DepokNews — Di usianya yang masih belia, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) memberi kontribusi yang relatif membanggakan. Sumbangsih RSUI bagi masyarakat setempat terasa sekali di masa pandemi Covid-19. Pada saat memasuki usia yang ketiga, RSUI menyelenggarakan rangkaian kegiatan yang dimulai dari Januari hingga Februari 2022, dengan tema HUT RSUI ke-3 ”Sinergi Menuju Harapan Baru, Satukan Energi Bangun RSUI”.

Dalam peringatan hari jadi tersebut, diadakan seminar nasional yang diselenggarakan pada Sabtu (12/02), menghadirkan Menteri Kesehatan RI Ir. Budi Gunadi Sadikin, CHFC, CLU sebagai keynote speaker dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang diwakili oleh Plt. Direktur Riset Teknologi, Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat Prof. Teuku Faisal Fathani, Ph.D., IPU., ASEAN Eng.

RSUI baru beroperasi satu tahun ketika Covid-19 mewabah di Indonesia. Dengan segala tantangan dan keterbatasan yang dimiiki, secara cepat RSUI berhasil mengembangkan dirinya menjadi rumah sakit rujukan untuk penanganan Covid-19. “Kata kunci untuk dapat terus bertahan dan terus berkembang adalah kolaborasi dan kerja sama. Itu ditampakkan oleh tema yang diusung pada ulang tahun yang ke-3 RSUI,” ujar dr. Agustin Kusumayati, M.Sc., Ph.D., Sekretaris Universitas UI.

Menurut Direktur Utama RSUI Dr. dr. Astuti Giantini, Sp.PK(K)., MPH., dalam kegiatan seminar nasional HUT RSUI, “Pendirian RSUI untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, sekaligus sebagai lokasi untuk mendidik calon tenaga kesehatan Universitas Indonesia (UI).” Astuti mengatakan bahwa rumah sakit tersebut didesain dengan konsep pelayanan komprehensif bersama Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK), dalam klaster-klaster dengan sistem pendidikan interprofessional.

Kegiatan Seminar Nasional RSUI ini mengusung tema “Collaboration, Innovation and Integration In Healthcare Industry” dengan tujuan untuk menghasilkan berbagai pemikiran yang berkaitan dengan peran stakeholder internal dan eksternal RSUI dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Menteri Kesehatan RI menyampaikan, dengan adanya pandemi Covid-19, hal ini menjadi masalah kesehatan global yang berdampak pada pelayanan kesehatan di seluruh dunia.

Di level nasional, pandemi mengakibatkan distruksi terhadap ketahanan sistem kesehatan nasional. Untuk itu, Budi mengatakan guna memulihkan pembangunan kesehatan perlu menggunakan kapasitas negara melalui konsep pentahelix.

Dengan konsep ini, yakni kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri atau pelaku usaha, komunitas/masyarakat, dan media diharapkan dapat mewujudkan Sustainable Development Goals untuk mencapai percepatan pembangunan ekonomi, ketahanan pangan, dan kesejahteraan. ”Kementerian Kesehatan telah berupaya melakukan transformasi sistem kesehatan yang berfokus pada enam pilar utama, yaitu transformasi layanan primer, transformasi layanan rujukan, transformasi sistem ketahanan kesehatan, transformasi pembiayaan kesehatan, transformasi sumber daya manusia kesehatan, dan transformasi teknologi kesehatan,” ujar Budi.

Dalam pemaparan Prof. Teuku Faisal Fathani, ia menyampaikan tema dalam kegiatan seminar nasional ini sejalan dengan terobosan dan kebijakan strategis di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Hal ini berkaitan dengan kebijakan Kemendikbudristek dalam mendukung kemandirian kesehatan bangsa, yaitu Inovasi Merah Putih Kampus Merdeka.

“Tri Dharma perguruan tinggi sesungguhnya tiga pilar yang menjadi satu. Jadi, sebaik-baiknya seorang pendidik adalah merumuskan sebuah peta jalan penelitian yang inovatif, kolaboratif, dan konstektual di dalamnya melibatkan proses pendidikan pembelajaran yang pada akhirnya didorong sebesar-besarnya untuk dimanfaatkan kepada masyarakat luas,” kata Prof. Faisal.

Ia melanjutkan, kata kunci dari semua terobosan dari Kemendikbudristek adalah untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan utuh. “Ini menarik sekali, ibu Direktur RSUI telah menyampaikan bahwa salah satu tujuan dari pendirian RSUI ini adalah menjadi lokasi pendidikan.