Oleh: Edi Minaji Pribadi, M. Ridha Alfarabi Istiqlal, Evan Purnama Ramdan, Kartika Sari
DepokNews–Masalah sampah telah menjadi salah satu isu lingkungan paling krusial di Indonesia. Pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi masyarakat yang tinggi memicu peningkatan volume sampah setiap harinya. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sekitar 40% dari sepuluh masalah besar lingkungan di Indonesia berkaitan langsung dengan sampah. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah akan memberikan dampak serius terhadap kesehatan, lingkungan, dan keberlanjutan ekosistem. Salah satu solusi strategis adalah dengan mengedukasi masyarakat melalui pendekatan komunitas dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi.

Dalam rangka menjawab tantangan tersebut, Universitas Gunadarma menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan pendampingan pengelolaan sampah berbasis komunitas di Desa Sasakpanjang, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat yang berfokus pada pemberdayaan warga melalui integrasi antara bank sampah dan koperasi wanita.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat dan pemerintah setempat. Partisipan utama yang diundang adalah para ibu pengelola bank sampah dan koperasi wanita yang berperan aktif dalam kegiatan lingkungan di lingkungannya. Kehadiran tokoh-tokoh masyarakat juga memperkuat kolaborasi lintas sektor. Beberapa tokoh yang hadir antara lain:
• Ketua Dusun 5, Bapak Heru Purnomo
• Ketua RW 10, Bapak Imron Rosyadi
• Ketua RT 03, Bapak Ahmad Sahroni
Kehadiran mereka menunjukkan dukungan penuh terhadap inisiatif pengelolaan sampah terpadu yang berbasis pada potensi lokal.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah Forum Group Discussion (FGD) yang dipandu oleh Dr. Evan Purnama Ramdan. Diskusi ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, baik akademisi maupun praktisi lingkungan hidup.
Narasumber pertama, Dr. Edi Minaji Pribadi, Ketua KRL APEL (Kampung Ramah Lingkungan: Ayo Peduli Lingkungan) Desa Sasakpanjang, menyampaikan materi tentang sejarah dan program-program KRL APEL. Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa pengelolaan sampah sudah memiliki wadah yang jelas melalui keberadaan bank sampah. Namun, ia mengusulkan integrasi antara bank sampah dan koperasi wanita sebagai bentuk sinergi untuk meningkatkan kesejahteraan dan partisipasi masyarakat. Koperasi wanita dapat difungsikan sebagai tempat membuka tabungan sampah, sistem bagi hasil, hingga penyedia kebutuhan operasional bagi pengelola bank sampah.
Narasumber kedua, M. Ridha Alfarabi Istiqlal, M.Si., dosen Universitas Gunadarma, memaparkan masalah sampah dalam skala nasional. Ia menjelaskan bahwa 40% dari masalah lingkungan di Indonesia berasal dari sampah. Selain itu, Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) di banyak daerah telah mencapai batas kapasitas maksimal. Oleh karena itu, pengurangan volume sampah menjadi keharusan melalui penerapan prinsip 3R: Reuse, Reduce, dan Recycle.
Ridha juga menyarankan beberapa program praktis seperti penggunaan kembali wadah galon air mineral dan ember sebagai wadah komposter. Limbah rumah tangga seperti sisa makanan dan daun kering dapat dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuatan kompos. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menghasilkan pupuk organik yang bermanfaat untuk pertanian dan tanaman rumah.
Narasumber ketiga, Drs. Tri Wahyudi selaku Pendamping Lingkungan Hidup Kecamatan Tajur Halang, membawakan materi tentang urgensi pengelolaan sampah mulai dari tingkat rumah tangga. Ia menyoroti pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat melalui edukasi yang berkelanjutan, penyediaan sarana dan prasarana dasar, kolaborasi dengan mitra terkait, serta pemanfaatan teknologi informasi dan media sosial sebagai alat kampanye lingkungan.
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung program pengelolaan sampah, Universitas Gunadarma menyerahkan bantuan sarana pendukung kepada komunitas KRL APEL. Penyerahan alat komposter dan mesin copper (pencacah organik) dilakukan oleh perwakilan dari Universitas Gunadarma yaitu Tubagus Kiki Kawakibi Azmi, M.Si., dan Inti Multyo Arti, M.Sc. Bantuan ini diterima langsung oleh Diny Herlina, SP. selaku pengelola Bank Sampah dan juga oleh Drs. Tri Wahyudi untuk digunakan dalam kegiatan PLH Kecamatan Tajur Halang.
Bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem pengelolaan sampah organik di tingkat lokal dan mendorong kemandirian komunitas dalam menjalankan program lingkungan berbasis masyarakat.
Integrasi antara bank sampah dan koperasi wanita membuka peluang baru dalam pengelolaan sampah berkelanjutan. Selain meningkatkan partisipasi perempuan dalam program lingkungan, model ini juga memperkuat aspek ekonomi masyarakat. Tabungan sampah dapat menjadi instrumen keuangan alternatif yang tidak hanya mendorong budaya menabung tetapi juga memperkuat daya tahan ekonomi keluarga.
Dengan adanya koperasi sebagai mitra strategis, hasil daur ulang dapat dipasarkan lebih luas dan dikelola secara profesional. Koperasi juga dapat menyediakan pelatihan, pendampingan usaha, dan akses permodalan bagi pelaku UMKM yang berbasis produk daur ulang.
Selain itu, Tim Informatika Universitas Gunadarma (Dr. Kartika Sari dkk) juga telah memberi dukungan dalam pengembangan sistem informasi berbasis web untuk dalam rangka medukung edukasi masyarakat berbasis kampung ramah lingkungan.
Kegiatan sosialisasi dan pendampingan yang dilakukan Universitas Gunadarma di Desa Sasakpanjang bukan hanya menjadi ajang transfer pengetahuan, tetapi juga wujud nyata dari kolaborasi antara dunia akademik, masyarakat, dan pemerintah dalam menangani isu lingkungan. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi model bagi desa-desa lain dalam mengelola sampah secara terpadu, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan komunitas.
Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor, Desa Sasakpanjang semakin dekat untuk menjadi desa yang ramah lingkungan, mandiri secara ekonomi, dan berdaya dalam mengelola sampah. Universitas Gunadarma, melalui kegiatan seperti ini, telah menunjukkan bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi juga agen perubahan sosial dan lingkungan yang aktif menjawab tantangan zaman.






