Menu

Dark Mode
Ide Keren dan Kreatif, Bantuan Makan Sahur di Depok 20 Alasan Warga Nyaman Tinggal di Kota Depok Santika Hotel Depok Kenalkan Menu Malaysia Kota Depok Masuk Zona Rawan Narkoba Duh! Ada 3700 Perceraian Di Depok Selama 2016, Media Sosial Menjadi Penyebab Utama

Pendidikan

FEB UI Dukung Net Zero Emission from Home: Transportasi Publik dan Udara yang Lebih Bersih dalam Mengurangi Urban Heat Island

badge-check


					FEB UI Dukung Net Zero Emission from Home: Transportasi Publik dan Udara yang Lebih Bersih dalam Mengurangi Urban Heat Island Perbesar

DepokNews–Depok News – Kota-kota besar di Indonesia menghadapi tantangan serius berupa Urban Heat Island (UHI), kondisi ketika suhu udara di kawasan perkotaan lebih panas dibandingkan dengan pedesaan di sekitarnya. Penyebabnya bukan hanya gedung beton dan minimnya ruang hijau, melainkan juga gaya hidup masyarakat perkotaan—terutama dalam hal transportasi.

Isu ini menjadi bahasan dalam program pengabdian masyarakat skema edukasi daring Net Zero from Home episode kedua yang digagas oleh Dr. Irfani Fithria Ummul Muzayanah bersama tim, yakni Putu Angga Widyastaman, M.S.E., dan Ikrar Genidal Riadil, S.Pd., B.SEd., M.A., dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, dengan juga menghadirkan narasumber Wisnu Budi Waluyo, S.I.P., M.Sc. dikenal sebagai sosok visioner dengan fokus dan keahlian di bidang Environment Health serta Development and Sustainability, menjadikannya figur penting dalam mendorong keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.

Transportasi, Polusi Udara, dan UHI
“Urban Heat Island itu bukan hanya soal bangunan yang menyerap panas, tapi juga pilihan gaya hidup kita, termasuk cara bepergian,” jelas Wisnu.
Setiap kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil, menghasilkan panas dari mesin dan emisi polutan seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), dan partikel halus (PM2.5). Polutan-polutan ini memperburuk kualitas udara sekaligus memperkuat efek rumah kaca lokal.
Menurut data Environmental Protection Agency (EPA), sektor transportasi menyumbang lebih dari 29% emisi gas rumah kaca di kawasan perkotaan. “Semakin banyak kendaraan pribadi, semakin panas pula suhu kota. Lebih parah lagi, panas ini memicu penggunaan AC secara berlebihan, sehingga menciptakan feedback loop yang memperburuk UHI,” tambah Wisnu.
Dari Rumah, Bisa Mulai dengan Transportasi Publik
Program ini menekankan bahwa masyarakat tak perlu menunggu kebijakan besar untuk ikut berkontribusi. “Kita bisa memulainya dari keputusan sehari-hari,” ujar Dr. Irfani.
Langkah-langkah yang bisa dilakukan antara lain:
Gunakan transportasi publik seperti KRL, MRT, Transjakarta, atau bus kota.
Bersepeda atau berjalan kaki untuk jarak dekat.
Manfaatkan carpooling atau transportasi berbagi.
Rencanakan perjalanan agar lebih efisien.
“Pilihan sederhana ini bila dilakukan bersama-sama bisa memberi dampak sistemik pada penurunan emisi, perbaikan kualitas udara, dan pengurangan UHI,” imbuh Ikrar.
Selain itu, pemerintah juga perlu memperbaiki kualitas infrastruktur publik, khususnya transportasi umum dan konektivitas, agar upaya masyarakat semakin efektif dan berkelanjutan.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Dari sisi ekonomi, peralihan ke transportasi publik membawa banyak manfaat. Wisnu menjelaskan:
Permintaan BBM dan kendaraan pribadi menurun, sehingga emisi dan limbah panas berkurang.
Transportasi massal jauh lebih hemat energi per individu.
Pemerintah dapat mengurangi subsidi BBM dan mengalihkan anggaran untuk pembangunan ruang terbuka hijau serta peningkatan kualitas udara.
“Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menikmati udara lebih bersih dan kota yang lebih sejuk, tapi juga mendapatkan efisiensi biaya transportasi,” jelasnya.
Solusi Besar Dimulai dari Keputusan Kecil
Program edukasi ini menutup dengan pesan sederhana namun kuat: perubahan gaya hidup sehari-hari dapat menjadi kunci menurunkan suhu perkotaan.
“Pilihan kita hari ini membentuk struktur ekonomi kota yang lebih ramah lingkungan. Jadi, yuk mulai pertimbangkan naik transportasi umum. Solusi besar selalu dimulai dari keputusan kecil,” tutup Ikrar.

Facebook Comments Box

Read More

Aset vs Omzet vs Laba di Laporan Keuangan

31 January 2026 - 12:47 WIB

Lika-liku Aktivasi Akun Coretax WPOP Menjelang Pelaporan SPT Orang Pribadi Tahun Pajak 2025 di Tax Clinic – FEB UI

31 January 2026 - 08:35 WIB

Rasionalitas di Era “Jempol Gelisah”

30 January 2026 - 11:49 WIB

Penerapan IFRS 17 di ASEAN dan Dampaknya terhadap Kapasitas Asuransi Domestik: Pembelajaran bagi Pendidikan Ekonomi dan Akuntansi

29 January 2026 - 18:02 WIB

Penerapan IFRS 17 di ASEAN dan Dampaknya terhadap Kapasitas Asuransi Domestik: Pembelajaran bagi Pendidikan Ekonomi dan Akuntansi

29 January 2026 - 13:06 WIB

Trending on Pendidikan