Oleh Sonya Oktaviana (Dosen FEB UI)
DepokNews–Awal tahun ajaran baru selalu menjadi saat yang cukup sibuk bagi hampir semua keluarga di Indonesia, terutama dalam mempersiapkan berbagai keperluan sekolah anak. Pemandangan aktivitas masyarakat di sekitar kita, para orang tua dan anak-anak pergi membeli berbagai kebutuhan sekolah. Aktivitas pendaftaran sekolah anak yang akan masuk ke sekolah baru, tentu menjadi suatu hal yang perlu menjadi perhatian keluarga dalam melakukan perencanaan keuangan. Pengeluaran keluarga di bulan Juli juga bersamaan dengan pengeluaran keluarga untuk liburan sekolah. Artikel ini akan membahas beberapa hal terkait perencanaan dan persiapan dana pendidikan anak sekolah, khususnya jenjang pendidikan SD, SMP, SMA.
Pada umumnya, biaya pendidikan anak di Indonesia cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Sekitar bulan Juni hingga Juli setiap tahun para orang tua melakukan pengeluaran yang cukup besar untuk pendidikan anak. Biaya-biaya tersebut meliputi biaya pendaftaran masuk sekolah (uang pangkal), pembelian berbagai keperluan sekolah seperti baju seragam, sepatu, tas, buku dan berbagai alat tulis, ditambah dengan berbagai kebutuhan pendukung seperti biaya transpor atau antar jemput anak sekolah, biaya katering/jajan/bekal makan siang anak. Melihat banyaknya jenis dan jumlah total pengeluaran maka penting bagi orang tua untuk mencatat berbagai keperluan tersebut dan membuat penjadwalan serta menentukan skala prioritas, pengeluaran mana yang perlu dibayarkan segera dan pengeluaran mana yang dapat ditunda.
Biaya pendidikan di Indonesia selalu mengalami kenaikan setiap tahun sehingga semestinya keluarga menempatkan anggaran pendidikan dalam prioritas utama. Namun, masih banyak keluarga yang agak kewalahan menjelang tahun ajaran baru. Hal ini disebabkan karena keluarga belum membuat rencana atau menyiapkan secara khusus dana pendidikan anak. Sebagian besar keluarga masih mengandalkan pendapatan bulanan untuk dana pendidikan, sementara sumber penghasilan lain seperti bonus akhir tahun, dan THR cenderung digunakan untuk pengeluaran selain pendidikan, misalnya memberi gadget baru, atau berlibur. Selain itu belanja keperluan sekolah di tahun ajaran baru sering diikuti dengan berbagai pengeluaran lain secara tidak terencana atau impulsif, misalnya ketika membeli tas, sepatu, dan alat tulis, keluarga juga membeli barang lain misalnya boneka atau mainan anak, asesoris hp, atau benda lainnya yang sebenarnya bukan prioritas dan dapat ditunda jika dana terbatas.
Untuk menyiapkan rancangan keuangan keluarga, dapat dimulai pertama dengan mencatat lalu membuat daftar jenis biaya dan pembayaran yang wajib dibayarkan orang tua terkait keperluan sekolah anak. Pengelompokan biaya ini dilakukan secara umum, melihat pada karakteristik dan kapan pembayaran tersebut dilakukan. Selanjutnya berbagai biaya tersebut dapat dimasukkan ke dalam dua (2) kelompok biaya, sebagai berikut:
(1) Kelompok Biaya Insidentil, biaya-biaya yang dibayarkan sekali saja/ tidak terulang selama 1 tahun ajaran, contoh biaya insidentil adalah uang pangkal/uang gedung pendaftaran sekolah, uang seragam termasuk baju olahraga, barang-barang lainnya yang dapat digunakan untuk setahun seperti baju khusus ekskul, tas, dan sepatu untuk keperluan sekolah dan ekskul, biaya bimbingan belajar (bimbel), biaya kegiatan sekolah berupa study tour atau kegiatan lainnya di luar sekolah;
(2) Kelompok Biaya Rutin, biaya yang dibayarkan secara rutin dan berulang setiap bulan, setiap pekan, atau setiap hari selama 1 tahun ajaran. Contoh biaya rutin adalah biaya SPP, biaya makan minum anak di sekolah, transpor atau antar jemput anak sekolah, biaya ekstra kurikuler sekolah anak, pembelian buku dan alat tulis (bersifat habis pakai). Jenis biaya lainnya yang tidak boleh luput dari rencana keuangan keluarga adalah iuran kas komite sekolah/kelas.

Setelah mendata semua biaya keperluan sekolah, selanjutnya menyiapkan sumber pendapatan untuk membayar berbagai biaya tersebut, baik dari gaji bulanan maupun dari sumber lainnya misal dari bonus, THR, atau sumber lainnya. Saat ini di era informasi, pembelian perangkat digital pendukung kegiatan belajar seperti handphone, laptop, dan Ipad/Tab, juga merupakan hal yang umum dilakukan untuk keperluan pendidikan anak. Biaya ini dapat dimasukkan ke dalam kelompok Biaya Insidentil. Pembelian perangkat digital dapat dilakukan secara cicilan, sehingga memudahkan orang tua menyiapkan dana dari gaji bulanan.
Dalam menyusun anggaran pendidikan perlu dihitung secara total, yaitu jika sebuah keluarga memiliki anak lebih dari satu maka biaya pendidikan dihitung untuk seluruh anak yang sudah bersekolah. Hal penting lainnya adalah perencanaan biaya pendidikan anak cukup dipengaruhi oleh kelas sosial siswa sekolah. Sebelum menentukan sekolah anak perlu dilihat adanya biaya lainnya seperti iuran koordinasi kelas (korlas) yang wajib dibayar setiap bulan. Umumnya semakin elite suatu sekolah maka iuran kelas juga akan semakin tinggi. Selain itu perlu disiapkan anggaran untuk berbagai biaya dalam pergaulan sosial anak dan wali murid, misalnya undangan acara teman berulang tahun, maka perlu menyiapkan kado dan biaya lainnya misalnya untuk membeli baju sesuai tema dresscode.
Menyiapkan dana pendidikan anak didasari dengan pemahaman pentingnya pendidikan berkualitas untuk masa depan anak. Sebagai suatu bentuk investasi orang tua serta bentuk kasih sayang kepada anak maka penting bagi orang tua untuk melakukan perencanaan yang baik untuk pendidikan anak. Orang tua dengan penghasilan tetap atau penghasilan non tetap (misalnya dari usaha/dagang) tetap dapat menyiapkan dana pendidikan dengan kedisiplinan menabung, dan mengelola belanja keluarga dengan baik, misalnya mengurangi/menunda pengeluaran yang non prioritas, misalnya pengeluaran untuk berlibur atau biaya makan di luar rumah. Kedisiplinan menabung secara jelas, akan lebih menjaga keamanan dana pendidikan anak daripada menunggu peningkatan pendapatan keluarga. Dimulai dengan menyisihkan dana setiap bulan, dilakukan di 3 tahun sebelum anak mendaftar sekolah, lalu dana sekolah anak sebaiknya disimpan di rekening terpisah dari rekening yang biasa digunakan untuk belanja harian atau bulanan. Setelah jumlahnya cukup besar, misalnya setiap 6 bulan dana tersebut dapat disimpan dalam bentuk deposito di bank, sehingga lebih aman dari digunakan untuk keperluan lainnya.
Dalam situasi keuangan keluarga kurang memadai, misal berkurangnya penghasilan bersih orang tua maka sebaiknya orang tua melakukan adaptasi pada beberapa hal misal beralih ke sekolah dengan uang pangkal dan SPP lebih ringan atau memilih sekolah negeri, opsi antar jemput oleh orang tua sendiri, membawakan bekal anak daripada katering sekolah, dan lainnya. Untuk mencukupi kurangnya dana pendidikan, sebaiknya keluarga tidak menggunakan opsi pinjaman konsumtif karena pada dasarnya setiap pinjaman akan menimbulkan biaya tambahan berupa bunga, serta membutuhkan pelunasan pada waktunya. Penggunaan pinjaman cenderung dapat menimbulkan masalah baru dalam keuangan keluarga, serta menimbulkan tekanan psikologis.
Beberapa tips dalam menghemat pengeluaran di tahun ajaran baru, adalah orang tua dapat membeli perlengkapan sekolah di awal libur tahun ajaran, orang tua dapat memanfaatkan promo toko atau potongan harga secara bijak. Opsi berhemat paling utama adalah berusaha menggunakan kembali peralatan sekolah yang masih layak dipergunakan, misalnya tas dan sepatu. Jika kondisi tas masih cukup bagus, atau ukuran dan kondisi sepatu masih cukup layak, tentunya opsi ini dapat dipilih. Sebelum berbelanja keperluan sekolah di tahun ajaran baru, orang tua perlu membandingkan harga barang di beberapa toko, tentunya setelah membuat list barang apa yang perlu dibeli. Penting sekali untuk selalu memahami bahwa barang yang dibeli sesuai dengan kebutuhan, dan bukan sekedar keinginan. Dalam menentukan prioritas belanja orang tua perlu untuk mengedukasi anak dengan baik, karena umumnya anak memahami bahwa di tahun ajaran baru semua barang keperluan sekolah akan dibeli atau diganti baru. Sebaiknya orang tua memberi contoh dan mengarahkan anak agar tidak membeli barang yang kurang diperlukan, meski barang tersebut dijual dengan potongan harga. Jika ada kelebihan dana dari total belanja, maka orang tua dapat memberi bonus belanja anak misalnya membelikan mainan, atau benda lain yang diinginkan.
Hal lain yang perlu diantisipasi dalam menyiapkan anggaran biaya sekolah anak, adalah kemungkinan terjadi penurunan jumlah penghasilan bersih orang tua. Total penghasilan diartikan sebagai total gabungan penghasilan bersih ayah dan ibu. Penghasilan bersih adalah total penghasilan dikurangi berbagai biaya yang dibayarkan ayah dan ibu dalam perjalanan menuju tempat kerja hingga kembali ke rumah sepulang bekerja, yaitu biaya transpor, biaya makan/minum, biaya lainnya. Dalam situasi ekonomi yang kurang pasti, sebaiknya orang tua menyiapkan skenario kedua, yaitu situasi jika salah satu orang tua kehilangan pekerjaan tetap. Jika hal itu terjadi, perlu dihitung ulang berapa jumlah dana yang tersedia untuk biaya sekolah anak, tentunya dengan melihat jumlah tabungan keluarga. Hal ini menurut saya perlu dilakukan, karena di beberapa kasus nyata, ketika keluarga mengalami penurunan penghasilan bersih (baik disebabkan oleh orang tua terkena PHK atau pencari nafkah utama meninggal), anak terpaksa dipindahkan ke sekolah lain dengan SPP yang lebih ringan, namun ada konsekuensi berupa membayar kembali uang pangkal dan biaya lainnya seperti seragam baru dan lainnya, serta proses adaptasi anak dengan sekolah baru, yang tidak selalu berjalan dengan mudah.
Menyadari bahwa tahun ajaran baru akan selalu datang setiap tahun, maka setiap keluarga perlu untuk mengantisipasi dengan mulai menyisihkan sebagian penerimaan secara rutin jauh sebelum tahun ajaran baru. Secara teknis, menyisihkan dana setiap bulan akan menjadikan beban pengeluaran pendidikan menjadi lebih ringan. Dengan mempersiapkan rencana keuangan untuk pendidikan, maka keuangan keluarga akan lebih stabil untuk memenuhi aneka pengeluaran pendidikan. Perencanaan keuangan tidak mesti menunggu keluarga memiliki pendapatan besar, melainkan justru merencanakan keuangan berarti mengelola pendapatan yang ada secara bijaksana sesuai prioritas dan waktu. Dengan perencanaan yang baik, besarnya pengeluaran pendidikan dapat dikelola dengan cerdas, tanpa mengganggu kondisi keuangan keluarga.






