Menu

Dark Mode
Ide Keren dan Kreatif, Bantuan Makan Sahur di Depok 20 Alasan Warga Nyaman Tinggal di Kota Depok Santika Hotel Depok Kenalkan Menu Malaysia Kota Depok Masuk Zona Rawan Narkoba Duh! Ada 3700 Perceraian Di Depok Selama 2016, Media Sosial Menjadi Penyebab Utama

Ragam

Gaji Habis Sebelum Tanggal Tua, Keuangan Keluarga Kelas Menengah Kota Depok

badge-check

Oleh Sonya Oktaviana S.E. M.Ak.
Dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Indonesia

Notifikasi bank berbunyi menandakan gaji baru saja masuk, tetapi rasa lega itu sering kali hanya bertahan sebentar. Seminggu kemudian, sebagian keluarga kelas menengah Kota Depok mulai menghitung sisa saldo, menunda pengeluaran, bahkan mengandalkan kartu kredit atau paylater menjelang akhir bulan. Fenomena “gaji habis sebelum tanggal tua” telah menjadi hal yang lumrah, padahal banyak di antara mereka memiliki penghasilan tetap dan akses ke layanan keuangan formal. Situasi ini menimbulkan pertanyaan penting, apakah masalah keuangan keluarga, terjadi karena besaran gaji, atau hal lain? Akhir-akhir ini cukup banyak pemberitaan tentang topik keuangan keluarga baik berkaitan dengan meningkatnya pengeluaran keluarga akibat kenaikan harga barang atau jasa, misalnya biaya pendidikan anak, layanan kesehatan, dan lainnya. Apa yang terjadi pada keuangan keluarga menengah di Depok? Mengapa banyak keluarga kelas menengah mengalami kehabisan uang sebelum tanggal tua, padahal penghasilannya relatif stabil?

Untuk menyederhanakan pembahasan, artikel ini akan berfokus pada keuangan keluarga kelas menengah di kota Depok. Kita akan mulai dengan mengenal bagaimana profil keluarga kelas menengah kota Depok. Keluarga kelas menengah kota Depok dengan profesi yang mereka jalani antara lain pegawai pemerintah/ASN, pegawai swasta, atau profesi lainnya. Dengan memiliki pekerjaan tetap, dapat dipastikan keluarga kelas menengah ini memiliki penghasilan tetap atau rutin setiap bulan dan memiliki pos pengeluaran rutin yang cukup signifikan setiap hari mengingat rute perjalanan ke tempat kerja yang relatif jauh dan memakan waktu lama. Keluarga kelas menengah ini juga memiliki akses yang mudah ke perbankan dan kredit, dan hal ini dapat mengarahkan keluarga kelas menengah untuk melakukan pola pengeluaran untuk konsumsi berbasis cicilan.

Sebagian besar dari keluarga kelas menengah ini merupakan pekerja komuter yang berdomisili di kota Depok dan bekerja di Jakarta, dengan berbagai profesi. Beberapa fenomena umum pada keluarga kelas menengah adalah memiliki pengeluaran rutin berupa cicilan berupa KPR, cicilan kredit kendaraan, atau cicilan lainnya. Dengan pola demikian maka setiap bulan setelah memperoleh gaji maka berbagai pengeluaran berupa aneka cicilan tersebut pasti akan dibayar segera karena langsung dipotong dari gaji rutin. Pada awal bulan umumnya keluarga kelas menengah akan memanjakan diri dalam bentuk banyak melakukan pengeluaran misalnya makan keluarga di luar rumah, menghabiskan waktu seharian di pusat perbelanjaan, atau membeli barang-barang yang sudah lama diinginkan yang masuk dalam wishlist. Pada pertengahan bulan, keluarga mulai melakukan penghematan, dan pada akhir bulan sebagian dari keluarga ini bergantung pada pinjaman baik berupa kartu kredit maupun berbagai skema paylater, atau mungkin juga pinjaman online.

Pola hidup keluarga kelas menengah pada umumnya mengikuti pola hidup kaum urban, antara lain melakukan perjalanan komuter relatif jauh dari rumah hingga ke tempat kerja (transportasi harian), selalu mempertimbangkan ‘gengsi’/prestige dalam menentukan pengeluaran misalnya dalam memilih rumah, sekolah anak, jenis kendaraan, pakaian, makanan/minuman, konsumsi hiburan, dan lainnya. Selain itu, keluarga kelas menengah sangat condong pada gaya hidup berbasis teknologi digital dan online shopping. Hal ini tidak semata dipengaruhi oleh preferensi pribadi, namun dipengaruhi oleh tekanan dari lingkungan sosial atau komunitas keluarga kelas menengah, bahwa hidup “Harus terlihat mapan”, serta sering membandingkan diri/ keluarganya dengan orang/ keluarga lain di sekitarnya. Terdapat beberapa pola kekeliruan pada pengelolaan keuangan keluarga yang sangat umum terjadi, dan akan diuraikan pada pembahasan selanjutnya.

  1. Ada Terlalu Banyak Cicilan, Kurang Fleksibilitas Keuangan

Banyak keluarga kelas menengah terikat pada pengeluaran rutin berupa cicilan dalam bentuk kredit rumah, kredit kendaraan, kredit pembelian gadget, pelunasan paylater. Pola pengeluaran ini bersifat mengikat dan membuat keuangan keluarga menjadi tidak fleksibel. Pola pikir yang berkembang pada keluarga kelas menengah adalah menganggap bahwa pembayaran cicilan dianggap “normal” selama masih bisa melunasinya. Kenyataannya, dengan banyaknya potongan gaji untuk berbagai cicilan, akan membuat keuangan keluarga menjadi terdesak dan sangat mungkin bahwa keluarga kelas menengah tersebut belum/tidak memiliki dana untuk menghadapi kondisi darurat.

  1. Belum/Tidak Menyiapkan Anggaran Bulanan yang Realistis

Banyak keluarga yang mengetahui berapa penghasilan yang didapat namun tidak mengetahui detail pengeluaran mereka. Hal ini terjadi karena beberapa kesalahan umum, antara lain tidak membuat perencanaan keuangan keluarga secara tertulis, dan detail, atau dalam bahasa sederhana, banyak keluarga kelas menengah yang hanya membuat “anggaran di kepala”. Termasuk dalam kekeliruan ini adalah banyak rumah tangga yang mengabaikan atau tidak mencatat pengeluaran yang bernilai kecil namun rutin misalnya pengeluaran untuk transportasi, dan membeli jajanan.

Dampaknya adalah melakukan pengeluaran yang lebih besar dari penghasilan, atau kebocoran keuangan keluarga tanpa disadari.

  1. Gaya Hidup Naik Lebih Cepat dari Kenaikan Gaji (Lifestyle Inflation)

Umumnya, setiap tahun hampir semua pekerja mendapat penyesuaian gaji untuk mengikuti inflasi. Namun, banyak keluarga yang menandai kenaikan gaji tersebut  dengan menaikkan juga standar hidup atau gaya hidup mereka. Misalnya, setelah kenaikan gaji, mereka melakukan pengeluaran yang bukan kebutuhan dasar misalnya membeli kendaraan baru, atau pengeluaran untuk makan di luar meningkat, dan lain sebagainya. Hampir setiap tahun dipastikan terjadi kenaikan harga barang/jasa. Bagi keluarga kelas menengah, beberapa pengeluaran besar antara lain cicilan KPR, cicilan kendaraan, dan kenaikan SPP anak sekolah. Hal ini tentu menimbulkan masalah bagi keluarga yang tidak memiliki strategi keuangan yang terprogram dan detail.

  1. Salah Kaprah tentang Tabungan dan Investasi

Selain itu terjadi salah kaprah tentang menabung, yaitu banyak keluarga yang punya persepsi bahwa dana untuk menabung adalah dana lebih atau dana sisa setelah melakukan semua pengeluaran keluarga, sehingga sering terjadi keluarga tidak menabung secara rutin tiap bulan. Konsekuensi hal ini adalah keluarga kurang atau tidak memiliki dana darurat dalam kondisi terjadi pengeluaran uang yang tidak terduga, misalnya anggota keluarga dirawat di rumah sakit,  biaya perbaikan kerusakan rumah atau kendaraan, atau kondisi ketika berkurangnya penghasilan keluarga. Dapat dipastikan setiap kejadian tak terduga secara langsung akan mengganggu keuangan bulanan. Bagi keluarga yang rajin menabung dan berinvestasi, masih terdapat ancaman lain yaitu berinvestasi mengikuti tren (ikut-ikutan), dan tidak didasari ilmu dan pemahaman mendasar tentang risiko investasi tersebut.

Faktor Psikologis dan Sosial

Masalah keuangan keluarga bukanlah sekedar kalkulasi angka penerimaan dan pengeluaran. Lebih dari itu terdapat faktor psikologis dan sosial yang mempengaruhi. Terkadang faktor tekanan sosial baik di lingkungan perumahan maupun sekolah dapat mendorong keluarga melakukan pengeluargan yang sebenarnya bukan kebutuhan dasar. Budaya konsumsi di era teknologi digital menggoda keluarga untuk selalu mengikuti tren (FOMO), dengan mengeluarkan uang membeli produk yang tidak terlalu mendesak. Sebagai contoh, meng-upgrade HP setiap tahun, membeli produk gadget yang hanya digunakan untuk anak bermain games, atau produk elektronik rumah tangga model terbaru. Hal ini diperkuat jika terdapat diskon atau flash sale sehingga  memicu belanja secara tidak terencana, atau impulse buying.

Jenis pengeluaran lainnya yang tidak didorong oleh faktor psikologis adalah perasaan minder jika tidak mengikuti gaya hidup. Misalnya pengeluaran untuk liburan keluarga di tempat iconic untuk di-posting di media sosial. Media sosial sangat berpengaruh sebagai pemicu belanja impulsif bagi keluarga yang kurang/tidak memiliki komitmen keuangan yang kuat.

Solusi Praktis dan Realistis

Untuk mengatasi masalah keuangan keluarga sangat diperlukan komunikasi keuangan secara jujur. Dimulai dengan menghitung total pendapatan dan total pengeluaran. Membuat daftar pengeluaran tetap dan pengeluaran yang variabel (pengeluaran cicilan dan selain cicilan). Kemudian mendata dan mengevaluasi seluruh pengeluaran keluarga, dan mencari di antara daftar pengeluaran itu, mana kebutuhan serta mana yang bukan kebutuhan (hanya keinginan).

Hal penting yang wajib dilakukan adalah menyusun anggaran keluarga. Keluarga dapat mulai menyusun anggaran dan menjadikan anggaran sebagai alat kendali keuangan keluarga. Hal ini dimulai dengan cara: Pertama, secara rutin dan disiplin mencatat pengeluaran. Kedua, keluarga selalu mencari alternatif sebelum melakukan pengeluaran misalnya mengumpulkan informasi dari beberapa toko sebelum membeli, atau menunda/ menghilangkan pengeluaran yang tidak mendesak. Bagi keluarga yang tidak terbiasa disiplin keuangan, tahap awal menjalankan beberapa langkah ini tentunya berat dilakukan. Selain itu, tidak semua keluarga memiliki komitmen kuat menjaga keuangan keluarga.

Dalam perencanaan keuangan, sangat perlu untuk memahami mana pengeluaran untuk kebutuhan dan mana pengeluaran untuk keinginan. Pengeluaran untuk kebutuhan adalah pengeluaran untuk hal dasar seperti cicilan rumah, kebutuhan makan minum sehari-hari, sekolah anak, kesehatan. Pengeluaran untuk keinginan sangat berkaitan dengan hal yang bukan kebutuhan dasar, umumnya berupa gaya hidup. Poin penting lainnya dalam anggaran keluarga adalah selalu memprioritaskan dana darurat sebelum berinvestasi. Tabungan yang disiapkan untuk dana darurat dapat memberi efek penenang secara psikologis. Keluarga tanpa dana darurat akan memasuki tanggal tua dengan perasaan yang agak tertekan karena mesti menunda pengeluaran meski berupa kebutuhan pokok misalnya untuk pangan atau kebutuhan sekolah anak.

Masalah keuangan keluarga kelas menengah bukan terkait pada sifat boros atau sikap cuek atau malas. Pengelolaan keluarga secara sadar dan realistis akan mendorong keluarga untuk memiliki tabungan secara rutin dan dapat melakukan investasi secara bijak didasari pengetahuan. Tidak akan khawatir memasuki tanggal tua dan menghadapi pengeluaran yang bersifat darurat dan tiba-tiba. Keluarga yang memiliki perencanaan keluarga yang terprogram dengan baik dan disiplin akan dapat mencapai tujuan finansial yang diinginkan. (end)

 

Facebook Comments Box

Read More

Reses di Dapil Pancoran Mas, Hafid Nasir Serap Aspirasi Warga Terkait Isu-Isu Publik Penting

2 February 2026 - 09:03 WIB

Perkuat Konsolidasi, PKS Sawangan Gelar Rakercab 2026: Fokus pada Program Kader, Kaderisasi, Pelayanan Publik, dan Pemenangan Pemilu (K2P2)

2 February 2026 - 08:46 WIB

Wujudkan Masyarakat Sehat, DPC PKS Sawangan Gelar Seminar Keseimbangan Kebugaran, Gizi, dan Kesehatan Jelang Ramadhan

2 February 2026 - 08:31 WIB

Kilau Prestasi di Atas Target: ASA Archery Indonesia Series 2025 Sukses Getarkan Depok!

2 February 2026 - 07:20 WIB

DPC PKS Tapos Gelar Tarhib Ramadhan dan Pemeriksaan Kesehatan untuk Tokoh Wanita

2 February 2026 - 06:59 WIB

Trending on Ragam