Menu

Dark Mode
Ide Keren dan Kreatif, Bantuan Makan Sahur di Depok 20 Alasan Warga Nyaman Tinggal di Kota Depok Santika Hotel Depok Kenalkan Menu Malaysia Kota Depok Masuk Zona Rawan Narkoba Duh! Ada 3700 Perceraian Di Depok Selama 2016, Media Sosial Menjadi Penyebab Utama

Pendidikan

Rasionalitas di Era “Jempol Gelisah”

badge-check

Oleh: Ainul Huda (Staf Pengajar FEB-UI)

Depoknews- Barangkali kita semua pernah membeli sesuatu secara daring (online) hanya karena notifikasi di gawai: “stok hampir habis”, bukan karena kita benar-benar membutuhkan. Jempol sekejap bergerak lebih cepat dari otak kita. Di hari-hari ini, ribuan, mungkin jutaan orang pernah merasakan dorongan untuk mencoba makanan tertentu atau pergi ke suatu tempat yang sedang viral, demi satu alasan, takut tertinggal atau dianggap kurang updet (kudet) oleh orang lain. Inilah drama modern bernama FOMO, fear of missing out.

Data statistik mengindikasikan kenaikan belanja online dan perjalanan wisata secara signifikan. BPS mencatat transaksi online dari e-retail dan marketplace naik hingga 6,19% (q-to-q) di Q3-2025 (BPS, 2025). Hingga tahun akhir 2024, volume transaksi e-commerce nasional mencapai Rp487 triliun, atau meningkat 7,3% dari tahun 2023, disertai  dengan kenaikan jumlah transaksi (BI, 2024). Demikian juga perjalanan wisata meningkat signifikan, 18,9% di tahun 2024 (y-to-y), 79,3% di antaranya melalui perjalanan udara (BPS, 2025). Kemudahan akses internet dipandang berkontribusi pada tren positif ini.

Pola belanja ini juga sejalan dengan konsumsi jangka pendek yang digerakkan oleh tren, promo, dan kampanye flash sale yang sering memanfaatkan fenomena FOMO sebagai strategi pemasaran. Tak disangkal, tren ini turut memengaruhi konsumsi agregat dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.

Namun, ketergantungan konsumsi yang dipicu FOMO bisa membawa konsekuensi jangka panjang: rumah tangga berisiko mengurangi tabungan, pelaku usaha terdorong mengejar produk-produk viral dalam jangka pendek, dan perekonomian menjadi lebih rentan terhadap perubahan tren yang cepat.

Rasionalitas Terbatas

FOMO lahir dari ketakutan sederhana: takut tertinggal, takut tidak ikut tren. Di era digital, ternyata kita tidak hanya memilih baju atau makanan karena semata nilai guna, tapi juga membandingkan hidup kita dengan ribuan orang lain di layar ponsel. Ketika banyak orang tampak lebih cepat, lebih bahagia, lebih gaya, kita pun tergoda ikut keputusan mereka.

Teori rasionalitas klasik memandang manusia sebagai makhluk logis dalam membuat pilihan: dari mengumpulkan informasi, menimbang biaya dan manfaat, lalu memilih alternatif terbaik. Tapi siapa yang sempat melakukan itu ketika notifikasi diskon, atau tren TikTok berlalu secepat kedipan mata? Faktanya, banyak keputusan yang lahir bukan dari analisis matang, melainkan dari emosi sosial, rasa takut tertinggal.

Namun, jangan buru-buru menilai penganut FOMO ini irrational. Keputusan yang terdorong FOMO tetap bisa dipandang rasional, tetapi terbatas. Konsep rasional terbatas (bounded rationality) diperkenalkan oleh Herbert Simon dalam artikel “a behavioral model of rational choice” (1955) yang kemudian dikembangkan dalam dua karya lainnya: model of man: social and rational (1957) dan theories of bounded rationality (1972), berangkat dari premis sederhana: manusia sebenarnya ingin rasional, tetapi keterbatasan informasi, waktu, energi, dan mental menghalangi untuk selalu memilih yang “terbaik”.

Dulu, oleh karena tidak semua informasi tersedia atau mudah diperoleh, pilihan yang diambil menjadi tidak optimal. Saat ini, informasi bukan lagi sumber keterbatasan. Banjir informasi dari media sosial, notifikasi belanja dari TikTok, atau tren (belanja, aktivitas, investasi) memaksa seseorang untuk mengambil keputusan atau pilihan secara cepat.

Informasi melimpah ternyata menyebabkan ruang seleksi menjadi terbatas, sehingga pilihan mungkin dibuat tidak dengan matang. Sulitnya menyeleksi informasi menyebabkan menurunnya kemampuan kognisi dalam memilih. Pada akhirnya, pilihan bukan yang paling optimal (maximizing), tetapi hanya “cukup baik”, atau sekadar dapat memenuhi hasrat dan mudah dilakukan. Herbert A. Simon menyebut ini sebagai satisficing, memilih keputusan yang memadai, bukan yang sempurna.

Nilai, Identitas, dan Kebebasan yang Terdistorsi

Apakah rasionalitas selalu mendasari pilihan? Amartya Sen melihat bahwa keterbatasan kognisi belum sepenuhnya menjelaskan perilaku. Nilai dan identitas juga andil mendasari lahirnya pilihan. Dalam esai klasiknya, a critique of the behavioral foundations of economic theory (1977), Sen menggunakan istilah Rational Fools, di mana ia menolak anggapan bahwa pilihan dibuat hanya demi kepentingan pribadi. Banyak pilihan justru muncul dari komitmen sosial, keinginan untuk menjadi bagian dari kelompok, menjaga reputasi, atau mempertahankan identitas.

Perilaku konsumsi yang mengikuti tren, tidak semata-mata didorong oleh faktor utilitas, membentuk sebuah nilai sosial modern: keinginan untuk tetap dianggap relevan, kekinian, dan “tidak tertinggal”. Dari perspektif ini, perilaku yang terdorong FOMO merupakan bentuk pilihan berbasis nilai (kekinian) dan identitas, yang mencerminkan bagaimana manusia memaknai keberadaan dirinya di tengah tekanan sosial digital.

Untung-rugi bukan semata pertimbangan dalam mengambil keputusan. Nilai, pengakuan, dan identitas sosial, menyebabkan pilihan yang kita buat tidak berdiri sendiri, terbentuk dari apa yang kita dan orang lain anggap penting. Mungkin, di situlah rasionalitas, nilai, dan identitas menemukan rumah bersama di dalam FOMO.

Namun, ada ironi menarik di era digital saat ini: pilihan yang makin beragam dan ruang kebebasan memilih yang makin besar terdistorsi oleh notifikasi, algoritma, dan selera kolektif yang diproduksi oleh sosial media.

Gagasan Amartya Sen tentang “kebebasan yang beralasan” (reasoned freedom) menuntut ruang pertimbangan yang jernih: memilih berdasarkan akal sehat, alasan yang dipahami dan nilai yang diyakini. Kebebasan menurut Sen bukan hanya terkait kemampuan untuk memilih, tetapi termasuk kemampuan untuk menimbang alasan di balik pilihan yang dibuat. Sen menekankan bahwa pilihan yang baik lahir dari refleksi terhadap nilai-nilai yang dianggap bermakna. Pilihan yang terburu-buru dibentuk oleh tren viral, impresi sosial, atau rasa takut tertinggal mendegradasi proses reflektif ini.

Karena FOMO, ruang pertimbangan dalam membuat pilihan menyempit, di mana preferensi personal digeser oleh preferensi kolektif yang dikonstruksi secara sosial. Dalam kondisi seperti ini, kebebasan memilih melemah, karena pilihan lebih dominan ditopang nilai-nilai yang didefinisikan oleh lingkungan digital.

Menjaga Keberlanjutan Pertumbuhan Ekonomi      

Di era ekonomi digital yang bergerak begitu cepat, FOMO berkembang bukan hanya menjadi fenomena sosial, tetapi juga berfungsi sebagai dorongan konsumsi. Fenomena ini memengaruhi preferensi, membentuk pola konsumsi, dan dalam batas tertentu berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Oleh karena itu, sulit mengabaikan peran FOMO sebagai salah satu kekuatan ekonomi-sosial baru yang turut membentuk perilaku pasar.

Namun, konsumsi yang ditopang tren dan preferensi jangka pendek yang persisten dapat memengaruhi misalokasi sumber daya dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang, serta mengurangi insentif R&D bagi industri (We Dou, et al., 2025). Jika modal, tenaga kerja, dan inovasi terserap ke sektor dan produk yang populer sesaat, maka perekonomian mungkin tampak dinamis di permukaan, tetapi menyimpan kerentanan struktural dalam jangka panjang.

Kita sedang berada di persimpangan antara budaya konsumsi cepat dan kebutuhan untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Literasi keuangan dan pengetahuan finansial yang lebih baik perlu didorong, agar kesadaran masyarakat untuk konsumsi yang lebih berkualitas meningkat dan tidak semata-mata soal tren.

Hasil studi lintas negara menunjukkan bahwa literasi keuangan memperkuat resiliensi psikologis, di mana rumah tangga lebih bijak dalam membuat keputusan, mengurangi konsumsi impulsif, berhati-hati dalam berhutang dan mampu membuat rencana jangka panjang (Lusardi & Mitchel, 2014).

Tren selalu datang dan pergi. Terkadang yang kita butuhkan bukan promo, melainkan kematangan dan kemampuan menahan Jempol saat muncul notifikasi di gawai, “Buruan, tinggal 10 menit lagi!.”

Facebook Comments Box

Read More

Aset vs Omzet vs Laba di Laporan Keuangan

31 January 2026 - 12:47 WIB

Lika-liku Aktivasi Akun Coretax WPOP Menjelang Pelaporan SPT Orang Pribadi Tahun Pajak 2025 di Tax Clinic – FEB UI

31 January 2026 - 08:35 WIB

Penerapan IFRS 17 di ASEAN dan Dampaknya terhadap Kapasitas Asuransi Domestik: Pembelajaran bagi Pendidikan Ekonomi dan Akuntansi

29 January 2026 - 18:02 WIB

Penerapan IFRS 17 di ASEAN dan Dampaknya terhadap Kapasitas Asuransi Domestik: Pembelajaran bagi Pendidikan Ekonomi dan Akuntansi

29 January 2026 - 13:06 WIB

PSAK 117 dalam Pendidikan Akuntansi: Reposisi Standar Kontrak Asuransi sebagai Instrumen Akuntabilitas Publik pada Asuransi Sosial

29 January 2026 - 12:57 WIB

Trending on Pendidikan