Optimalisasi Ibadah Ramadhan Menuju Derajat Takwa

Oleh : Hamdi, S.Sos

Alhamdulillah, atas izin dan kehendak Allah Subhahanahu wata’ala, kita dipertemukan kembali dengan bulan yang mulia, yaitu bulan Ramadhan 1445 Hijriyah. Hadirnya bulan yang mulia ini harus kita syukuri, karena sebagian dari sanak saudara, sahabat, dan tetangga kita yang tidak bisa berjumpa dengan Ramadhan tahun ini disebabkan telah dipanggil oleh Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, nikmat yang luar biasa ini harus kita optimalkan agar memperoleh buah Ramadhan, yakni menjadi pribadi yang bertakwa. Allah Subhananhu wata’ala berfirman: Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al-Baqarah : 183).

Ada sebuah doa yang dianjurkan dibaca ketika menyambut Ramadhan. Nabi Muhammad SAW adalah: “Allahumma ahillahu ‘alayna bilyumni wal iimaani was salaamati wal islaami. Robbii wa Robbukallah.” (At Tirmidzi no. 3451) artinya: “Ya Allah mohon hadirkan awal Ramadhan kepada kami, dengan penuh ketentraman, dan dengan penuh kekuatan iman (ibadah rohani), sehat dan selamat.

Puasa (shiyam atau shaum) secara harfiah berarti mengekang atau menahan diri. Shiyam artinya menahan diri makan dan minum dan shaum artinya menahan diri dari berbicara. Sebagaimana kisah Maryam yang Allah Subhanahu wata’ala gambarkan dalam Al-Qur’an: “Inni nadzartu lirrahmaani shauman falan ukallimal yauma insiyya” artinya “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa karena Tuhan Yang Maha Pemurah bahwa aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini,” (QS. Maryam [19]: 26). Pada ayat ini Maryam berkata: “Aku shaum (menahan diri) dari berbicara atau berkata-kata.”

Puasa menurut istilah yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya dari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Ketika berpuasa kita menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri serta hal-hal lain yang membatalkan puasa. Perbuatan yang di luar Ramadhan itu halal tetapi ketika kita berpuasa Ramadhan, perbuatan halal itu menjadi haram. Selain itu, perbuatan lainnya yang membatalkan puasa adalah sampainya sesuatu ke dalam lubang tubuh dengan sengaja, mengobati dengan cara memasukkan obat melalui dua jalan, muntah dengan sengaja, keluarnya air mani (sperma), haid atau nifas, gila (junun), dan murtad.

Imam Al-Ghazali dalam kitab “Ihya’ Ulumuddin” membagi puasa ke dalam tiga tingkatan, yaitu puasa umum (awam), puasa khusus, dan puasa paling khusus (khususul khusus). Puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat, puasa khusus ialah menahan pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari semua dosa, dan puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia dan memikirkan selain Allah SWT.

Tentunya kita berharap bisa mencapai level puasa khususul khusus. Jika belum mampu, paling tidak kita berusaha meraih puasa level dua (khusus) yang mampu menahan anggota tubuh dari sia-sia. Sabda Rasulullah SAW: “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690 dan Syaikh Albani berkata, ”Hasan Shahih.”)

Mari kita hidupkan Ramadhan kali ini dengan rangkaian ibadah atau amal salih, baik yang personal (seperti sholat fardhu, khatam Al-Qur’an, tadabbur Al-Qur’an, zikir pagi dan petang, qiyamul lail, dan i’tikaf) maupun ibadah sosial (seperti sedekah, infak, wakaf, berbagi takjil, dan santunan yatim dan dhuafa). Semoga Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terbaik kita dalam rangka meraih derajat takwa. Aamiin.

*Penulis adalah anggota Forum Akselerasi Masyarakat Madani Indonesia (FAMMI). Tinggal di Depok.