Depoknews — Kesuksesan usaha mikro bukan semata ditentukan oleh ramainya pelanggan atau banyaknya produk yang terjual. Di balik kelangsungan sebuah bisnis, ada satu aspek fundamental yang sering kali luput dari perhatian pelaku usaha kecil, yaitu pencatatan keuangan.

Hal itu disampaikan oleh Coach Wahid Syafruddin, S.E., M.H., dalam seminar manajemen keuangan yang digelar di kantor Bank BJB Depok, belum lama ini. Di hadapan ratusan pelaku UMKM, Wahid menyampaikan bahwa disiplin dalam membuat laporan keuangan adalah syarat mutlak bagi keberlanjutan sebuah usaha.
“Banyak pelaku UMKM merasa usahanya ramai, omzet meningkat, tapi di akhir bulan justru bingung ke mana uangnya menghilang. Mereka pikir untung, padahal buntung,” kata Wahid dengan nada menekankan. Ia menambahkan, “Saya menghimbau teman-teman UMKM untuk mulai membuat laporan keuangan, dan menuliskannya secara konsisten. Dari catatan sederhana itu, banyak hal bisa dianalisis dan diidentifikasi seperti arus kas, efisiensi biaya, potensi kebocoran, hingga peluang ekspansi usaha.”
Wahid, yang telah lebih dari 5 tahun mendampingi pelaku UMKM, mengungkapkan bahwa persoalan keuangan bukan hanya soal angka, tetapi menyangkut budaya usaha. Banyak pelaku UMKM yang masih mencampuradukkan uang pribadi dengan uang usaha, tanpa ada pemisahan yang jelas. Akibatnya, kontrol keuangan menjadi lemah, dan usaha berjalan tanpa arah.
Ia menekankan, manajemen keuangan tidak selalu memerlukan sistem digital yang rumit. Cukup dengan buku kas sederhana, pemisahan rekening, dan evaluasi bulanan yang jujur. “Profesionalisme tidak diukur dari besar-kecilnya usaha, tetapi dari cara kita mengelolanya,” ujarnya.
*Nilai Spiritual dalam Pencatatan Keuangan*
Menariknya, Wahid juga mengaitkan disiplin pencatatan keuangan dengan nilai-nilai spiritual Islam. Ia mengutip Surat Al-Baqarah ayat 282, yang menyerukan pentingnya pencatatan dalam transaksi utang piutang sebagai bentuk transparansi dan perlindungan hak.
“Dalam maqāṣid syarī‘ah, pencatatan keuangan adalah bagian dari ḥifẓ al-māl, menjaga harta. Ini bukan sekadar aspek teknis, tapi manifestasi dari amanah,” jelasnya.
Sebagai penerima beasiswa LPDP dalam Program Kaderisasi Ulama Masjid Istiqlal, Wahid melihat peran ulama masa kini tidak lagi cukup hanya di mimbar. Ia meyakini bahwa ulama juga harus hadir dalam ruang-ruang ekonomi umat, memberi pencerahan dalam pengelolaan usaha, dan mendorong tumbuhnya ekosistem bisnis yang sehat dan berintegritas.
*Ketahanan Bisnis Dimulai dari Catatan*
Seminar yang dihadiri para pelaku usaha makanan, fesyen, dan jasa rumahan itu berlangsung dinamis. Beberapa peserta bahkan mengaku baru memahami pentingnya laporan keuangan dari sisi spiritual maupun teknis setelah mengikuti pemaparan Coach Wahid.
“Usaha kecil pun layak dikelola dengan profesional. UMKM adalah tulang punggung ekonomi nasional. Jika pelakunya tertib dan sadar finansial, maka kita tidak hanya menjaga usaha, tetapi juga merawat amanah,” pungkas Wahid.
Tentang Narasumber:
Coach Wahid Syafruddin, S.E., M.H. adalah pendamping UMKM, fasilitator Digital Marketing di CCIT FTUI, dan dosen tetap Ekonomi Syariah di Universitas Islam Depok Al-Karimiyah. Ia dianugerahi sebagai Pendamping UMKM Terbaik oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 2023. Saat ini, ia tengah menempuh program doktoral Ilmu Tafsir di PTIQ Jakarta melalui beasiswa LPDP—Program Kaderisasi Ulama Masjid Istiqlal.






