DepokNews – Seperti tahun-tahun sebelumnya, lapangan masjid atau tempat lainnya yang disepakati menjadi tempat pemotongan hewan qurban, kembali jadi saksi ketaatan umat. Takbir berkumandang, hewan qurban disembelih, meneladani kisah agung Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS.
Moh.Hafid Nasir, akrab disapa Bang Hafid yang juga diamanahkan sebagai Ketua Fraksi PKS DPRD Depok menyambangi titik-titik qurban warga. Berqurban bersama, hadir sebagai undangan, sekaligus menguatkan silaturahmi dan
menguatkan ukhuwah.
Qurban bukan hanya soal menyembelih. Tapi soal berbagi, berdaya, dan merawat persatuan umat, jelas Bang Hafid.
Semoga qurban kita diterima Allah, dan terwujud Depok kota yang lebih peduli dan bersatu, lanjut Hafid.
Dalam kesempatan terpisah ada tiga hal yang disampaikan Bang Hafid sebagai bentuk pencerahan untuk kita dan khusus nya wagra Kota Depok :
1. “Qurban menyambungkan hati” Qurban memaksa kita keluar dari zona nyaman. Daging yang kita beli dengan uang sendiri, atas nama Allah, wajib kita bagikan. Di titik itu, status sosial hilang. Yang kaya menyembelih, yang miskin menerima, dan keduanya sama-sama berdoa di hadapan Allah. Qurban mengajarkan: peduli itu bukan hanya “merasa kasihan”, tapi “memastikan tetangga kita ikut merasakan nikmat yang kita nikmati”.
2. “Menyembelih diri sebelum menyembelih hewan”. Inti perintah ke Nabi Ibrahim bukan soal darah dan daging. Intinya : “Apa kamu sanggup melepaskan yang paling kamu cintai karena Aku?”. Qurban hari ini adalah latihan kecilnya. Kita “menyembelih” ego, pelit, gengsi, dan “aku lebih berhak”. Saat pisau turun, kita diingatkan : harta, jabatan, bahkan keluarga bukan milik kita seutuhnya. Semua titipan Allah. Kalau ego luruh, ruang di hati jadi lapang untuk Allah dan sesama.
3. “Dari 1 hewan, lahir banyak tangan yang bergerak”. Lihat prosesnya: panitia, jagal, pengepul, warga yang bungkus daging, relawan distribusi. Satu hewan qurban bisa menggerakkan puluhan orang. Yang mampu jadi muqorrib, yang terampil jadi tenaga, yang butuh jadi penerima manfaat. Semua punya peran. Inilah pemberdayaan paling dasar: tidak ada yang hanya “dikasihani”. Semua terlibat. Dari gotong royong itulah persatuan umat tumbuh. Beda mazhab, beda RT, beda latar belakang, tapi satu barisan saat memotong dan membagi. Qurban jadi jembatan.






