DepokNews – Ahmad Syihan Ismail, tokoh muda Depok menjadi khatib salat iduladha yang digelar di Masjid Miftahul Jannah RW 019 Sukmajaya, Depok (29/06/2023).
Ahmad Syihan menyampaikan bahwasannya kehadiran umat islam untuk melaksanakan shalat iduladha di pagi hari ini bersamaan dengan kehadiran dua juta lebih jamaah haji yang telah selesai melaksanakan ibadah haji, tidak hanya jamaah dari Indonesia namun dari seluruh penjuru dunia.
“Semua ini karena nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada kita, yakni nikmat iman dan Islam. Hari ini kita kenang kembali manusia agung yang diutus oleh Allah SWT untuk menjadi nabi dan rasul, yakni Nabi Ibrahim AS. beserta keluarganya Ismail AS, dan Siti Hajar,” kata Bang Syihan sapaan akrab Ahmad Syihan
Dirinya menambahkan, keagungan pribadi Nabi Ibrahim AS beserta keluarganya membuat kaum muslim bahkan Rasulullah SAW mencontoh keteladanan Nabi Ibrahim AS beserta keluarga.
Allah SWT berfirman: (Al-Mumtahanah: 4)
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang
yang bersama dengannya…”
Ahmad Syihan menyampaikan dalam khutbah tersebut hikmah yang dapat dipetik dari pelaksanaan ibadah haji dan kurban. Ahmad Syihan menjelaskan setidaknyavada empat hal yang merupakan isyarat untuk kaun muslimim dalam melakukan kehidupan bermasyarakat.
Inilah 4 Pesan Ahmad Syihan:
1 . Belajar dari profil kehidupan Nabi Ibrahim AS membuat kita harus memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kesinambungan generasi penerus yang lebih baik untuk kebaikan bermasyarakat.
Hal ini karena ketika usia Nabi Ibrahim AS. sudah semakin tua, kerinduannya pada generasi pelanjut perjuangan menjadi semakin besar.
Ia pun terus berdoa agar Allah SWT menganugerahkan kepadanya keturunan yang saleh.
Kondisi generasi muda kita sekarang boleh dibilang cukup memperihatinkan. Kasus-kasus pemerkosaan, pembunuhan, perkelahian, narkoba, AIDS, dan berbagai kasus kriminal lainnya adalah kasus-kasus
yang banyak dilakukan oleh generasi muda.
Oleh karena itu, yang harus kita ingat bahwa anak merupakan anugerah sekaligus amanah. Disebut anugerah karena manusia tidak mampu dan tidak akan bisa menciptakan anak. Sebagai orang tua kita harus ingat bahwa anak itu bukan buatan kita.
Kita hanyalah sebab bagi lahirnya sang anak. Karena itu, tidak sedikit suami istri yang sudah lama berumah tangga dan mendambakan lahirnya sang anak, namun belum juga lahir anak yang didambakan itu.
Karena, anak itu bukan ia yang mencipta. Di samping itu, tidak sedikit orangtua yang menginginkan punya anak laki-laki, tapi yang lahir ternyata perempuan. Atau menginginkan anak perempuan,
tapi yang lahir justru anak laki-laki.
Begitulah seterusnya. Sebagai anugerah dari Allah SWT, maka setiap orangtua harus mensyukuri kehadiran sang anak, apa pun jenis kelaminnya dan bagaimana pun keadaan anak itu.
Hal lain yang harus mendapat perhatian kita dalam kaitan dengan anak sebagai generasi pelanjut bahwa anak haruslah dididik dengan sebaikbaiknya, karena merekalah yang melanjutkan estafet kehidupan bermasyarakat.
Kita harus memastikan masa depan masyarakat Indonesia yang nota bene adalah anak-anak kita merupakan generasi unggul, bermental kuat, kemandirian yang tinggi, siap berkompetisi secara global, dan memiliki harga diri yang baik untuk menegakkan kebaikan.
Sebagai seorang ibu, Siti Hajar memberikan perhatian kepada anaknya, Ismail, dengan begitu baik.
Sehingga, meskipun ia harus mencari rezeki yang dalam hal ini adalah mencari air, ia pergi hingga ke bukit Shafa. Namun, ia khawatir pada anaknya.
Maka, ia pun berjalan Kembali untuk melihat anaknya. Ketika dilihat anaknya dalam keadaan baik, ia pun menuju Marwa. Inilah yang kemudian disebut dengan sa’i dari Shafa ke Marwa.
Untuk bisa melahirkan generasi yang saleh, ada pengorbanan dari orang tua yang harus berikhtiar untuk saleh terlebih dahulu. Hal ini karena mendidik anak harus dimulai dengan keteladanan yang baik. Tidak bisa orangtua mendambakan anaknya menjadi saleh bila ia sendiri tidak saleh.
Tidak bisa tidak. Karenanya, bagaimana mungkin orang tua bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, kalau ia tidak bisa memberi contoh yang baik.
2 . Hikmah yang harus kita tangkap dari profil Nabi Ibrahim dan keluarganya, serta dari ibadah haji yang harus ditunaikan dan Ibadah Qurban oleh kaum Muslimin minimal sekali seumur hidupnya adalah menjauhi segala bentuk keburukan dan melakukan segala bentuk kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat
Kaitan ibadah haji bukan hanya bagi mereka yang sedang atau sudah menunaikan ibadah haji, tapi seluruh kaum Muslimin terkait dengannya.
Karenanya, kemarin kita disunnahkan untuk berpuasa Arafah yang terkait langsung dengan wuquf di Arafah bagi sekitar dua juta lebih jamaah haji.
Oleh karena itu, bila ibadah haji yang hanya berlangsung beberapa hari para jamaah harus membekali dirinya dengan ketakwaan kepada Allah SWT, apalagi dengan kehidupan kita yang berlangsung bertahun-tahun.
Allah SWT berfirman, (Al-Baqarah:197)
“(Musim) haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai
orang-orang yang mempunyai akal sehat!” ( Al-Baqarah:197)
Takwa yang menjadi bekal untuk menjalani kehidupan ini merupakan sesuatu yang sangat penting. Karenanya, takwa harus selalu melekat dalam jiwa setiap Muslim.
Itu sebabnya takwa disebut dengan istilah libasut taqwa (pakaian takwa), karena takwa menjadi pakaian rohani manusia. Sedangkan ke mana pun pergi, bahkan di mana pun manusia berada, ia harus selalu menggunakan pakaian secara jasmaniah seperti baju, celana, gamis, sarung, dan sebagainya. Namun, pakaian yang paling baik adalah takwa.
Karenanya, menjadi tidak penting, meskipun pakaian jasmani yang dimiliki dan dikenakannya sangat bagus dengan harga yang sangat mahal sekalipun, atau jabatan mentereng dengan pangkat tinggi, manusia menjadi tidak ada apa-apanya di hadapan Allah jika tidak bertakwa dalam hidupnya di dunia ini.
Dalam kondisi masyarakat dan bangsa yang sulit, seharusnya ketakwaan diperkokoh. Karena, dengan ketakwaan akan ada jalan keluar dari setiap persoalan, termasuk persoalan ekonomi, pertahanan dan keamanan, sosial, dan pendidikan.
Sedangkan bila banyak urusan yang sulit dilaksanakan, maka Allah SWT akan memudahkannya.
3 . Hal yang menjadi pelajaran dari profil Nabi Ibrahim AS dan keluarganya adalah keharusan mempertahankan idealisme sebagai seorang mukmin yang selalu berusaha untuk berada pada jalan hidup yang benar dengan bagaimanapun situasi serta kondisinya.
Begitulah memang yang telah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim AS dan keluarganya dengan hujjah, argumentasi, atau alasan yang kuat.
Dalam sejarah Nabi Ibrahim kita dapati beliau menghancurkan berhala-berhala yang biasa
disembah oleh masyarakat di sekitarnya. Saat itu Ibrahim adalah seorang anak remaja.
Firman Allah SWT, (Al-Anbiyaa’: 58-60)
“Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya); agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, ‘Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zhalim.’ Mereka (yang lain) berkata,”Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala
ini), namanya Ibrahim.” (Al-Anbiyaa’: 58-60)
Untuk mempertahankan idealisme itu, Ibrahim bahkan siap untuk terus berjuang dan hingga harus berjuang di tempat lain. Ia menyebut dirinya sebagai orang yang pergi kepada Allah SWT, Tuhannya Yang Esa. Dalam hal ini Nabi Ibrahim menyatakan di hadapan orang-orang kafir
Firman Allah SWT, (Ash-Shaaffaat: 99)
“Dan dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada
Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Ash-Shaaffaat: 99)
Oleh karena itu, idealisme yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim AS. tidak hanya saat ia masih muda belia. Tetapi, bandingkanlah dengan suatu peristiwa yang amat menakjubkan, saat Ibrahim diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya, Isma’il.
Saat itu Ibrahim sudah sangat tua, sedangkan Isma’il adalah anak yang sangat didambakan sejak lama. Maka, Ibrahim pun melaksanakan perintah Allah SWT yang terasa lebih berat dari sekadar menghancurkan berhala-berhala di masa mudanya.
Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibrahim memiliki idealisme dari muda sampai tua.
Semangat menjaga nilai kebenaran tersebut sebaiknya dapat djiwai dalam kehidupan bermasyarakat.
Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang di dalamnya senantiasa menjalankan kebaikan-kebaikan yang tidak hanya dilakukan saat di Masjid ataupun di Majlis Taklim.
Tapi juga dijalankan dalam melaksanakan ketertiban bermasyarakat seperti membuang sampah pada tempatnya, rajin iku, kerja bakti, tertib berkendara dan berlalu-lintas, mendahului orang yang menyeberang jalan, dan lain sebagainya.
4 . Pelajaran dari profil Nabi Ibrahim AS dan keluarganya adalah waspada terhadap godaan-godaan setan serta keburukan.
Ini merupakan pelajaran penting dari sekian banyak hikmah dari kehidupan beliau dan keluarganya, serta dari ibadah haji dan perintah kurban yang dilaksanakan oleh kaum Muslimin.
Hal ini karena ketika manusia ingin menjadi Muslim yang sejati, kendala besar yang akan
dihadapinya adalah godaan-godaan setan.
Allah SWT Berfirman, (Al-Baqarah:208)
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan,
dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata
bagimu.” (Al-Baqarah:208)
Oleh karena itu, kewaspadaan dan perlawanan kita terhadap godaan setan harus selalu membara. Siti Hajar berusaha mengusir setan dengan menimpukinya, yang kemudian dilambangkan dalam ibadah haji dengan melontar.
Ini juga berarti setiap Muslim harus kuat permusuhannya kepada setan, meskipun harus dengan bersusah payah, sebagaimana jamaah haji mau bersusah payah saat melontar jumrah. Bahkan, melontar jumrah diakui oleh para jamaah haji sebagai rangkaian ibadah haji yang paling berat dengan risiko yang paling besar.
Untuk itulah, di dalam Islam kita sangat ditekankan untuk selalu berlindung kepada Allah SWT dari godaan dan gangguan setan dengan membaca ta’anuruudz.
Namun, yang amat disayangkan adalah banyak di antara kita ketika akan membaca AlQur’an berlindung kepada Allah dari gangguan setan, tapi terlupa ketika berdagang, ke kantorpun tidak membaca, untuk ke parlemen tidak, untuk ke istana tidak, untuk berumah tangga tidak, dan begitulah seterusnya.
Akhirnya, banyak sekali masalah yang tidak mampu diatasi atau diselesaikan secara baik. Sehingga, banyak orang yang mengatakan masalah itu sudah menjadi seperti lingkaran setan.
Padahal, memang setanlah yang berputar-putar dalam masalahmasalah itu. Meskipun demikian, dalam kehidupan di akhirat nanti setan tidak mau disalahkan oleh manusia. Tetapi, manusia itulah yang harus menyalahkan dirinya sendiri. Allah SWT menceritakan masalah ini dalam firman-Nya,
Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan.
Allah SWT Berfirman, (Ibrahim: 22)
“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan
kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongmu, dan kamupun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu, Sungguh, orang yang zhalim akan mendapatkan siksaan yang pedih,” (Ibrahim: 22)
Dari uraian khutbah kita yang singkat pada pagi ini, dapat kita simpulkan bahwa sebagai seorang muslim kita sangat dituntut untuk menunjukkan komitmen atau keterikatan kita kepada Allah SWT dengan nilai-nilai Islam yang telah diturunkanNya sebagai apapun kita dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Karenanya, Rasulullah SAW berpesan kepada kita agar selalu bertakwa kepada Allah SWT di manapun kita berada. Semoga keempat pelajaran dari Haji dan Qurban ini dapat kita jalankan, agar kita semua dapat mengimplementasikan perbaikan kehidupan bermasyarakat semakin soleh, rukun, nyaman, dan kondusif.






