Menu

Dark Mode
Ide Keren dan Kreatif, Bantuan Makan Sahur di Depok 20 Alasan Warga Nyaman Tinggal di Kota Depok Santika Hotel Depok Kenalkan Menu Malaysia Kota Depok Masuk Zona Rawan Narkoba Duh! Ada 3700 Perceraian Di Depok Selama 2016, Media Sosial Menjadi Penyebab Utama

Ragam

Psikolog: Waspada Kecanduan Medsos Alami Gangguan Mental

badge-check


					Pakar Psikologi klinis Dr. Muhammad Fakhrurrozi, M.Psi, Psi. Perbesar

Pakar Psikologi klinis Dr. Muhammad Fakhrurrozi, M.Psi, Psi.

DepokNews- Media sosial pada hari ini tidak lagi hanya untuk bersilaturahmi dan berhubungan dengan banyak orang. Tapi media sosial dijadikan ajang untuk mengumbar keluh kesah, kemarahan atau kebencian atas sebuah masalah. Orang yang lebih sering berkeluh kesah dan membenci dengan membabi buta, terus menerus dan dalam berbagai konteks menunjukkan ada sesuatu yang salah dalam jiwanya. Hal itu dibenarkan Pakar Psikologi klinis Dr. Muhammad Fakhrurrozi, M.Psi, Psi. Menurutnya, mereka selalu terfokus pada hal-hal itu dan sangat sulit untuk dialihkan atau disadarkan. “Mereka berlomba untuk mengkritik atau mencaci orang lain jika tidak sesuai harapannya. Parahnya, mereka bersuka cita atas penderitaan pihak-pihak yang selama ini mereka benci. Ini sangat memprihatinkan,”ujarnya seusai ditemui di Kampus Gunadarma, Margonda.

Menurutnya, pada 10 Oktober diperingati sebagai hari kesehatan jiwa sebagai momen refleksi pentingnya kesehatan. Ia juga mengatakan, fenomena masifnya penyebaran hoax dan mudahnya percaya informasi hoax. Sehingga, orang yang sangat dikuasai emosi (baik emosi positif atau negatif) sangat rentan termakan informasi hoax. “Belum lagi penggunaan internet yang berlebihan bisa memicu kecanduan dan bisa mengarah ke sesuatu yang tidak sehat secara mental. Walaupun sampai saat ini internet addiction masih dalam tahap riset untuk bisa dimasukkan ke dalam kategori gangguan mental, namun perlu diwaspadai,”paparnya.

Ia menambahkan, munculnya suatu kondisi yang tidak wajar jika seseorang terlambat informasi yang beredar di internet atau yang disebut FOMO (Fear of Missing Out). Menurutnya, mereka takut ketinggalan berita di sosial media atau takut nggak update. FOMO merupakan fenomena yang tidak wajar bagi para penggila media sosial. Mereka akan risau karena belum buka Twitter, Facebook, Snapchat, Path, BBM, Line, Email dan sebagainya. “Biasanya mereka akan menjadi resah dan cemas. Atau jenis lainnya yang disebut Nomophobia (no-mobile-phone phobia) adalah suatu sindrom ketakutan jika tidak mempunyai telepon genggam (atau akses ke telepon genggam). Ini merupakan salah satu gangguan mental phobia yang dialami manusia di era revolusi industri 4.0 ini,”terangnya.

Oleh karena itu, dia menyarankan semestinya menggunakan teknologi informasi ini dengan bijak. Pergunakan internet dan gadget hanya untuk mengakses dan memposting hal positif serta bisa merawat perkembangan jiwa kita menjadi lebih matang. “Jangan biarkan teknologi dan internet merusak jiwa kita. Kuasai mereka sehingga jiwa kita akan terus bertumbuh seiring dengan perkembangan teknologi informasi,”tandasnya.

Facebook Comments Box

Read More

Buka Puasa Bersama dan Silaturahmi Keluarga Besar TQ Al Muttaqin Pererat Ukhuwah di Bulan Ramadhan

12 March 2026 - 20:42 WIB

Ubaidilah Dorong Daycare untuk Para Lansia di tiap kecamatan

12 March 2026 - 11:38 WIB

Ubaidilah Minta Pembayaran Program Sekolah Swasta Gratis Dipercepat

12 March 2026 - 08:37 WIB

BIPEKA DPRa PKS Tugu Cimanggis Berbagi Bingkisan Lebaran untuk Relawan Bank Sampah

12 March 2026 - 07:38 WIB

Ramadhan Berbagi: Rumah Al-Qur’an Daarut Tarbiyah Salurkan 100 Paket Sembako dan Gelar Sanlat Anak TPA

11 March 2026 - 09:21 WIB

Trending on Ragam