DepokNews — Indonesia sudah berulangkali menegaskan tidak memiliki sengketa dengan China di Laut Natuna Utara, namun aktivitas sejumlah kapal ikan dan patroli China di ZEE Indonesia di sekitar Natuna menjadi persoalan perhatian. Menurut Edy Prasetyono, Ph.D., letak geografis wilayah Indonesia yang berada di gugusan perairan Laut Natuna Utara, menjadikan Indonesia sebagai salah satu medan adu pengaruh dan perang strategi Amerika Serikat dan China.

Dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Hubungan Internasional, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI) tersebut menyampaikan tentang hal itu di hadapan puluhan dosen Seskoal yang melakukan studi banding ke FISIP UI pada (20/01).

Selain perkenalan tentang FISIP UI, proses belajar-mengajar serta sistem akademis, studi banding diisi dengan kegiatan kuliah umum tentang Konflik Laut Natuna Utara ditinjau dari sisi politik, diplomasi, ekonomi dan hukum di Balai Sidang UI, Kampus Depok. Acara itu kemudian dilanjutkan dengan diskusi antara Laksamana Pertama TNI Judijanto, S.T, M.Si, M.A., dari Seskoal dan Edy Prasetyono dari FISIP UI.

Edy menjelaskan Amerika Serikat menyadari posisi Indonesia yang sangat strategis. “China mempunyai kepercayaan yang tinggi dan persepsi Amerika Serikat is in decline. Amerika Serikat mempunyai pandangan bahwa China adalah salah satu strategic competitor yang mengancam posisi Amerika Serikat,” kata Edy.

Ia mengatakan bahwa strategi Amerika Serikat adalah beraliansi bilateral maupun multilateral dengan negara-negara besar dan konsepsi yang military heavy. Sedangkan China menekankan pragmatisme hubungan ekonomi, kerja sama pembangunan infrastruktur, dukungan politik serta penguatan militer di Laut Natuna Utara.

Laksamana Pertama TNI Judijanto memaparkan bahwa pada Januari 2020 puluhan kapal ikan milik China yang dikawal dengan kapal penjaga pantai dan kapal fregat pemerintah China, menerobos masuk ke wilayah ZEE lndonesia di perairan Laut Natuna Utara.

Selain itu, situasi rawan konflik Laut Natuna Utara, meningkat hingga menuju titik krisis karena negara-negara di kawasan yang menentang klaim sepihak dari China, akan berlomba meningkatkan kekuatan pertahanan militernya.

“Dominasi China atas wilayah Laut Natuna Utara dapat membantu China melakukan satu atau lebih hal, seperti mengendalikan operasi penangkapan ikan dan kegiatan eksplorasi minyak dan gas di Laut Natuna Utara serta memaksa, mengintimidasi, maupun memberikan tekanan politik kepada negara lain yang berbatasan dengan Laut Natuna Utara,” kata Judijanto.

Lebih lanjut Judijanto menjelaskan, ada beberapa fakta permasalahan yang masih terjadi di perairan Natuna Utara, diantaranya belum terselesaikannya konflik terkait ZEE dan landasan kontinen, adanya kegiatan penangkapan ikan, serta China melakukan protes terhadap kegiatan eksplorasi migas Indonesia.

Dalam konflik di Laut Natuna Utara, klaim tersebut tumpang-tindih dengan wilayah perairan dan ZEE sejumlah negara ASEAN seperti Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Sementara Amerika Serikat menjadi negara yang aktif menentang klaim dan aksi sepihak China.