DepokNews – Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di SMPIT Rahmaniyah Depok memberikan penguatan kepada guru dalam mengenali, mencegah, dan merespons permasalahan self harm pada peserta didik. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan guru, tetapi juga mendorong penguatan manajemen pengawasan sekolah sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman dan suportif.
Kegiatan edukasi yang dilakukan oleh dosen Universitas Indraprasta ini yang terdiri dari Dr. Adi Permana, Dr. Heppy Atmapratiwi dan Dr. Dewi Indah ini dilaksanakan sebagai respons terhadap pentingnya peningkatan kapasitas guru dalam menghadapi berbagai persoalan psikologis yang dapat muncul di lingkungan sekolah. Guru memiliki posisi strategis karena berinteraksi secara langsung dengan peserta didik dalam proses pembelajaran dan dapat menjadi salah satu pihak yang pertama kali melihat adanya perubahan perilaku siswa.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru mendapatkan pemahaman mengenai self harm, faktor yang dapat melatarbelakangi munculnya perilaku tersebut, tanda-tanda yang perlu mendapatkan perhatian, serta langkah awal yang dapat dilakukan ketika menemukan siswa yang membutuhkan dukungan.
Selain penyampaian materi, kegiatan juga memberikan ruang bagi guru untuk berdiskusi dan melakukan simulasi kasus. Pendekatan tersebut memungkinkan peserta menghubungkan materi yang diberikan dengan situasi yang mungkin ditemui dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari.
Salah satu hasil penting kegiatan adalah meningkatnya kesadaran guru bahwa perubahan perilaku peserta didik perlu mendapatkan perhatian secara tepat dan tidak langsung diberikan label negatif. Guru didorong untuk membangun komunikasi yang empatik, mendengarkan siswa secara aktif, menjaga kerahasiaan informasi, serta melakukan koordinasi dengan pihak sekolah apabila ditemukan kondisi yang memerlukan tindak lanjut.
Menurut kepala SMPIT Ar Rahmaniyah Depok, Ferry Veronika, S.E “Guru bukan tenaga diagnosis kesehatan mental, tetapi guru memiliki peran penting dalam mengenali perubahan perilaku, memberikan dukungan awal, dan menghubungkan siswa dengan pihak yang tepat,” demikian pesan utama yang ditekankan dalam kegiatan edukasi tersebut.
Pengawasan Menjadi Bagian Penting.
Selain edukasi, kegiatan PKM memberikan perhatian khusus pada aspek manajemen pengawasan sekolah. Pengetahuan yang diperoleh guru dinilai perlu diikuti dengan mekanisme monitoring dan evaluasi agar hasil kegiatan tidak berhenti setelah pelatihan selesai.
Manajemen pengawasan diarahkan untuk memastikan bahwa upaya pencegahan dan penanganan awal dilakukan secara terarah, konsisten, dan sesuai dengan kewenangan masing-masing pihak. Pengawasan mencakup monitoring terhadap penerapan komunikasi empatik, deteksi dini, mekanisme pelaporan, koordinasi, dokumentasi, serta tindak lanjut.

Foto tim pelaksanaan kegiatan PKM Unversitas Indraprasta PGRI
Dalam praktiknya, pengawasan dapat melibatkan pimpinan sekolah, wali kelas, guru BK, dan guru mata pelajaran. Setiap pihak memiliki peran yang berbeda tetapi saling berkaitan dalam membangun sistem dukungan bagi peserta didik.
Pimpinan sekolah berperan dalam memastikan tersedianya kebijakan dan mekanisme kerja yang jelas. Guru dapat melakukan pengamatan terhadap perubahan perilaku siswa, sedangkan wali kelas dan guru BK dapat membantu melakukan koordinasi dan tindak lanjut sesuai dengan kompetensi serta kewenangannya.
Dengan sistem tersebut, penanganan permasalahan peserta didik diharapkan tidak dilakukan secara individual, tetapi melalui mekanisme yang lebih terstruktur.
Mendorong Sistem Monitoring dan Evaluasi.
Kegiatan PKM juga mendorong sekolah untuk mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan. Monitoring diperlukan untuk mengetahui apakah pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan edukasi telah diterapkan dalam kegiatan pembelajaran dan interaksi sehari-hari dengan siswa.
Evaluasi dapat dilakukan terhadap beberapa aspek, mulai dari pemahaman guru, kemampuan mengenali perubahan perilaku, penerapan komunikasi empatik, mekanisme pelaporan, koordinasi antarpihak, hingga tindak lanjut.
Hasil monitoring dan evaluasi selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar bagi sekolah untuk melakukan perbaikan. Jika ditemukan kelemahan dalam mekanisme pelaporan, misalnya, sekolah dapat melakukan penyempurnaan prosedur. Jika guru membutuhkan penguatan keterampilan komunikasi, sekolah dapat menyelenggarakan pelatihan lanjutan.
Pendekatan tersebut menempatkan pengawasan sebagai fungsi manajemen yang bersifat membina dan memperbaiki, bukan sekadar mencari kesalahan.
Memperkuat Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua
Aspek lain yang mendapat perhatian adalah pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua. Permasalahan yang berkaitan dengan kondisi psikologis peserta didik membutuhkan dukungan dari berbagai pihak sehingga sekolah tidak dapat bekerja sendiri.
Komunikasi antara sekolah dan orang tua perlu dilakukan melalui mekanisme yang tepat dengan tetap memperhatikan privasi dan kepentingan terbaik peserta didik. Apabila diperlukan, sekolah juga dapat berkoordinasi dengan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan.
Melalui kolaborasi tersebut, pemantauan kondisi siswa dapat dilakukan secara lebih menyeluruh, baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Membangun Lingkungan Sekolah yang Lebih Suportif.
Hasil kegiatan PKM menunjukkan bahwa edukasi mengenai self harm dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih luas dalam membangun budaya sekolah yang peduli terhadap kesehatan mental peserta didik.
Guru diharapkan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga memperhatikan kondisi sosial dan emosional siswa. Lingkungan belajar yang terbuka, aman, dan suportif dapat membantu peserta didik merasa lebih nyaman dalam menyampaikan permasalahan yang dihadapi.
Dalam konteks tersebut, manajemen pengawasan memiliki fungsi strategis untuk memastikan bahwa budaya sekolah yang suportif benar-benar diterapkan secara konsisten.
Siklus pengelolaan program dapat dikembangkan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, monitoring, supervisi, evaluasi, pengendalian, dan tindak lanjut. Siklus tersebut memungkinkan sekolah melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Dari Edukasi Menuju Tata Kelola Sekolah.
Kegiatan PKM ini pada akhirnya tidak hanya memberikan edukasi mengenai self harm, tetapi juga memberikan dasar bagi penguatan tata kelola sekolah. Pengetahuan guru menjadi lebih bermakna ketika didukung oleh sistem pengawasan yang mampu memastikan penerapan, evaluasi, dan tindak lanjut.
Sekolah diharapkan dapat mengembangkan hasil kegiatan melalui penyusunan prosedur internal, penguatan peran guru BK, monitoring berkala, dokumentasi dan pelaporan yang tepat, serta pengembangan jejaring dengan orang tua dan tenaga profesional.
Dengan demikian, kegiatan PKM dapat memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan. Edukasi tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari sistem manajemen sekolah dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, responsif, dan mendukung perkembangan peserta didik.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa penguatan kapasitas guru dan manajemen pengawasan merupakan dua unsur yang saling melengkapi. Guru membutuhkan pengetahuan dan keterampilan untuk merespons permasalahan siswa, sementara sekolah membutuhkan sistem pengawasan untuk memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan tersebut diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan.






