H. Moh. Hafid Nasir, Dipl. Ing.

Oleh : Ketua Fraksi PKS DPRD Depok – H. Moh. Hafid Nasir, Dipl. Ing.

Setiap perbuatan manusia akan mendapat balasan dari Allah Subhanahu wata’ala, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk. Balasan itu bisa diterima di dunia atau di akhirat, bahkan bisa juga diterima di dunia dan akhirat sekaligus. Firman Allah SWT: “Barangsiapa yang berbuat kebaikan (sebesar biji dzarrah), niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang berbuat kejahatan (sebesar biji dzarrah), niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8).

Para ulama menjelaskan dzarrah dalam tiga tafsiran. Pertama, dzarrah adalah semut kecil (semut yang baru lahir), sebagaimana hadis bunyi:

يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَال artinya: “Orang-orang yang sombong akan dihimpunkan pada hari kiamat seperti dalam bentuk semut-semut kecil (dzarr) dengan rupa manusia.” (HR. Tirmidzi). Kedua, apabila seseorang meletakkan debu di tangannya, kemudian dihempaskan maka sisa-sisa butiran debu yang ada di tangannya itulah yang disebut dzarrah. Ketiga, partikel-partikel kecil yang terlihat di sela-sela cahaya matahari ada debu-debu yang berterbangan, dan tidak bisa dilihat kecuali ada cahaya matahari. Itulah yang disebut dzarrah. (Lihat Fathul Baari 1/104).

Al-Qurthubi berkata:

وَهِيَ فِي الْجُمْلَةِ عِبَارَةٌ عَنْ أَقَلِّ الْأَشْيَاءِ وَأَصْغَرِهَا “
Secara umum maksud dari dzarrah adalah ibarat dari sesuatu yang tersedikit dan terkecil” (Tafsir Al-Qurthubi 5/195) Intinya, dzarrah adalah benda yang sangat kecil yang secara zhahirnya tidak mempunyai berat apabila ditimbang, atau bahkan tidak berasa ketika dipegang. Pada ayat ini, Allah SWT. ingin menjelaskan bahwa kebaikan sekecil apapun, bahkan sampai-sampai tidak terasa beratnya, juga akan dibalas oleh Allah. Inilah ke-Maha Adil-an Allah, tidak ada yang terluputkan untuk mendapatkan balasan-Nya. (Tafsir Quran Surat Al-Zalzalah Ayat-7, Bekal Islam)

Lalu, apakah balasan atau ganjaran bagi orang yang berpuasa? Puasa adalah ibadah paling istimewa karena satu-satunya ibadah yang akan dibalas langsung oleh Allah SWT (hanya ibadah puasa). Dalam sebuah hadits Qudsi, melalui lisan Nabi Allah SWT. berfirman : “Kullu ‘amali ibni adam lahu illa al-shiyam, fa innahu li wa ana ajzi bihi”. Artinya: Semua amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Ada beberapa pendapat ulama terkait firman-Nya: “Puasa untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya.” Mengapa ibadah puasa dikhususkan? Dikutip dari Majalis Syahru Ramadan, halaman 13, ada beberapa alasan yang paling kuat pendapat para ulama, yaitu:

  1. Bahwa puasa tidak terkena riya’ sebagaimana (amalan) lainnya terkena riya’. Al-Qurtuby rahimahullah berkata, “Ketika amalan-amalan yang lain dapat terserang penyakit riya’, maka puasa tidak ada yang dapat mengetahui amalan tersebut kecuali Allah, maka Allah sandarkan puasa kepada Diri-Nya. Oleh karena itu, dikatakan dalam hadis, ‘Meninggalkan syahwatnya karena diri-Ku.’ Ibnu Al-Jauzi rahimahullah berkata, ‘Semua ibadah terlihat amalannya. Dan sedikit sekali yang selamat dari godaan (yakni terkadang bercampur dengan sedikit riya’) berbeda dengan puasa.
  2. Maksud dari ungkapan ‘Aku yang akan membalasnya,” adalah bahwa pengetahuan tentang kadar pahala dan pelipatan kebaikannya hanya Allah yang mengetahuinya. Al-Qurtuby rahimahullah berkata, ‘Artinya bahwa amalan-amalan telah terlihat kadar pahalanya untuk manusia. Bahwa ia akan dilipatgandakan dari sepuluh sampai tujuh ratus kali sampai sekehendak Allah kecuali puasa. Maka, Allah sendiri yang akan memberi pahala tanpa batasan. Hal ini dikuatkan dari periwayatan Muslim, 1151 dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallalm bersabda:

( كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ )
“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.” Yakni Aku akan memberikan pahala yang banyak tanpa menentukan kadarnya. Hal ini seperti firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

  1. Makna ungkapan ‘Puasa untuk-Ku’, maksudnya adalah bahwa dia termasuk ibadah yang paling Aku cintai dan paling mulia di sisi-Ku. Ibnu Abdul Bar berkata, “Cukuplah ungkapan ‘Puasa untuk-Ku’ menunjukkan keutamaannya dibandingkan ibadah-ibadah lainnya. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, 2220 dari Abu Umamah radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian berpuasa, karena tidak ada yang menyamainya.” (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Nasai)
  2. Penyandaran di sini adalah penyandaran kemuliaan dan keagungan. Sebagaimana diungkapkan ‘Baitullah (rumah Allah)’ meskipun semua rumah milik Allah. Az-Zain bin Munayyir berkata, “Pengkhususan pada teks keumuman seperti ini, tidak dapat difahami melainkan untuk pengagungan dan pemuliaan.”

Meskipun demikian, ada keterangan dari beberapa hadis yang menggambarkan (secara eksplisit) ganjaran bagi orang yang berpuasa (shaum) Ramadhan. Selain akan memperoleh derajat takwa (QS. Al-Baqarah ayat 183), bertabur ganjaran yang akan diperoleh para shaaimiin (orang yang berpuasa), antara lain:

  • Diampuni dosa-dosanya. Rasulullah bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka semua dosanya yang lalu akan diampuni.” (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

  • Dimasukkan ke dalam surga-Nya. Sabda Nabi SAW:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لاَ يَدْخُلُ مَعَهُمْ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَدْخُلُونَ مِنْهُ فَإِذَا دَخَلَ آخِرُهُمْ أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
”Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut “Ar-Rayyaan”. Pada hari kiamat berkata: Di manakah orang yang shaum? (untuk masuk syurga melalui pintu itu). Jika  yang terakhir di antara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Sabdanya :

مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ
Artinya : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mendirikan shalat, dan shaum Ramadhan, maka wajib bagi Allah memasukkannya ke syurga”.  (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

  • Dijauhkan dari api neraka. Rasulullah SAW bersabda :

مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

Artinya : “Siapa dari seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali Allah jauhkan dirinya dengan neraka sejauh tujuh puluh tahun”. (H.R. Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu).

  • Mendapatkan syafa’at di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda :

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ
Artinya : “Shaum dan Qur’an itu memintakan syafa’at untuk seseorang di hari Kiamat nanti. Shaum berkata : Wahai Rabbku, aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa’at baginya. Dan berkata pula Al-Qur’an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari (karena membacaku), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memintakan syafaat.” (H.R..Ahmad dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu ‘Anhu).

  • Menyehatkan. Sabda Rasululllah SAW :

اُغْزُوْاتَغَنَّمُوْا وَصُوْمُوْا تَصِحُّوْا وَسَافِرُوْاتَسْتَغْنُوْا
Artinya :”Berperanglah niscaya kalian mendapat ghanimah, bershaumlah kalian niscaya kalian menjadi sehat, dan bepergianlah kalian niscaya kalian akan berkecukupan”. (H.R. Ath-Thabrani).

Ganjaran yang demikian luar biasa tersebut insyaa Allah akan bisa diperoleh oleh shaaimiin yang mengerjakan puasa dan amalan lainnya secara optimal. Jangan sampai kita menjadi hamba yang rugi karena puasa kita sia-sia. Rasulullah SAW bersabda : “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690). Semoga Allah SWT. melindungi kita dari hal yang demikian itu. Aamiin.