PUI-START Universitas Gunadarma Perkuat Kompetensi 50 Perwakilan Kelompok Tani Cianjur melalui Pelatihan Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
Kegiatan GSCH Smart Agriculture Community Learning PUI-START Universitas Gunadarma tanggal 19-20 September 2026
Pendidikan

PUI-START Universitas Gunadarma Perkuat Kompetensi 50 Perwakilan Kelompok Tani Cianjur melalui Pelatihan Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan

20 Sep 2026Oleh -

Penulis : Rudi Irawan dan Herik Sugeru

DepokNews, DEPOK – Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertanian yang lebih produktif, adaptif, dan berkelanjutan. Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, mulai dari pengelolaan tanaman hingga kebutuhan akan praktik budidaya yang semakin efisien, peningkatan kapasitas petani menjadi langkah penting agar inovasi tidak hanya berhenti di lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga dapat diterapkan secara nyata oleh masyarakat.

Semangat tersebut diwujudkan oleh Pusat Unggulan IPTEK Smart and Sustainable Agricultural Technology (PUI-START) Universitas Gunadarma melalui kegiatan Open Innovation Hub & Technology Experience Seri 5 dan Smart Agriculture Community Learning Program Seri 1. Kegiatan yang diselenggarakan pada Sabtu–Minggu, 19–20 September 2026, di UG Technopark, Cianjur, ini melibatkan 50 perwakilan kelompok tani dari Kabupaten Cianjur.

Program ini dirancang sebagai ruang belajar bersama yang mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, dan kelompok tani. Melalui pendekatan pembelajaran yang menggabungkan pemaparan materi, evaluasi pengetahuan, demonstrasi, dan praktik langsung, peserta memperoleh kesempatan untuk mengenal sekaligus mempraktikkan sejumlah teknologi pendukung budidaya pertanian.

Materi pelatihan meliputi pembuatan pestisida nabati serta penerapan biohara dan biostimulan. Ketiga materi tersebut dipilih untuk memperkenalkan alternatif pendekatan dalam pengelolaan tanaman, sekaligus memperkuat pengetahuan dan keterampilan petani agar dapat mengambil keputusan budidaya berdasarkan pemahaman yang lebih baik.

Salah satu capaian kegiatan ini terlihat dari hasil evaluasi pembelajaran. Berdasarkan pelaksanaan pretest dan post-test, rata-rata pemahaman dan keterampilan peserta meningkat dari 50 persen sebelum pelatihan menjadi 80 persen setelah mengikuti rangkaian kegiatan. Hasil tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 30 poin persentase dan menjadi indikasi positif atas manfaat pendekatan pembelajaran yang memadukan teori dengan praktik.

PUI-START Menuju Open Living Laboratory, Sains Harus Berdampak bagi Masyarakat

Sekretaris PUI-START Universitas Gunadarma, Dr. Herik Sugeru, S.P., M.M.S.I., menjelaskan bahwa kegiatan Open Innovation Hub & Technology Experience Seri 5 dan Smart Agriculture Community Learning Program Seri 1 merupakan bagian dari rangkaian program Gunadarma Smart Communitypreneur Hub. Program tersebut diusulkan dan memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Program Semesta Saintek–InSaintek 2026.

Menurut beliau, kegiatan ini tidak dirancang sebagai pelatihan yang berhenti setelah seluruh rangkaian acara selesai. Sebaliknya, kegiatan tersebut merupakan titik awal untuk membangun proses pembelajaran, pendampingan, dan pemanfaatan inovasi yang berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya para pelaku pertanian di Kabupaten Cianjur.

“Program ini merupakan bagian dari rangkaian Gunadarma Smart Communitypreneur Hub yang diusulkan dan didanai oleh Kemdiktisaintek melalui Program Semesta Saintek–InSaintek 2026. Bagi kami, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan selama dua hari, melainkan titik awal untuk membangun proses pembelajaran yang harus terus dijaga keberlanjutannya,” jelas Herik.

Ia menambahkan, PUI-START Universitas Gunadarma memiliki komitmen untuk terus mengembangkan diri sebagai Open Living Laboratory, yaitu ruang kolaborasi dan pembelajaran terbuka yang mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan serta menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Melalui pendekatan tersebut, UG Technopark diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk memperkenalkan teknologi pertanian, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar, mencoba, berdiskusi, dan mengembangkan solusi berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan.

“Komitmen kami adalah membumikan sains agar tidak hanya berkembang di lingkungan akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas secara berkesinambungan. Karena itu, PUI-START akan terus mendorong kolaborasi dan pembelajaran yang memungkinkan petani memperoleh akses terhadap pengetahuan, teknologi, serta pendampingan yang relevan dengan kebutuhan mereka,” tambahnya.

Herik berharap, melalui keberlanjutan program tersebut, hubungan antara perguruan tinggi dan kelompok tani dapat semakin kuat. Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan secara bertahap, dibagikan kepada kelompok tani lainnya, dan dikembangkan melalui pendampingan serta evaluasi penerapan teknologi di lapangan.

Mempertemukan Inovasi Kampus dan Kebutuhan Petani

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya PUI-START Universitas Gunadarma dalam memperkuat hubungan antara pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, dan kebutuhan masyarakat pertanian. Melalui Open Innovation Hub & Technology Experience, peserta diperkenalkan pada pengetahuan dan pengalaman teknologi yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan praktik pertanian. Sementara itu, Smart Agriculture Community Learning Program menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk memahami dan mempraktikkan teknologi pertanian secara lebih aplikatif.

Pendekatan tersebut menempatkan petani bukan sekadar sebagai penerima informasi, melainkan sebagai pelaku utama yang perlu memiliki pemahaman dan keterampilan untuk menilai kesesuaian teknologi dengan kondisi usaha tani masing-masing.

Dalam pelaksanaannya, PUI-START Universitas Gunadarma menghadirkan dua narasumber dari Institut Pertanian Bogor (IPB), yaitu Prof. Abdul Munif dan Prof. Elis Nina Herliyana. Keterlibatan akademisi IPB memberikan penguatan keilmuan dalam penyampaian materi dan pelaksanaan pembelajaran, sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Melalui pemaparan materi, peserta mendapatkan penjelasan mengenai prinsip dasar penerapan teknologi yang diperkenalkan. Selanjutnya, pengetahuan tersebut dihubungkan dengan praktik agar peserta memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai tahapan pelaksanaan, tujuan penggunaan, serta hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penerapannya.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Cianjur, yaitu Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Fasilitasi Penyuluhan, Ibu Inna Ratna Sofia, S.P., M.I.L., M.Sc., beserta jajaran. Turut hadir Camat Mande, H. Epi Rusmana, S.H., S.IP., M.M., beserta jajaran, sejumlah penyuluh pertanian lapangan, serta perwakilan kelompok tani yang mengikuti pelatihan.

Kehadiran unsur pemerintah daerah dan penyuluh pertanian menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan dan teknologi. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui keahlian akademik dan pengembangan inovasi, sedangkan pemerintah daerah dan penyuluh memiliki peran strategis dalam menjembatani kebutuhan petani dengan program pendampingan di lapangan.

Dengan demikian, pelatihan ini tidak hanya menjadi agenda transfer pengetahuan selama dua hari, tetapi juga diharapkan menjadi titik awal bagi penguatan jejaring pembelajaran pertanian di Kabupaten Cianjur.

Pestisida Nabati: Mengenalkan Alternatif Pengelolaan Tanaman

Salah satu materi utama dalam kegiatan ini adalah pelatihan pembuatan pestisida nabati. Materi tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal pemanfaatan bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan sebagai salah satu alternatif dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Bagi petani, pemahaman mengenai pengendalian organisme pengganggu tanaman merupakan bagian penting dalam kegiatan budidaya. Pengendalian yang tepat membutuhkan pengetahuan mengenai jenis gangguan, karakteristik tanaman, kondisi lingkungan, serta metode penanganan yang sesuai. Karena itu, pengenalan pestisida nabati menjadi salah satu upaya untuk memperluas wawasan petani mengenai pilihan teknik pengelolaan tanaman.

Dalam sesi praktik, peserta memperoleh pengalaman belajar melalui kegiatan pembuatan pestisida nabati dengan pendampingan narasumber dan tim pelaksana. Pendekatan ini memungkinkan peserta menghubungkan penjelasan yang telah diterima dengan tahapan praktik secara langsung.

Pembelajaran semacam ini penting karena pengetahuan yang disampaikan secara teoritis belum tentu mudah diterapkan tanpa pengalaman praktik. Dengan mencoba secara langsung, peserta memiliki kesempatan untuk memahami proses, mengajukan pertanyaan, dan mendiskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan penerapan teknologi di lingkungan usaha tani.

Pengenalan pestisida nabati juga perlu ditempatkan dalam kerangka pengelolaan tanaman yang bertanggung jawab. Penggunaan bahan nabati tidak secara otomatis menjamin bahwa suatu bahan aman bagi semua organisme atau efektif terhadap seluruh jenis hama. Oleh karena itu, pemilihan bahan, cara pembuatan, dosis, serta metode aplikasi perlu memperhatikan karakteristik sasaran dan petunjuk teknis yang tepat.

Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan memperoleh bekal awal untuk memahami alternatif pengendalian tanaman secara lebih luas dan mampu mempertimbangkan penerapannya sesuai kebutuhan. Pengetahuan tersebut selanjutnya dapat dikembangkan melalui pendampingan, pengujian, dan pengamatan hasil di lahan usaha tani.

Biohara dan Biostimulan: Memahami Teknologi Pendukung Budidaya

Selain pestisida nabati, kegiatan ini memberikan pelatihan mengenai penerapan biohara dan biostimulan. Materi tersebut memperluas cakupan pembelajaran peserta, dari pengelolaan organisme pengganggu tanaman hingga pendekatan yang berkaitan dengan pengelolaan nutrisi dan dukungan terhadap pertumbuhan tanaman.

Dalam praktik pertanian, kebutuhan tanaman tidak hanya berkaitan dengan pengendalian hama dan penyakit. Pengelolaan kesuburan, ketersediaan unsur hara, kondisi media tanam, dan pertumbuhan tanaman juga menjadi bagian penting dalam menentukan keberhasilan budidaya. Karena itu, pengenalan teknologi pendukung pertanian perlu disertai pemahaman mengenai fungsi, cara penggunaan, dan kesesuaiannya dengan kondisi tanaman.

Pelatihan biohara dan biostimulan dilaksanakan di Zona Buah Tabulampot UG Technopark. Di lokasi tersebut, peserta memperoleh pengalaman belajar melalui praktik penerapan pada tanaman buah dalam pot atau tabulampot.

Pemilihan lokasi praktik memberikan konteks pembelajaran yang lebih konkret. Peserta dapat mengamati objek tanaman secara langsung dan mendiskusikan penerapan teknologi pada sistem budidaya yang diperagakan. Pengalaman ini diharapkan membantu peserta memahami bahwa penggunaan teknologi pertanian memerlukan penyesuaian dengan jenis tanaman, media tanam, kondisi lingkungan, dan tujuan budidaya.

Melalui rangkaian praktik tersebut, peserta diharapkan semakin memahami pentingnya mengintegrasikan pengetahuan budidaya dengan pemanfaatan teknologi secara tepat. Penerapan teknologi tidak semata-mata ditentukan oleh tersedianya produk atau bahan, tetapi juga oleh kemampuan pengguna dalam memahami fungsi, mengikuti petunjuk penggunaan, dan mengevaluasi hasil penerapannya.

Pada tahap berikutnya, pendampingan dan pengamatan di lahan usaha tani menjadi hal yang penting untuk mengetahui sejauh mana materi pelatihan dapat diterapkan dalam kondisi nyata. Dengan demikian, pembelajaran yang berlangsung di UG Technopark dapat menjadi bekal bagi peserta untuk mengembangkan praktik budidaya yang lebih terarah.

Hasil Evaluasi Menunjukkan Peningkatan Pemahaman Peserta

Untuk melihat perkembangan peserta selama kegiatan, tim pelaksana menggunakan pretest dan post-test sebagai instrumen evaluasi. Pretest dilaksanakan untuk mengetahui gambaran awal pengetahuan peserta, sedangkan post-test digunakan untuk melihat capaian setelah peserta mengikuti pembelajaran dan praktik.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa rata-rata pemahaman dan keterampilan awal peserta berada pada angka 50 persen. Setelah mengikuti pelatihan, rata-rata capaian tersebut meningkat menjadi 80 persen. Dengan demikian, terdapat kenaikan sebesar 30 poin persentase berdasarkan hasil evaluasi yang disampaikan oleh penyelenggara.

Peningkatan tersebut menjadi indikator awal bahwa pelatihan berbasis praktik memiliki potensi untuk memperkuat pemahaman peserta terhadap materi yang diberikan. Ketika penjelasan akademik dilengkapi dengan demonstrasi dan kesempatan mencoba secara langsung, peserta memperoleh pengalaman belajar yang lebih beragam.

Meski demikian, hasil evaluasi tersebut perlu dipahami sesuai ruang lingkup pengukurannya. Peningkatan nilai pretest dan post-test menunjukkan perubahan capaian pembelajaran, tetapi belum dengan sendirinya membuktikan peningkatan produktivitas atau pendapatan petani. Dampak yang lebih luas memerlukan pengamatan lanjutan terhadap penerapan teknologi, perubahan praktik budidaya, serta hasil usaha tani dalam periode tertentu.

Karena itu, capaian evaluasi dalam kegiatan ini dapat menjadi dasar untuk mengembangkan program pembelajaran berikutnya. Materi yang telah diberikan dapat diperkuat melalui pendampingan, diskusi kelompok tani, demonstrasi lanjutan, serta evaluasi penerapan di lapangan.

Antusiasme peserta selama mengikuti rangkaian kegiatan juga menjadi modal penting bagi keberlanjutan pembelajaran. Ketertarikan peserta terhadap materi dan praktik membuka peluang bagi pengembangan komunikasi antara akademisi, penyuluh, dan petani dalam membahas kebutuhan serta tantangan pertanian secara lebih spesifik.

Kolaborasi untuk Pertanian Cianjur yang Lebih Berkelanjutan

Penguatan kapasitas petani membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Perguruan tinggi memiliki peran dalam mengembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan, pemerintah daerah dapat mendukung fasilitasi dan koordinasi, sedangkan penyuluh pertanian berperan penting dalam mendampingi masyarakat agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan sesuai kondisi lapangan.

Dalam konteks tersebut, kegiatan yang diselenggarakan PUI-START Universitas Gunadarma di UG Technopark menjadi salah satu bentuk kolaborasi untuk mendekatkan inovasi dengan kebutuhan masyarakat. Keterlibatan 50 perwakilan kelompok tani diharapkan dapat memperluas jangkauan pembelajaran melalui pertukaran pengalaman dan penyebaran pengetahuan di lingkungan kelompok tani masing-masing.

Ke depan, keberhasilan pengembangan pertanian cerdas tidak cukup diukur dari seberapa banyak teknologi diperkenalkan. Hal yang tidak kalah penting adalah sejauh mana petani mampu memahami manfaat dan keterbatasan teknologi, menentukan penerapan yang sesuai, serta menilai hasilnya secara berkelanjutan.

Oleh sebab itu, kegiatan pembelajaran seperti ini perlu didukung oleh program lanjutan yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman petani. Dengan pendekatan tersebut, inovasi dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata, sementara petani memperoleh ruang untuk menyampaikan pengalaman, tantangan, dan hasil penerapan teknologi di lapangan.

PUI-START Universitas Gunadarma berharap kegiatan Open Innovation Hub & Technology Experience dan Smart Agriculture Community Learning Program dapat berkontribusi terhadap penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian di Cianjur. Kolaborasi yang terbangun diharapkan terus berkembang sehingga semakin banyak pelaku pertanian yang memiliki akses terhadap pengetahuan, keterampilan, dan teknologi pendukung budidaya.

Apresiasi kepada Kemdiktisaintek, Universitas Gunadarma, dan Pemerintah Daerah Cianjur

Terselenggaranya kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. PUI-START Universitas Gunadarma menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) atas pendanaan yang diberikan melalui Program Semesta Saintek–InSaintek 2026. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong pelaksanaan kegiatan yang mempertemukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kebutuhan masyarakat.

Apresiasi juga disampaikan kepada Universitas Gunadarma atas dukungan terhadap penyelenggaraan program, termasuk pemanfaatan UG Technopark sebagai ruang pembelajaran dan praktik pertanian. Dukungan institusi perguruan tinggi menjadi modal penting dalam memperkuat pelaksanaan kegiatan yang berorientasi pada pemanfaatan inovasi secara lebih luas.

Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur, khususnya jajaran Dinas TPHP Kabupaten Cianjur, Kecamatan Mande, serta para penyuluh pertanian yang telah hadir dan mendukung kegiatan ini. Sinergi dengan pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan pembelajaran serta membuka peluang bagi pengembangan kegiatan serupa yang sesuai dengan kebutuhan petani setempat.

PUI-START Universitas Gunadarma juga mengapresiasi kontribusi Institut Pertanian Bogor melalui Prof. Abdul Munif dan Prof. Elis Nina Herliyana sebagai narasumber, serta partisipasi seluruh perwakilan kelompok tani yang mengikuti kegiatan dengan antusias.

Kolaborasi tersebut menegaskan bahwa pengembangan pertanian berkelanjutan memerlukan keterlibatan bersama. Pendanaan program, dukungan perguruan tinggi, fasilitasi pemerintah daerah, kontribusi akademisi, dan partisipasi petani merupakan unsur yang saling melengkapi dalam memperluas manfaat inovasi.

Melalui kegiatan ini, PUI-START Universitas Gunadarma berkomitmen untuk terus mendorong pembelajaran dan pemanfaatan teknologi pertanian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Peningkatan capaian evaluasi dari rata-rata 50 persen menjadi 80 persen menjadi salah satu pijakan untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih baik, sekaligus memperkuat upaya membangun pertanian yang adaptif dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, inovasi pertanian akan memberikan manfaat yang lebih luas ketika pengetahuan dapat dipahami, teknologi dapat diterapkan secara tepat, dan hasil penerapannya terus dievaluasi. Dengan dukungan berbagai pihak, kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari langkah berkelanjutan untuk memperkuat kompetensi petani dan mendorong kemajuan sektor pertanian di Kabupaten Cianjur.

Mendorong Pertanian yang Adaptif dan Berkelanjutan

Antusiasme peserta selama mengikuti rangkaian kegiatan menunjukkan besarnya peluang pengembangan pembelajaran pertanian berbasis praktik. Bagi petani, penguasaan teknik budidaya yang tepat menjadi modal penting untuk mengambil keputusan di lapangan. Sementara itu, bagi akademisi dan pemerintah daerah, interaksi langsung dengan kelompok tani membuka ruang untuk memahami kebutuhan serta tantangan yang dihadapi dalam kegiatan produksi pertanian.

Melalui Open Innovation Hub & Technology Experience dan Smart Agriculture Community Learning Program, PUI-START Universitas Gunadarma berupaya membangun jembatan antara hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan penerapannya di masyarakat. Inovasi pertanian diharapkan tidak hanya menjadi pengetahuan di lingkungan akademik, tetapi juga dapat dipahami, diuji, dan dimanfaatkan oleh petani sesuai kebutuhan mereka.

Peningkatan hasil evaluasi dari rata-rata 50 persen menjadi 80 persen menjadi salah satu capaian kegiatan ini. Ke depan, penguatan kapasitas petani perlu diikuti dengan pendampingan berkelanjutan, penerapan di lahan usaha tani, serta evaluasi hasil agar manfaat teknologi dapat dinilai secara lebih nyata.

Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, penyuluh, dan kelompok tani, pengembangan pertanian cerdas dan berkelanjutan di Cianjur diharapkan semakin terbuka. Bukan sekadar mengenalkan teknologi baru, kegiatan ini menjadi langkah untuk menumbuhkan petani yang lebih terampil, adaptif, dan siap menghadapi tantangan pertanian masa depan.

Peserta Berharap Pembelajaran Pertanian Berlanjut

Manfaat kegiatan juga dirasakan oleh peserta yang mengikuti pelatihan. Pembelajaran yang memadukan penyampaian materi dengan praktik langsung memberikan kesempatan bagi petani untuk mengenal pendekatan baru dalam pengelolaan tanaman. Materi mengenai pembuatan pestisida nabati serta penerapan biohara dan biostimulan menjadi bekal awal yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan usaha tani masing-masing.

Salah seorang peserta yang mewakili kelompok tani di Kabupaten Cianjur menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang bermanfaat. Selain memperoleh pengetahuan baru, peserta juga berkesempatan mempraktikkan materi dan berdiskusi langsung dengan narasumber.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai petani. Kami tidak hanya mendapatkan penjelasan materi, tetapi juga bisa melihat dan mempraktikkan secara langsung teknologi yang diperkenalkan. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan sehingga kami bisa belajar lebih banyak dan meningkatkan keterampilan dalam mengelola usaha tani,” ungkapnya.

Ia juga berharap PUI-START Universitas Gunadarma melalui UG Technopark dapat menjadi tempat pembelajaran berkelanjutan bagi kelompok tani di Cianjur. Dengan adanya kesempatan untuk mengikuti pelatihan lanjutan dan memperoleh pendampingan, petani diharapkan dapat memperdalam pemahaman serta mengembangkan penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman.

Harapan tersebut sejalan dengan tujuan program, yakni memperluas akses petani terhadap pengetahuan dan inovasi pertanian sekaligus membangun hubungan pembelajaran yang tidak berhenti pada satu kegiatan. Keberlanjutan program diharapkan dapat membuka ruang bagi petani untuk bertukar pengalaman, mendiskusikan kendala yang dihadapi, serta mengevaluasi penerapan teknologi bersama akademisi dan penyuluh pertanian.

Pemerintah Daerah Apresiasi Pelatihan bagi Petani Cianjur

Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur. Perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Cianjur, melalui Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Fasilitasi Penyuluhan, Inna Ratna Sofia, S.P., M.I.L., M.Sc., mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang dinilai memberikan ruang belajar dan penguatan kapasitas bagi para petani.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PUI-START Universitas Gunadarma atas penyelenggaraan kegiatan ini. Pelatihan seperti ini sangat bermanfaat bagi para petani karena memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan yang dapat menjadi bekal dalam kegiatan usaha tani. Kami berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan agar semakin banyak petani memperoleh kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kemampuannya,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan pembelajaran yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, penyuluh, dan kelompok tani merupakan kesempatan untuk memperkuat pertukaran pengetahuan serta memperluas wawasan petani mengenai perkembangan teknologi pertanian.

Keberlanjutan kegiatan juga diharapkan dapat mendukung proses penyuluhan pertanian, sehingga materi yang diperoleh peserta dapat diteruskan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan di wilayah masing-masing. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh peserta yang hadir, tetapi juga berpotensi menjangkau kelompok tani lainnya melalui berbagi pengalaman dan pendampingan.

Apresiasi dari pemerintah daerah tersebut sekaligus memperkuat pentingnya sinergi antarpemangku kepentingan dalam membangun sektor pertanian. Perguruan tinggi berkontribusi melalui pengetahuan dan inovasi, pemerintah daerah melalui dukungan serta fasilitasi, sementara petani menjadi pelaku utama dalam penerapan teknologi di lapangan.

Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, kegiatan pembelajaran pertanian diharapkan dapat terus dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat. PUI-START Universitas Gunadarma, dengan dukungan Kemdiktisaintek melalui Program Semesta Saintek–InSaintek 2026, Universitas Gunadarma, Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur, IPB, dan para pemangku kepentingan lainnya, diharapkan dapat terus membuka ruang kolaborasi untuk mendorong pertanian yang adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.

Berita Terkait