Menu

Dark Mode
Ide Keren dan Kreatif, Bantuan Makan Sahur di Depok 20 Alasan Warga Nyaman Tinggal di Kota Depok Santika Hotel Depok Kenalkan Menu Malaysia Kota Depok Masuk Zona Rawan Narkoba Duh! Ada 3700 Perceraian Di Depok Selama 2016, Media Sosial Menjadi Penyebab Utama

Ragam

Mengenang 2025 dalam Perenungan Ekonomis di Serayu

badge-check

Oleh: Vita Silvira, SE, Ak., MBA, CA.
Dosen Departemen Akuntansi FEB Universitas Indonesia

Prolog

Memulai hari 1 Januari 2026 dengan tulisan di bawah ini,
Rumah ini bukan rumah untuk selamanya, tapi rumah singgah, bumi
Unsur yang menjejak di sekujur tubuh, yang meluas sedaratan, tanah
Menangis sudah ia, meluap buncah gusur semua, kering mata dan keringat basuh asa, banjir
Indah yang terlupa, ibarat gambar yang mengusam usang, hijau hutan sawah

Ternyata, tulisan tersebut merekap situasi di sepertiga akhir tahun 2025 beruntun terjadi banjir (1.548 kejadian banjir menurut BNPB), yang menjadi penyumbang korban terbesar. Dominasi bencana hidrometeorologi ini menunjukkan kuatnya pengaruh curah hujan ekstrem, perubahan iklim, serta persoalan tata ruang dan degradasi lingkungan di berbagai daerah. Adanya faktor deforestasi, aktivitas tambang dan perubahan fungsi lahan, ikut diperhitungkan sebagai penyebab mengapa banjir berubah menjadi bencana masif yang bisa merenggut banyak nyawa.

Rangkaian bencana antara lain di bulan September 2025 di Bali; November 2025 di Bumiayu; November 2025 di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat. Tidak hanya banjir bandang, tapi juga  longsor di wilayah perbukitan menelan korban jiwa, menghancurkan desa-desa, dan memutus akses antarwilayah. Dan, tepat 13 hari lalu, 31 Desember 2025, di Banjarnegara. Kali Serayu meluap karena longsor (lagi) di daerah hulu sungai.

Tulisan ini hanya akan menyorot kejadian banjir yang terjadi di 31 Desember 2025. Balik ke saat site visit ke Banjarnegara di bulan Oktober 2025, sesungguhnya ekosistem yang terbangun memberi harapan besar bahwa persoalan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu akan berangsur teratasi. Apalagi kolaborasi yang terbangun di sana telah melibatkan pihak-pihak yang berkait dan bersinggungan dalam kerangka n-Helix yang solid.

Perumusan Masalah

Penduduk di Wonosobo gembira dengan inovasi membuka pertanian di lereng perbukitan Dieng yang ditanami kentang dan sayur mayur. Tanaman di lahan tersebut tumbuh subur dan memanen kentang dengan kualitas bagus, terutama umbi kentang yang gurih dan gemuk. Tidak dinyana bahwa ternyata lahan pertanian ini justru malah menimbulkan erosi lahan. Tak kuat sebagai penahan air sehingga tanahnya menjadi curah masuk ke Kali Serayu. Sedikit atau banyak menjadi tumpukan endapan lumpur (sedimentasi) yang mengganggu Waduk Mrica, Banjarnegara.

Berdasarkan hasil riset Bapak Imam Prasojo dan Tim Kampung Ilmu Serayu Network, praktik pertanian yang tidak ramah lingkungan di Dataran Tinggi Dieng tersebut, wilayah hulu Kali Serayu, menjadi penyumbang utama erosi dan sedimentasi. Ia menambahkan, pembukaan lahan untuk pertanian kentang dan sayuran telah menghilangkan tutupan hutan yang berperan penting sebagai penahan air dan tanah. Kondisi ini mengakibatkan lahan perbukitan menjadi kritis dan mempercepat proses pengendapan di Waduk Mrica, yang merupakan objek vital nasional.

Secara resmi waduk ini diberi nama Bendungan Panglima Besar Jenderal Soedirman, sebagai bentuk penghormatan kepada Pahlawan Nasional yang lahir dan besar di Jawa Tengah. Selain itu, Waduk Mrica ini tidak hanya berperan penting sebagai infrastruktur sumber daya air, tetapi juga menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di wilayah tersebut. Keberadaannya memberikan manfaat yang luas, mulai dari fungsi pembangkit listrik tenaga air, irigasi, hingga pengendalian banjir. Sekaligus menghadirkan panorama alam yang menawan.

Apa mau dikata, waduk terbesar di Asia Tenggara tersebut terancam eksistensinya karena sedimentasi. Kapasitas tampung bendungan kini hanya tersisa 10 persen dari total volume awal. Nasib bendungan ini berada di ujung tanduk jika sedimentasi tidak segera ditangani secara komprehensif dan berkelanjutan.

Solusi dengan Wadah n-Helix

Kampung Ilmu Serayu Network (Bapak Imam Prasojo), Indonesia Power (Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Mrica Bapak Nazrul Very Andhi), dan Kabupaten Banjarnegara (dr. Amalia Desiana) telah membangun solidaritas penyelesaian masalah. Namun, yang paling terpenting adalah kesadaran masyarakat desa dan/atau kampung DAS Serayu di Banjarnegara yang bergotong-royong mendukung dan berpartisipasi penuh dalam penyelesaiannya.

PLN Indonesia Power UBP Mrica

Sebagai pengelola waduk yang di dalamnya terpendam 90% sedimentasi, Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Mrica Nazrul Very Andhi berkepentingan mengembalikan volume air.  Setidaknya bertambah volume air dan berkurang sedimentasi di dalam waduk. Ini karena butuh waktu lama mengembalikan volume waduk ke semisal hanya 10% sedimentasinya. Karena itulah Indonesia Power membantu penduduk desa dengan mengadakan eksvakator (pengeruk) endapan di kali. Juga truk pengangkut sedimentasi ke Desa Panggisari.

Selain itu, Indonesia Power telah membibitkan 20 ribu tanaman kopi dan 160 ribu bibit aren di wilayah hulu Kali Serayu. Kedua tanaman ini dipilih karena mampu menahan erosi dan menyimpan air, serta memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat sekitar.

Kabupaten

Sementara itu, Bupati Banjarnegara Amalia Desiana menyatakan bahwa pihaknya telah memanfaatkan lumpur sedimentasi sebagai bahan baku pembuatan batu bata oleh Warga Desa Panggisari, Kecamatan Mandiraja. Ia yakin bahwa pemanfaatan tersebut adalah salah satu cara untuk mengurangi beban sedimentasi di waduk. Ia juga menyambut baik gagasan pemanfaatan lumpur sedimentasi ini untuk proyek pembangunan fisik pemerintah daerah, termasuk program pembangunan rumah layak huni (RTLH). Benar, itu akan sangat efektif memutar roda ekonomi jika proyek-proyek pemerintah menggunakan batu bata dari hasil sedimentasi ini.

Kampung Ilmu Serayu Network

Tokoh akademik juga terlibat mendorong upaya penyelamatan waduk. Imam Prasojo, akademisi Universitas Indonesia, aktivis lingkungan, menyampaikan kekhawatiran dan rekomendasinya, berdiskusi dengan para Bupati di 5 Kabupaten di Kawasan DAS Serayu, berdialog dengan Indonesia Power dan sepakat untuk membawa isu ini ke tingkat nasional.

Kolaborasi ke tiga institusi ini representasi dari kebijakan ekonomi berdasarkan substitution and income effect dan juga selaras dengan lingkungan. Sedimentasi Waduk Mrica digerus dari waduk untuk dijadikan bahan baku bata dan media tanaman perkebunan. Bata diproduksi di Desa Panggisari atas dukungan Kabupaten Banjarnegara. Lahan seluas 6,7 hektar disediakan oleh Indonesia Power untuk Ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) yang memiliki ilmu pertanian bertemu, berkebun dan beternak di Kampung Ilmu Serayu Network.

Menarik menyusuri unit-unit edukatif di Kampung Ilmu, mulai dari kolam budidaya ikan, peternakan domba dan kambing perah, greenhouse sayuran organik, hingga kandang ayam kampung serta entok (bebek). Domba dan kambing adalah usaha yang menguntungkan terutama susunya. Limbah ternak ini diolah menjadi pupuk organik. Sementara makanan dari ternak ini spesifik yaitu diperlukan penanaman pohon Kalianda yang akarnya dalam sehingga memperkuat tanah DAS Serayu dari erosi.

Universitas Indonesia

Akademisi tergelitik mempelajari kolaborasi tersebut sebagai contoh edukasi lingkungan dan pengembangan masyarakat berbasis tani ternak terpadu. Kampung Ilmu Serayu network-nya menjadi tempat belajar bersama dalam praktik konservasi kebun dan peternakan yang ramah lingkungan. Bagi Dosen Universitas Indonesia, Kampung Ilmu ini lahan pengetahuan learning by doing yang luar biasa. Semua dharma-nya dapat dipenuhi.

Keseimbangan Ekonomi

Memperhatikan permasalahan dan pengembangan solusinya diperlukan formula agricultural household model agar petani balancing antara tanaman kentang dengan erosi lahan yang masuk ke Kali Serayu juga dengan endapan lumpur yang mengganggu Waduk Mrica.

Endapan tanah digunakan untuk bahan baku bata yang dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga pengrajin batu bata Desa Panggisari. Banjarnegara, yang antusias menerima tanaman sayur mayur yang menggunakan endapan untuk media tanam. Banjarnegara, yang bertambah sejahtera atas hasil ternak dari percontohan di Kampung Ilmu maupun dari masyarakat taninya. Mereka menghemat anggaran rumah tangganya bahkan menambah pendapatan rumah tangga juga. Sementara Waduk terbantu menambah volume air. Semua sinkron seperti dynamic equilibrium sequential game.

Hasil pemberdayaan yang dilakukan di Kampung Ilmu Serayu Network menjadi  percontohan terciptanya ekonomi sirkular berbasis lingkungan. Kolaborasi yang terjalin menjadi solusi nyata permasalahan sedimen di Waduk Mrica. Sedimen digunakan sebagai media tanam untuk sayuran di Serayu Network. Sayur yang dihasilkan dapat menjadi sumber pangan dan gizi keluarga, serta produk bernilai ekonomi.

Profit center vs Cost center

Solusi yang holistik ini perlu ditetapkan tujuan dari awalnya. Jika tujuannya profit motif, maka malah akan jauh dari keseimbangan dinamis yang  mensejahterakan masyarakat.

Kita mulai dari Desa Panggisari kebutuhan untuk memproduksi bata. Diperlukan alat pengeruk sedimentasi dari Kali Serayu, kendaraan yang mengangkut sedimentasi dari kali ke desa, alat/mesin pencetak bata basah yang lebih banyak, tenaga yang kuat dan tahan banting untuk menggiring bata basah ke tempat pembakaran serta tenaga yang juga sama kuat untuk mengangkut bata kering (finished goods) dari tempat pembakaran ke gudang penyimpanan. Dan, terakhir tenaga serta kendaraan mengangkut bata ke pembeli.

Semua itu, pada setiap lini proses produksi memerlukan biaya untuk pengadaan aset dan mempekerjakan tenaga manusia. Tenaga manusia dapat dikeroyok beramai-ramai oleh penduduk Desa Panggisari seperti yang sekarang ini berjalan. Laki/perempuan, tua/muda, berjibaku untuk menghasilkan bata sesuai kemampuan mencapai target per hari dan/atau jika ada pesanan. Bagi mereka, cukup jika hasil penjualan bata dapat membuat dapur di rumah masing-masing tetap mengebul. Tapi, berbagai aset peralatan dan perlengkapan sangat bergantung pada tersedianya sumber dana dan/atau bantuan/donasi dari pihak di luar penduduk desa. Apakah itu dari administratur desa, perusahaan negara atau swasta yang berdekatan/bersinggungan, dan/atau mitra lainnya yang bersedia menjadi sumber dayanya. Yang baik hatinya.

Mengapa demikian? Karena, bukan keuntungan yang dikejar, tetapi kesadaran akan kebersamaan semua pihak menyelesaikan permasalahan yang ada di DAS Serayu, melihat dampak (sedimentasi) sebagai peluang ekonomis dan memanfaatkannya untuk kebutuhan hidup di keseharian. Kalaupun bata yang jadi tersedia lebih dari cukup, maka kelebihannya untuk dibagi ke desa tetangga, desa yang sedang bergeliat membangun. Seyogyanya, cukup dalam keberlanjutan kesejahteraan (welfare sustainability).

Kelebihan sedimentasi, sedikit saja, juga diolah untuk menjadi pupuk organik LIDOK (Limbah Domba Kambing). Di Kampung Ilmu Serayu Network disediakan barn yang disiapkan untuk pengolahan menjadi pupuk tersebut. Satu alat mesin sederhana memilah sedimentasi yang dicampur dengan bahan baku LIDOK dengan porsi masing-masing yang kandungan kimiawinya menyatu dan siap untuk menjadi pupuk organik. Berbagai greenhouse sayuran organik dan kebun sederetan sayur mayur biasa tumbuh subur menggunakan sedimen sebagai media tanam dan juga disiangi dengan pupuk organiknya. Ber-kilo-kilo hasil produksi pupuk juga disebar kepada penduduk yang mengubah sebagian halaman rumahnya menjadi kebun sayur mayur untuk keperluan harian. Kelompok tani Ibu-ibu (Kelompok Wanita Tani/KWT) berkumpul saling berbagi pengetahuan praktis dan teknis bercocok tanam di Kampung Ilmu ini.

Ditambah juga dengan yang paling menambah gizi adalah mendapatkan telur dari breeding ayam kampung dan/atau entok (bebek). Sebagian kolamnya membudidayakan ikan dengan memberi makan ikan menggunakan pelet berbahan enceng gondok dari Waduk Mrica. Sebagian lagi beternak domba atau kambing perah untuk usaha menguntungkan lainnya terutama susu ternak-ternak tersebut. Kemudian LIDOK nya dikumpulkan dan dikirim ke Kampung Ilmu untuk diolah menjadi pupuk organik.

Learning by doing ini mengubah mindset. Kebutuhan akan panganan sehari-hari di rumah dicukupkan sendiri. Gizinya sudah pasti terjaga mengingat diolah sendiri dan dimasak sendiri juga. Ini kecukupan pangan. Petani-petani ini cukup saja dengan apa yang dikeluarkan sama dengan apa yang diperoleh (break-even point/BEP). Ini kemandirian pangan. Bagi petani yang sudah mampu mengembangkan diri dengan dilengkapi teknologi, produksi kebun dan budidaya serta beternak perlahan menghasilkan keuntungan. Ini keamanan pangan. Secara keseluruhan, jadilah penduduk di desa tersebut membentuk kedaulatan pangannya.

Percontohan

Penghadiran akademisi dalam kolaborasi dimaksud untuk pengembangan pada kapasitas yang lain. Para akademisi (dihadirkan para Dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia dan kemudian dari perguruan tinggi lainnya) diharapkan memberikan insight ke moda edukasi ke ranah pendidikan pengajaran, riset dan pengabdian masyarakat.

Di lain sisi keterlibatan tersebut menjadi ajang diskusi dan tukar gagasan mengenai ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, dan konservasi lingkungan dalam tataran keseimbangan ekonomi dan motifnya.

Selanjutnya pelibatan akademisi tersebut diharapkan menjadi penguat sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan sektor swasta dalam mengembangkan model pemberdayaan berbasis lingkungan.

Lebih jauh dalam penerapannya, Kampung Ilmu Serayu Network dan khususnya di Banjarnegara dapat menjadi rujukan untuk sebagai pusat konservasi Daerah Aliran Sungai dan ketahanan pangan desa, serta menjadi contoh bagi tumbuhnya generasi muda yang cinta lingkungan, mandiri secara ekonomi, dan berdaya secara sosial.

Penutup

Ke depan keberhasilan kolaborasi di Serayu akan menjadi model percontohan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hasil pertanian dan peternakan yang dikelola di Kampung Ilmu Serayu Network menjadi supply chain untuk Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG). Peran strategis Serayu Network diperlukan dalam menciptakan ekosistem untuk ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat. Pemberdayaan di Serayu Network tidak hanya sebagai tempat meningkatkan keterampilan masyarakat, namun juga menciptakan ketahanan pangan dan pemenuhan gizi bagi anak-anak dan ibu hamil di sekitar Serayu Network.

REFERENSI

Dwiana J. Setiaji. Bendungan Mrica Krisis Sedimentasi, Daya Tampung Tinggal 10 Persen, Nasib PLTA dan Irigasi Terancam. Suara Merdeka Banyumas. 11 Mei 2025.

Ari Kuncoro. Murah Meriah ala Gary Becker. Analisis Ekonomi, Kompas Oktober 2025.

Serayu Network. Wamen PPPA Dukung Serayu Network Wujudkan Pemberdayaan Multisektor Berbasis Lingkungan. 18 Oktober 2025.

Kementrian PPPA. Sinergi Multipihak Wujudkan Ekonomi Perempuan Tangguh dan Gizi Anak Terjamin di Kampung Ilmu Serayu Banjarnegara. 20 Oktober 2025.

Ari Kuncoro. Memulai dari yang Sudah (pernah) Ada. Analisis Ekonomi, Kompas November 2025.

Kompas.TV. Data Bencana Indonesia 2025: 3.116 Kejadian, Banjir Jadi Penyumbang Korban Terbesar. 24 Desember 2025.

 

Facebook Comments Box

Read More

Reses di Dapil Pancoran Mas, Hafid Nasir Serap Aspirasi Warga Terkait Isu-Isu Publik Penting

2 February 2026 - 09:03 WIB

Perkuat Konsolidasi, PKS Sawangan Gelar Rakercab 2026: Fokus pada Program Kader, Kaderisasi, Pelayanan Publik, dan Pemenangan Pemilu (K2P2)

2 February 2026 - 08:46 WIB

Wujudkan Masyarakat Sehat, DPC PKS Sawangan Gelar Seminar Keseimbangan Kebugaran, Gizi, dan Kesehatan Jelang Ramadhan

2 February 2026 - 08:31 WIB

Kilau Prestasi di Atas Target: ASA Archery Indonesia Series 2025 Sukses Getarkan Depok!

2 February 2026 - 07:20 WIB

DPC PKS Tapos Gelar Tarhib Ramadhan dan Pemeriksaan Kesehatan untuk Tokoh Wanita

2 February 2026 - 06:59 WIB

Trending on Ragam