Menu

Dark Mode
Ide Keren dan Kreatif, Bantuan Makan Sahur di Depok 20 Alasan Warga Nyaman Tinggal di Kota Depok Santika Hotel Depok Kenalkan Menu Malaysia Kota Depok Masuk Zona Rawan Narkoba Duh! Ada 3700 Perceraian Di Depok Selama 2016, Media Sosial Menjadi Penyebab Utama

Ragam

Terlibat Tawuran Bukti Labilnya Kejiwaan Remaja

badge-check


					ilustrasi (istimewa) Perbesar

ilustrasi (istimewa)

DepokNews- Masih seringnya remaja yang terlibat adu jotos hingga menyebabkan kematian itu menandakan labilnya mereka secara kejiwaan. Karena pada dasarnya, remaja itu berada pada proses pencarian identitas.
Sebagian remaja ‘menemukan’ identitasnya dengan kegiatan positif seperti berorganisasi (OSIS), berprestasi di berbagai ekstra kurikuler baik olahraga, seni, sosial kemasyarakatan, ilmiah dan sebagainya. Serta sebagian lagi menjAdi remaja yang berprestasi di bidang akademik misalnya menjadi juara kelas, lomba matematika dan lainnya.
Namun sayang tidak semua siswa berkesampatan untuk mengarahkan energinya dalam mencari identitas dengan positif.
“Yang sebagian ini lebih mencari identitas diri dengan cara yang kadang tidak masuk akal bagi orang dewasa seperti tawuran,” kata psikolog Universitas Pancasila (UP) Aully Grashinta, Ahad (26/11).
Tawuran sebenarnya adalah ajang menunjukkan eksistensi. Begitu juga ‘duel maut’ ini yang menyebabkan seorang pelajar tewas di Bogor. Mereka bertinda demikian karena pemikiran mereka tidak panjang. Mereka hanya memikirkan yang penting tampil dan menemukan ‘kebanggaan’ diri. Mereka tidak berpikir lebih jauh atas konsekuensi yang mungkin terjadi.
“Mulai luka, patah tulang, hingga kematian,” tukasnya.
Mereka juga lebih mengedepankan prinsip trial and error. Artinya kalau belum merasakan sendiri konsekuensinya mereka tidak lansung percaya. Ini juga salah satu bentuk ‘rebel’ pada usia remaja.
Karenanya pada usia ini pendampingan dan pengawasan ortu, sekolah, maupun lingkungan masyarakat yang lebih luas tetap tidak boleh dikurangi dibandingkan masa anak-anak sebelumnya.
“Hanya saja cara pengawasannya yang bisa berbeda,” ungkapnya.
Kenakaan remaja ini disebut juvenille deliquence. Hal ini terjadi di mana dorongan emosi belum dapat dikendalikan dengan baik. Serta kemampuan berpikir abstrak akan konsekuensi logis juga belum berkembang optimal.
“Sehingga keputusan yang diambil menjadi seringkali kurang tepat dan membahayakan baik untuk diri sendiri maupun orang lain,” pungkasnya.(mia)
Facebook Comments Box

Read More

STT NF Terapkan Game Web untuk Pembelajaran Numerasi

4 July 2026 - 06:16 WIB

Hj. Iin Nur Fatinah Gelar Pengawasan Pemerintah Bersama Pembina dan Guru Ngaji di Sukmajaya

29 June 2026 - 11:52 WIB

Hj. Iin Nur Fatinah Bersama Gema Keadilan Gelar “Panggung Keren”, Padukan Edukasi dan Pelestarian Budaya Betawi-Melayu

29 June 2026 - 11:42 WIB

Hj. Iin Nur Fatinah Gelar Agenda Pengawasan Pemerintah Bersama Pengurus Organisasi Kecamatan Pancoran Mas

29 June 2026 - 11:38 WIB

KEGIATAN ABDIMAS : PEMBERIAN PENYULUHAN PERAN MEDIA SOSIAL SEBAGAI “PENGHASIL CUAN” PADA PENJUALAN ONLINE BAGI SISWA YAYASAN BINA INSAN MANDIRI DEPOK

29 June 2026 - 11:31 WIB

Trending on Pendidikan