Boen Tek Bio telah menjadi bagian dari identitas budaya Depok secara luas.

Akulturasi Budaya Tionghoa dan Lokal Depok

Keunikan Kelenteng Boen Tek Bio terletak pada akulturasi budayanya. Meski berakar dari tradisi Tionghoa, praktik ibadah dan ritual di sini telah berbaur dengan kebiasaan lokal. Misalnya, dalam beberapa upacara, warga menggunakan bahasa Indonesia atau Betawi sebagai pengantar doa.

Selain itu, makanan yang disajikan saat perayaan juga mengalami penyesuaian. Kue keranjang dan dodol China tetap ada, tetapi tak jarang warga juga menyajikan kue tradisional Depok seperti kue lapis dan wajik. Percampuran ini menciptakan warna tersendiri yang jarang ditemukan di kelenteng lain.

Akulturasi juga terlihat dari hubungan baik antara pengurus kelenteng dan warga sekitar. Saat Imlek, mereka sering bergotong royong membersihkan lingkungan dan memasang lampion bersama. Bahkan, beberapa remaja masjid setempat ikut membantu menjaga keamanan selama perayaan berlangsung.

Menurut pengurus kelenteng, semangat kebersamaan inilah yang membuat Boen Tek Bio tetap bertahan di tengah perubahan zaman. “Kami tidak pernah merasa sendiri. Warga Depok dari berbagai suku selalu mendukung,” ujar salah satu pengurus yang enggan disebut namanya.

Ritual Jelang Imlek di Kelenteng Boen Tek Bio

Menjelang Imlek, Kelenteng Boen Tek Bio menggelar serangkaian ritual yang menarik untuk disaksikan. Rangkaian ini biasanya dimulai sepekan sebelum Tahun Baru China. Berikut beberapa ritual yang biasa dilakukan:

  • Pembersihan altar dan patung dewa — Pengurus dan warga bergotong royong membersihkan seluruh area kelenteng, termasuk altar utama dan patung dewa. Prosesi ini dipercaya sebagai simbol membuang sial dan menyambut keberkahan.
  • Pemasangan lampion dan hiasan merah — Lampion berwarna merah dipasang di sepanjang halaman dan pintu masuk. Warna merah dipercaya membawa keberuntungan dan mengusir roh jahat.
  • Sembahyang leluhur — Warga membawa buah, kue, dan dupa untuk berdoa kepada leluhur. Mereka memohon keselamatan dan rezeki untuk tahun yang baru.
  • Pembakaran kertas sembahyang — Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada arwah leluhur. Asapnya diyakini membawa doa ke alam baka.
  • Pertunjukan barongsai — Menjelang puncak Imlek, barongsai sering tampil di depan kelenteng. Pertunjukan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga Depok.

Uniknya, ritual-ritual tersebut tidak hanya diikuti oleh umat Tionghoa. Banyak warga non-Tionghoa yang datang untuk menyaksikan atau bahkan ikut berpartisipasi. Mereka mengaku tertarik dengan suasana spiritual dan kebersamaan yang tercipta.

Pada malam Imlek, kelenteng biasanya buka hingga larut malam. Warga datang bergantian untuk bersembahyang. Suasana semakin semarak dengan alunan musik tradisional dan aroma masakan yang menggoda dari pedagang kaki lima di sekitar lokasi.

Menjaga Warisan Budaya di Tengah Modernisasi

Seperti banyak kelenteng tua lainnya, Boen Tek Bio menghadapi tantangan besar di era modern. Generasi muda Tionghoa Depok semakin jarang yang aktif mengurus kelenteng. Banyak dari mereka sibuk dengan pekerjaan dan pendidikan di luar kota.

Meski demikian, pengurus kelenteng terus berupaya melibatkan anak muda. Mereka mengadakan kelas kaligrafi China, kursus bahasa Mandarin, dan kegiatan sosial seperti bakti sosial dan donor darah. Tujuannya agar kelenteng tetap relevan dan tidak sekadar menjadi bangunan bersejarah.

Pemerintah Kota Depok juga turut mendukung pelestarian kelenteng ini. Beberapa kali, kelenteng Boen Tek Bio dijadikan lokasi acara budaya, seperti Festival Imlek dan pameran sejarah Tionghoa Depok. Dukungan ini diharapkan membuat kelenteng semakin dikenal wisatawan.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Depok, Kelenteng Boen Tek Bio bisa menjadi destinasi wisata budaya yang menarik. Selain belajar sejarah, pengunjung dapat merasakan langsung atmosfer akulturasi yang jarang ditemui di kota lain.

Kesimpulan

Kelenteng Boen Tek Bio bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah simbol perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Depok, bukti bahwa akulturasi budaya dapat berjalan harmonis. Menjelang Imlek, kelenteng ini menjadi pusat perayaan yang meriah sekaligus sarana mempererat kebersamaan warga.

Jika Anda tinggal di Depok atau sedang berkunjung ke kota ini, luangkan waktu untuk mampir ke Kelenteng Boen Tek Bio. Nikmati suasana spiritualnya, pelajari sejarahnya, dan rasakan hangatnya kebersamaan yang tercipta. Jangan lupa bagikan pengalaman Anda di media sosial dan ajak teman atau keluarga untuk ikut melestarikan warisan budaya ini.

Selamat Tahun Baru Imlek! Gong Xi Fa Cai!

Berita Terkait