Menu

Dark Mode
Ide Keren dan Kreatif, Bantuan Makan Sahur di Depok 20 Alasan Warga Nyaman Tinggal di Kota Depok Santika Hotel Depok Kenalkan Menu Malaysia Kota Depok Masuk Zona Rawan Narkoba Duh! Ada 3700 Perceraian Di Depok Selama 2016, Media Sosial Menjadi Penyebab Utama

Pendidikan

Universitas Gunadarma Dorong Diversifikasi Produk Lewat Pertanian Terpadu di Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), Bogor

badge-check

Herik Sugeru, Evan Purnama Ramdan, Ratih Kurniasih

Depoknews- Bogor-Upaya penguatan sektor pertanian berbasis masyarakat terus digalakkan melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat. Salah satunya dilakukan oleh tim akademisi Universitas Gunadarma yang melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tajuk “Pengembangan Model Pertanian Terpadu di Masyarakat Singkong Indonesia (MSI)” yang berlokasi di Cilebut, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini dilakukan tanggal 10 Desember 2025.

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di lahan pertanian milik Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) dengan luas mencapai ±1 hektar, yang selama ini dikenal sebagai sentra budidaya singkong berbasis komunitas. Melalui pendekatan pertanian terpadu, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas pemanfaatan lahan, memperkuat ketahanan sistem produksi, serta membuka peluang diversifikasi hasil pertanian bagi anggota MSI.

Tim pengabdian Universitas Gunadarma kepada masyarakat ini terdiri dari Dr. Herik Sugeru, Dr. Evan Purnama Ramdan, dan Ratih Kurniasih, S.P., M.Sc., yang memiliki latar belakang keilmuan di bidang agroteknologi, pertanian cerdas dan presisi, pertanian organik, penyakit tanaman, ilmu tanah dan pengelolaan sistem budidaya berkelanjutan.

Gambar 1. Tim pengabdian bersama, mahasiswa magang, dan anggota MSI di lokasi kegiatan

Perencanaan dan Pemetaan Zonasi Lahan

Salah satu fokus utama kegiatan adalah pendampingan perencanaan pertanian terpadu, yang diawali dengan diskusi intensif bersama pengurus dan anggota MSI. Tim membantu menyusun konsep pengelolaan lahan berbasis zonasi, agar setiap bagian lahan dapat dimanfaatkan secara optimal sesuai fungsi dan karakteristiknya.

Melalui proses pemetaan zonasi, lahan MSI dibagi ke dalam beberapa area fungsional, seperti zona tanaman utama (singkong), zona tanaman pendukung, zona refugia, serta area penunjang kegiatan budidaya. Pendekatan ini diharapkan mampu mengurangi risiko kegagalan panen, meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan, serta menciptakan sistem pertanian yang lebih resilien.

Dr. Herik Sugeru menjelaskan bahwa model pertanian terpadu tidak hanya berorientasi pada satu komoditas, tetapi menekankan pada keterpaduan antar komponen pertanian, baik tanaman, hewan ternak, perikanan, lingkungan, maupun aspek sosial masyarakat.

Gambar 2. Pengerjaan model pertanian terpadu berupa blok-blok mix-cropping dipadukan dan kolam budidaya ikan mujair

“Dengan pemetaan zonasi yang baik, lahan dapat dikelola secara lebih terstruktur. Setiap zona memiliki fungsi yang saling mendukung, sehingga sistem pertanian menjadi lebih efisien dan berkelanjutan. Oleh karena itu, kami membantu membuatkan konsep sekaligus peta zonasi di kegiatan kali ini sebagai langkah awal untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya,” ujarnya.

Dukungan Tanaman Refugia untuk Ekosistem Pertanian

Selain perencanaan dan pemetaan, tim pengabdian juga memberikan bantuan bibit tanaman refugia kepada MSI. Tanaman refugia dikenal berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian, terutama sebagai habitat musuh alami hama.

Dr. Evan Purnama Ramdan, S.P., M.Si. menjelaskan bahwa kehadiran tanaman refugia di sekitar lahan pertanian dapat mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia. “Tanaman refugia membantu menciptakan ekosistem yang lebih sehat. Serangga menguntungkan dapat berkembang, sehingga pengendalian hama menjadi lebih alami,” jelasnya.

Tanaman refugia ini nantinya akan ditanam pada zona-zona tertentu yang telah ditetapkan dalam peta zonasi, sehingga mendukung konsep pertanian ramah lingkungan yang selaras dengan prinsip pertanian terpadu.

Gambar 3. Bibit tanaman refugia (bunga marigold) yang juga bernilai ekonomi

Diversifikasi Produk, Tidak Hanya Singkong

Sekretaris Jenderal MSI, Bapak Heri Soba, S.P., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan pengabdian ini. Menurutnya, pendampingan yang diberikan sangat membantu MSI, khususnya dalam mengefektifkan kegiatan budidaya pertanian terpadu di lahan yang dimiliki.

“Selama ini kami dikenal sebagai komunitas singkong. Namun dengan model pertanian terpadu ini, kami mulai melihat peluang diversifikasi produk, tidak hanya singkong, tetapi juga komoditas lain yang bernilai ekonomi,” ungkap Heri Soba.

Ia menambahkan bahwa pendekatan ini membuka wawasan baru bagi anggota MSI mengenai pentingnya perencanaan lahan dan integrasi berbagai jenis tanaman. Diversifikasi produk diharapkan dapat meningkatkan pendapatan anggota sekaligus memperkuat ketahanan pangan komunitas.

 Penguatan Kapasitas Masyarakat Berbasis Ilmu Pengetahuan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis budidaya pertanian, tetapi juga dirancang sebagai proses pembelajaran bersama yang bersifat edukatif dan partisipatif. Tim pengabdian secara aktif membangun dialog dua arah dengan anggota Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), sehingga kegiatan tidak berjalan secara satu arah, melainkan melibatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam proses pengembangan model pertanian terpadu. Melalui diskusi lapangan, pemaparan konsep, serta praktik langsung di lahan, anggota MSI diajak untuk memahami keterkaitan antara perencanaan lahan, pemilihan komoditas, dan keberlanjutan sistem pertanian yang mereka kelola.

Dalam kegiatan ini, tim pengabdian berbagi pengetahuan mengenai konsep dasar pertanian terpadu, yang menekankan pentingnya integrasi berbagai komponen pertanian dalam satu kesatuan sistem. Anggota MSI diperkenalkan pada pengelolaan lahan berkelanjutan, termasuk pemanfaatan ruang secara efisien, pengaturan zonasi tanaman, serta peran tanaman pendukung seperti refugia dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa produktivitas lahan tidak hanya ditentukan oleh intensitas budidaya, tetapi juga oleh kesehatan ekosistem secara keseluruhan.

Selain itu, kegiatan edukatif ini juga menjadi sarana peningkatan kesadaran akan pentingnya praktik pertanian ramah lingkungan. Anggota MSI diajak untuk melihat dampak jangka panjang dari penggunaan input pertanian yang berlebihan, serta manfaat penerapan sistem yang lebih alami dan berimbang. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengambil keputusan budidaya yang lebih tepat, baik dari sisi ekonomi maupun keberlanjutan lingkungan.

Ratih Kurniasih, S.P., M.Sc. menekankan bahwa penguatan kapasitas masyarakat merupakan kunci utama keberhasilan program pengabdian semacam ini. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan di lapangan, tetapi dari sejauh mana masyarakat mampu melanjutkan dan mengembangkan model yang telah diperkenalkan secara mandiri. “Kami ingin model yang dikembangkan tidak berhenti pada kegiatan ini saja, tetapi benar-benar dipahami dan dijalankan oleh masyarakat dalam jangka panjang. Dengan begitu, dampaknya akan lebih berkelanjutan dan memberi manfaat nyata bagi MSI,” jelasnya.

Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif ini, kegiatan pengabdian diharapkan dapat menjadi fondasi bagi penguatan kemandirian masyarakat dalam mengelola sistem pertanian terpadu, sekaligus mendorong terciptanya pertanian yang produktif, adaptif, dan berkelanjutan.

Harapan ke Depan

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) diharapkan dapat menjadi contoh penerapan model pertanian terpadu berbasis komunitas yang adaptif, produktif, dan berkelanjutan. Model yang dikembangkan tidak hanya menitikberatkan pada peningkatan hasil pertanian, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya secara efisien dan ramah lingkungan. Dengan memadukan perencanaan lahan, diversifikasi tanaman, serta penguatan ekosistem pertanian, MSI didorong untuk membangun sistem budidaya yang mampu beradaptasi terhadap berbagai tantangan, termasuk perubahan iklim dan keterbatasan lahan pertanian.

Sinergi antara akademisi dan masyarakat dinilai menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan pertanian modern. Kolaborasi ini memungkinkan transfer pengetahuan dan teknologi yang lebih tepat guna, sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola lahan secara mandiri. Kehadiran tim pengabdian berperan sebagai fasilitator yang membantu merumuskan konsep, sementara masyarakat menjadi pelaku utama dalam penerapan di lapangan.

Ke depan, model pertanian terpadu yang dikembangkan di MSI Cilebut diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain, baik oleh komunitas singkong maupun kelompok tani berbasis komoditas lainnya. Oleh karenanya kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sampai di sini melainkan berkesinambungan untuk pengembangan-pengembangan selanjutnya di MSI dan lokasi-lokasi lainnya. Dengan pendekatan terpadu dan kolaboratif, pertanian tidak hanya berfungsi sebagai sumber produksi pangan, tetapi juga sebagai wahana pemberdayaan masyarakat, peningkatan kesejahteraan, serta penguatan ketahanan pangan berbasis komunitas.

Facebook Comments Box

Read More

Aset vs Omzet vs Laba di Laporan Keuangan

31 January 2026 - 12:47 WIB

Lika-liku Aktivasi Akun Coretax WPOP Menjelang Pelaporan SPT Orang Pribadi Tahun Pajak 2025 di Tax Clinic – FEB UI

31 January 2026 - 08:35 WIB

Rasionalitas di Era “Jempol Gelisah”

30 January 2026 - 11:49 WIB

Penerapan IFRS 17 di ASEAN dan Dampaknya terhadap Kapasitas Asuransi Domestik: Pembelajaran bagi Pendidikan Ekonomi dan Akuntansi

29 January 2026 - 18:02 WIB

Penerapan IFRS 17 di ASEAN dan Dampaknya terhadap Kapasitas Asuransi Domestik: Pembelajaran bagi Pendidikan Ekonomi dan Akuntansi

29 January 2026 - 13:06 WIB

Trending on Pendidikan