Oleh : Adzka Adnan Yahya
(Mahasiswa Teknik Industri Universitas Pamulang)
Bicara soal ekonomi Indonesia, sulit untuk melewatkan peran besar industri manufaktur. Sektor ini bukan hanya sekadar mesin penggerak produksi dan lapangan kerja saja, melainkan menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar bagi negara. Di balik angka-angka penerimaan pajak yang terus meningkat setiap tahun, manufaktur adalah motor penggerak utamanya.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, industri manufaktur nonmigas berkontribusi sebesar 27,4 persen terhadap total penerimaan pajak pada periode Semester I 2023 yang mencapai Rp970,20 triliun. Angka ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh industri pengolahan terhadap keuangan negara. Tanpa sektor ini, berkemungkinan stabilitas fiskal Indonesia akan terguncang.
Berawal dari Pabrik Tradisional Menuju Industri Modern
Kalau kita menoleh ke belakang, perjalanan industri manufaktur di Indonesia sudah dimulai sejak era 1980-an. Saat itu, fokus utama masih pada sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan sepatu. Produk Indonesia banyak menembus pasar ekspor, tapi nilai tambahnya masih terbatas.
Memasuki tahun 2000-an, arah industri mulai bergeser. Pemerintah mendorong sektor manufaktur naik kelas melalui program industrialisasi yang berbasis teknologi dan efisiensi. Perubahan besar mulai terasa saat “Making Indonesia 4.0” diluncurkan. Program ini menjadi peran penting dalam upaya digitalisasi dan otomatisasi industri.
Kini, pabrik bukan lagi sekadar tempat pekerja merakit produk. Banyak perusahaan mulai menerapkan sistem berbasis teknologi seperti robotik, kecerdasan buatan (AI), hingga Internet of Things (IoT) untuk mempercepat proses produksi.
Selain meningkatkan efisiensi, transformasi ini juga membuka peluang pajak baru melalui peningkatan produktivitas dan ekspor.
Penyumbang Pajak Terbesar: Makanan, Otomotif, dan Kimia
Dari sekian banyak sektor, industri makanan dan minuman masih mendominasi kontribusi pajak manufaktur. Nama-nama seperti Indofood, GarudaFood, dan Unilever menjadi pemain utama dengan jaringan produksi dan distribusi yang luas.
Selain itu, industri otomotif seperti Toyota dan Astra Group juga berperan besar melalui PPN kendaraan dan pajak korporasi.
Industri kimia, farmasi, dan logam dasar juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, terutama pasca-pandemi ketika kebutuhan bahan baku industri meningkat.
Faktor utama yang membuat kontribusi sektor ini tinggi ialah skala produksinya yang besar, investasi asing yang masif, dan rantai pasok yang panjang. Setiap tahap produksi dan distribusi menghasilkan nilai tambah dan tentu saja, potensi pajak bagi negara.
Pajak dan Pertumbuhan: Hubungan Dua Arah
Menariknya, hubungan antara pajak dan industri manufaktur bersifat timbal balik. Pajak menjadi sumber pendapatan negara yang menopang pembangunan, sementara kebijakan pajak yang tepat justru mendorong pertumbuhan industri itu sendiri.
Pemerintah memberikan sejumlah insentif fiskal seperti tax holiday, super deduction tax untuk riset dan pelatihan vokasi, hingga keringanan bea masuk bahan baku industri ekspor.
Kebijakan ini diharapkan dapat menarik investasi baru dan memperluas basis pajak di masa depan.
Namun, jalan tidak selalu mulus. Kerumitan regulasi perpajakan dan perubahan sistem ke arah digital membuat beberapa pelaku industri masih beradaptasi.
Meski demikian, digitalisasi pajak seperti e-faktur dan e-reporting juga membantu transparansi dan efisiensi pelaporan, yang pada akhirnya memperkuat penerimaan negara.
*Tantangan di Tengah Tekanan Global*
Industri manufaktur di Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan besar, seperti kenaikan harga energi dan bahan baku global membuat biaya produksi meningkat.
Sementara itu, persaingan dari produk impor terutama dari Tiongkok dan Vietnam menekan margin keuntungan.
Masalah lain datang dari sisi tenaga kerja. Industri modern membutuhkan SDM dengan keterampilan digital, namun ketersediaannya belum seimbang dengan kebutuhan pasar.
Selain itu, ketergantungan pada bahan baku impor membuat sektor ini rentan terhadap ketidakstabilan nilai tukar rupiah.
Semua tantangan ini tidak hanya berdampak pada kinerja industri, tetapi juga pada stabilitas penerimaan pajak nasional.
*Arah Baru dan Harapan ke Depan*
Meski penuh dengan tantangan, prospek industri manufaktur Indonesia tetap cerah.
“Lebih dari 10 juta tambahan lapangan pekerjaan tercipta pada 2030 dari kondisi saat ini. Selain itu, sektor manufaktur akan menjadi kontributor terbesar. Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB mencapai lebih dari 25% pada 2030,” ucap Menteri PPN/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro dalam keterangan tertulisnya, Jumat (26/7). Fokusnya bukan hanya memperbanyak pabrik, tetapi meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi.
Sektor-sektor baru seperti kendaraan listrik, energi terbarukan, dan produk ramah lingkungan menjadi fokus utama ke depan. Selain membuka lapangan kerja, sektor ini memiliki potensi pajak yang besar sekaligus mendorong ekonomi berkelanjutan.
*Kesimpulan*
Manufaktur bukan sekadar sektor produksi, ia adalah denyut nadi ekonomi Indonesia.
Kontribusinya terhadap pajak nasional membuktikan bahwa industri ini masih menjadi pemain utama dalam menjaga kestabilan fiskal dan pertumbuhan ekonomi.
Dengan transformasi digital, kebijakan fiskal yang fleksibel, dan SDM yang siap bersaing, Indonesia punya peluang besar untuk menjadikan sektor manufaktur bukan hanya kuat di dalam negeri, tapi juga disegani di pasar global.






