Dilema Lahan Pertanian di Pancoran Mas: Urbanisasi vs Nasib Petani Milenial Depok
Foto: Fahry Samalewa / Pexels
Metro Depok

Dilema Lahan Pertanian di Pancoran Mas: Urbanisasi vs Nasib Petani Milenial Depok

2 hours laluOleh Abu Dandan

Pagi di Pancoran Mas tidak lagi selalu dimulai dengan suara traktor atau aroma tanah basah. Di beberapa sudut kecamatan ini, yang lebih dulu terdengar adalah deru kendaraan dan bunyi palu proyek pembangunan. Di tengah wajah kota yang terus berubah, lahan pertanian yang tersisa menjadi saksi bisu pergeseran besar: urbanisasi yang cepat berhadapan dengan nasib petani milenial Depok.

Pancoran Mas dikenal sebagai salah satu kecamatan padat di Kota Depok. Aksesnya dekat dengan pusat pemerintahan, stasiun, kampus, dan kawasan komersial. Kondisi ini membuat harga tanah melesat, sementara jumlah petani yang menggarap lahan justru menyusut. Pertanyaannya, sampai kapan pertanian di kawasan ini bisa bertahan?

Ketika Sawah Berganti Ruko dan Perumahan

Perubahan tata guna lahan di Pancoran Mas bukan hal baru. Dalam satu dekade terakhir, banyak bidang tanah pertanian beralih fungsi menjadi perumahan, ruko, kos-kosan, hingga lahan komersial. Tekanan ekonomi membuat sebagian pemilik lahan memilih menjual tanahnya daripada melanjutkan bertani.

Bagi pemilik lahan, menjual tanah sering dianggap pilihan paling rasional. Harga tanah yang tinggi dalam sekejap bisa mengubah hidup. Namun bagi warga yang selama ini menggantungkan hidup dari bertani, perubahan itu memutus mata pencaharian dan tradisi yang sudah berjalan lintas generasi.

Beberapa dampak yang terlihat di lapangan antara lain:

  • Berkurangnya luas lahan produktif untuk padi, sayur, dan tanaman pangan lain.
  • Hilangnya ruang terbuka hijau yang berfungsi menyerap air dan menjaga suhu kawasan.
  • Meningkatnya ketergantungan pada pasokan pangan dari luar kota.
  • Bergesernya pekerjaan warga dari sektor pertanian ke jasa, dagang, dan industri.

Di sisi lain, urbanisasi membawa manfaat nyata: lapangan kerja, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang lebih lengkap. Dilemanya bukan sekadar memilih antara kota atau sawah, melainkan bagaimana keduanya bisa hidup berdampingan tanpa saling menghapus.

Siapa yang Dimaksud Petani Milenial Depok?

Istilah petani milenial merujuk pada generasi muda yang menggeluti pertanian dengan cara baru. Mereka biasanya memanfaatkan teknologi, media sosial, dan pendekatan usaha yang lebih modern. Di Depok, termasuk Pancoran Mas, kelompok ini muncul meski jumlahnya belum besar.

Alih-alih menggarap sawah luas, banyak petani milenial memilih pertanian perkotaan seperti hidroponik, aquaponik, budidaya microgreen, atau tanaman buah dalam pot. Lahan sempit di pekarangan, atap rumah, dan lahan kosong dimanfaatkan secara produktif.

Mereka juga lebih luwes dalam pemasaran. Hasil panen dijual lewat media sosial, aplikasi pesan, hingga komunitas warga. Ada pula yang mengembangkan wisata edukasi pertanian dan kafe kebun sebagai sumber pendapatan tambahan.

Namun, menjadi petani milenial di kota besar tidak mudah. Tantangan yang mereka hadapi cukup berlapis:

  1. Harga dan ketersediaan lahan yang tidak ramah untuk usaha pertanian skala kecil.
  2. Status lahan yang sering tidak jelas, misalnya tanah sewa, tanah wakaf, atau lahan yang menunggu proyek.
  3. Akses modal terbatas, karena perbankan masih melihat pertanian sebagai sektor berisiko tinggi.
  4. Citra sosial bahwa bertani bukan pekerjaan bergengsi bagi anak muda.
  5. Kurangnya pendampingan teknis dan jejaring pasar yang stabil.

Meski begitu, semangat mereka memberi harapan baru. Pertanian di kota tidak lagi identik dengan lumpur dan cangkul, tetapi bisa menjadi gaya hidup sekaligus peluang usaha.

Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Menjaga Lahan Pertanian

Menjaga lahan pertanian di tengah kota bukan berarti menolak pembangunan. Yang dibutuhkan adalah perencanaan yang seimbang. Pemerintah Kota Depok memiliki sejumlah instrumen yang bisa dimanfaatkan, mulai dari tata ruang, insentif fiskal, hingga program pemberdayaan petani.

Beberapa langkah yang relevan untuk Pancoran Mas antara lain:

  • Menetapkan lahan pertanian berkelanjutan agar tidak mudah dialihfungsikan.
  • Memberi insentif bagi pemilik lahan yang tetap mempertahankan fungsi pertanian.
  • Mengembangkan urban farming di lahan tidur, bantaran, dan fasilitas umum.
  • Mempermudah akses modal dan pelatihan bagi petani muda.
  • Membangun pasar lokal agar hasil panen terserap warga sekitar.

Masyarakat juga punya peran penting. Membeli produk pertanian lokal, mendukung komunitas kebun warga, dan terlibat dalam edukasi pangan bisa menjadi cara sederhana menjaga denyut pertanian kota. Kolaborasi antara warga, petani milenial, akademisi, dan pemerintah akan jauh lebih efektif daripada bekerja sendiri-sendiri.

Yang perlu diingat, pertanian perkotaan tidak hanya soal produksi pangan. Ia juga menyangkut ketahanan pangan, lingkungan, dan identitas budaya. Ketika lahan hijau hilang, risiko banjir dan panas kota meningkat. Ketika petani muda kehilangan ruang, pengetahuan bertani pun ikut terancam punah.

Kesimpulan: Menimbang Kota, Menjaga Petani

Dilema lahan pertanian di Pancoran Mas adalah cermin dari pertumbuhan Kota Depok secara keseluruhan. Urbanisasi tidak bisa dibendung, tetapi bukan berarti pertanian harus ditinggalkan. Petani milenial Depok menunjukkan bahwa bertani bisa tetap relevan di tengah kota modern, asalkan ada ruang, dukungan, dan pengakuan.

Pilihan yang bijak bukanlah memilih salah satu ekstrem, melainkan merancang kota yang tumbuh bersama sawahnya. Lahan yang terbatas justru menuntut inovasi dan kebijakan yang cerdas. Jika tidak sekarang, kapan lagi?

Mari mulai dari langkah kecil: dukung petani lokal di sekitar Anda, ikuti komunitas urban farming, dan suarakan pentingnya ruang hijau produktif di Depok. Bagikan artikel ini agar semakin banyak warga Pancoran Mas dan Kota Depok peduli pada nasib lahan pertanian serta generasi petani milenial kita.

Berita Terkait