Maulid di Almamater, Bang Dayat Kembali ke SDN Cisalak 1: Dari Bangku Sekolah untuk Menginspirasi Generasi

Ketik minimal tiga huruf untuk mulai mencari.

Di tengah padatnya kawasan Perumnas Depok, sebuah tren baru mulai tumbuh dari halaman-halaman sempit rumah warga. Fenomena urban farming atau pertanian perkotaan kini bukan lagi sekadar hobi, melainkan gerakan sosial yang diyakini mampu menjawab dua persoalan serius: banjir dan stunting. Warga Perumnas Depok yang identik dengan rumah tipe kecil dan lahan terbatas justru membuktikan bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang untuk bercocok tanam.
Fenomena ini menarik untuk dicermati. Bagaimana mungkin lahan seluas beberapa meter persegi bisa berdampak pada masalah banjir yang kerap melanda Depok? Dan apa hubungannya dengan upaya penurunan angka stunting di kota ini? Mari kita telusuri lebih dalam.
Perumnas Depok dikenal sebagai kawasan hunian padat yang dibangun sejak era 1980-an. Rumah-rumah di kawasan ini umumnya memiliki luas tanah terbatas, dengan halaman yang sempit atau bahkan tanpa halaman sama sekali. Kondisi ini membuat warga jarang memiliki ruang untuk berkebun secara konvensional.
Namun, keterbatasan itu justru memicu kreativitas. Warga mulai memanfaatkan pekarangan sempit, atap rumah, dinding pagar, hingga gang-gang kecil untuk menanam berbagai tanaman. Mulai dari cabai, tomat, kangkung, sawi, hingga tanaman obat keluarga. Tren ini semakin masif setelah pandemi, ketika kesadaran akan ketahanan pangan keluarga meningkat.
Beberapa komunitas urban farming di Perumnas Depok bahkan rutin mengadakan pelatihan dan berbagi bibit secara gratis. Mereka memanfaatkan media sosial untuk saling bertukar tips, mulai dari teknik hidroponik sederhana hingga vertikultur yang hemat tempat.
Depok kerap dilanda banjir saat musim hujan tiba. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya area resapan air akibat pembangunan yang masif. Nah, di sinilah urban farming memainkan peran penting.
Tanaman dan media tanam mampu menyerap air hujan lebih baik dibandingkan permukaan beton atau paving. Ketika banyak rumah di Perumnas Depok memiliki tanaman di halaman atau pot-pot besar, secara kolektif hal ini membantu mengurangi limpasan air ke saluran drainase. Air hujan yang jatuh tidak langsung mengalir ke jalan, tetapi terserap ke dalam tanah melalui media tanam.
Selain itu, beberapa komunitas urban farming juga membuat lubang biopori dan sumur resapan sederhana di sela-sela tanaman. Teknik ini terbukti efektif meningkatkan daya serap tanah dan mengurangi genangan di lingkungan sekitar.
Meski tidak bisa menjadi solusi tunggal, urban farming di lahan sempit Perumnas Depok terbukti memberi kontribusi nyata dalam mengurangi risiko banjir lokal. Jika dilakukan secara massal dan terkoordinasi, dampaknya bisa jauh lebih besar.
Stunting masih menjadi masalah serius di banyak kota besar, termasuk Depok. Stunting disebabkan oleh kekurangan gizi kronis pada anak, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Salah satu akar masalahnya adalah terbatasnya akses keluarga terhadap pangan bergizi, terutama sayuran dan protein hewani.
Urban farming menawarkan solusi yang cukup cerdas. Dengan menanam sayuran sendiri di rumah, keluarga dapat mengakses pangan segar secara gratis atau dengan biaya sangat murah. Sayuran seperti kangkung, sawi, bayam, dan tomat kaya akan vitamin dan mineral yang dibutuhkan anak untuk tumbuh optimal.
Beberapa komunitas di Perumnas Depok bahkan mengintegrasikan urban farming dengan program posyandu dan pemberian makanan tambahan (PMT). Hasil panen dari kebun warga disumbangkan untuk kebutuhan posyandu, sehingga anak-anak yang berisiko stunting mendapat asupan gizi tambahan secara rutin.
Selain itu, keterlibatan ibu-ibu dalam kegiatan urban farming juga meningkatkan pengetahuan mereka tentang gizi dan pola makan sehat. Edukasi ini penting agar pangan yang dihasilkan benar-benar diolah menjadi menu bergizi untuk keluarga, bukan sekadar ditanam lalu dijual.
Di beberapa RW di Perumnas Depok, program urban farming telah berjalan selama lebih dari dua tahun. Hasilnya cukup menggembirakan. Warga melaporkan adanya penurunan pengeluaran untuk belanja sayuran, sekaligus peningkatan konsumsi sayur di rumah tangga. Beberapa anak yang sebelumnya terindikasi kurang gizi kini menunjukkan perbaikan berat badan dan tinggi badan.
Meski data resmi masih terbatas, cerita-cerita sukses ini menjadi bukti bahwa urban farming bukan sekadar tren sesaat, melainkan gerakan yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga.
Tentu saja, urban farming di lahan sempit bukan tanpa tantangan. Beberapa kendala yang sering muncul antara lain:
Namun, peluangnya juga besar. Pemerintah Kota Depok dapat mendorong program ini melalui penyuluhan, bantuan bibit, dan pembentukan komunitas urban farming tingkat kelurahan. Kolaborasi antara warga, pemerintah, dan sektor swasta bisa menjadi kunci keberhasilan jangka panjang.
Selain itu, urban farming juga berpotensi menjadi destinasi wisata edukasi di Depok. Banyak warga dari luar kota yang tertarik belajar cara bertani di lahan sempit. Ini bisa menjadi nilai tambah ekonomi bagi komunitas setempat.
Fenomena urban farming di lahan sempit Perumnas Depok membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil. Dengan memanfaatkan pekarangan, atap, dan gang sempit, warga tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih hijau, tetapi juga membantu mengurangi risiko banjir dan meningkatkan akses pangan bergizi untuk mencegah stunting.
Meski bukan solusi instan, gerakan ini layak didukung dan diperluas. Jika setiap rumah di Perumnas Depok menanam minimal satu pot sayuran, bayangkan berapa ton pangan bergizi yang bisa dihasilkan dan berapa banyak genangan air yang bisa dicegah.
Mari mulai dari halaman rumah kita sendiri! Dukung komunitas urban farming di lingkungan Anda, ikuti pelatihannya, dan ajak tetangga untuk ikut serta. Dengan begitu, Depok bisa menjadi contoh kota yang tangguh menghadapi banjir dan bebas stunting.
Bagikan artikel ini kepada warga Perumnas Depok lainnya, dan ceritakan pengalaman urban farming Anda di kolom komentar. Siapa tahu, kebun kecil Anda bisa menginspirasi banyak orang!


