Menu

Dark Mode
Ide Keren dan Kreatif, Bantuan Makan Sahur di Depok 20 Alasan Warga Nyaman Tinggal di Kota Depok Santika Hotel Depok Kenalkan Menu Malaysia Kota Depok Masuk Zona Rawan Narkoba Duh! Ada 3700 Perceraian Di Depok Selama 2016, Media Sosial Menjadi Penyebab Utama

Pendidikan

Pengabdian Masyarakat Universitas Gunadarma Dorong Penguatan Karakter Anak Binaan melalui Psikologi Positif

badge-check


					Pengabdian Masyarakat Universitas Gunadarma Dorong Penguatan Karakter Anak Binaan melalui Psikologi Positif Perbesar

DepokNews–Dalam upaya mendukung pembinaan mental dan pengembangan karakter anak binaan, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Gunadarma bekerja sama dengan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia menyelenggarakan kegiatan bertema “Psikologi Positif untuk Masa Depan Lebih Baik: Membangun Karakter dan Nilai-Nilai Kebajikan bagi Anak Binaan LPKA Kelas I Tangerang”. Kegiatan yang berlangsung di LPKA Kelas I Tangerang ini menghadirkan psikoedukasi pemaafan menggunakan metode REACH sebagai sarana membangun empati, pengendalian diri, dan pola pikir positif bagi anak binaan.

 

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua LPKA Kelas I Tangerang, Bapak Aldikan Nasution, A.Md.IP., S.H., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pembinaan anak binaan perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui penegakan disiplin, tetapi juga melalui penguatan karakter dan kesehatan psikologis agar mereka memiliki kesiapan menghadapi masa depan secara lebih baik.

 

Kegiatan PKM ini dikoordinatori oleh Dr. Ni Made Taganing, S.Psi., M.Psi., Psikolog bersama tim yang terdiri dari 10 orang dosen dan mahasiswa Universitas Gunadarma. Dalam inti sambutannya, Dr. Ni Made Taganing menjelaskan bahwa pemaafan memiliki manfaat penting bagi kesehatan psikologis seseorang. Menurutnya, individu yang mampu memaafkan akan lebih mudah mengelola emosi, berpikir lebih jernih sebelum bertindak, dan tidak mudah dikuasai oleh kemarahan, dendam, maupun emosi negatif lainnya. Ia menekankan bahwa memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi memberi kesempatan bagi diri sendiri untuk hidup lebih tenang dan fokus membangun masa depan yang lebih baik.

 

Program psikoedukasi ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan psikologis anak binaan, menanamkan nilai-nilai kebajikan seperti empati, kepedulian, toleransi, dan pengendalian diri, serta membantu mereka membangun pola pikir yang lebih positif. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat membentuk anak binaan menjadi “agen pemaafan” yang mampu menyebarkan semangat perdamaian, saling menghargai, dan penyelesaian konflik secara positif di lingkungan sekitarnya.

 

Dalam kegiatan tersebut, peserta mengikuti latihan pemaafan menggunakan metode REACH yang terdiri atas lima tahapan. Pada tahap Recall the Hurt, peserta diajak mengingat pengalaman menyakitkan yang pernah dialami dan mengenali emosi yang muncul dari pengalaman tersebut. Tahap Empathize membantu peserta memahami sudut pandang orang lain dan belajar melihat konflik secara lebih luas. Melalui diskusi kelompok dan refleksi pengalaman, peserta mulai memahami bahwa setiap tindakan memiliki latar belakang tertentu. Banyak peserta mengaku latihan ini membantu mereka lebih mampu berpikir sebelum bertindak dan tidak langsung bereaksi berdasarkan emosi. Selanjutnya pada tahap Altruistic Gift of Forgiveness, peserta diajak memahami bahwa memaafkan merupakan bentuk kebaikan yang dapat memberikan ketenangan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Pada tahap Commit, peserta menuliskan komitmen pribadi untuk memaafkan dan memperbaiki diri. Beberapa peserta mengaku merasa lebih lega setelah menuliskan perasaan yang selama ini dipendam. Sementara pada tahap Hold On, peserta dilatih mempertahankan keputusan untuk memaafkan ketika emosi negatif kembali muncul.

 

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui diskusi kelompok, berbagi pengalaman, dan latihan refleksi diri. Suasana hangat dan penuh keterbukaan terlihat ketika peserta mulai berani menyampaikan pengalaman hidup serta perasaan yang selama ini sulit diungkapkan. Dalam sesi refleksi, peserta menyampaikan bahwa latihan tersebut membantu mereka belajar menenangkan diri dan berpikir lebih matang sebelum mengambil keputusan. Salah satu peserta binaan kasus tawuran mengungkapkan bahwa sebelumnya ia menyimpan dendam kepada seseorang yang dianggap menyebabkan dirinya harus menjalani pembinaan di LPKA. Namun setelah mengikuti latihan pemaafan, ia mendapatkan pemahaman bahwa menyimpan dendam sama dengan merusak masa depannya sendiri. Ia menyadari bahwa terus hidup dalam kemarahan hanya akan membuat dirinya sulit berkembang dan menghambat proses perubahan diri. Beberapa peserta menyampaikan kesan bahwa kegiatan ini membuat mereka merasa lebih tenang, dan lebih memiliki harapan untuk memperbaiki diri. Ada pula peserta yang merasa lebih termotivasi memperbaiki hubungan dengan keluarga maupun lingkungan sekitar setelah memahami pentingnya memaafkan.

 

Melalui kolaborasi antara Universitas Gunadarma dan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia ini, diharapkan proses pembinaan anak binaan dapat semakin humanis dan berorientasi pada pengembangan karakter. Pendekatan psikologi positif yang diterapkan menjadi langkah nyata dalam membantu anak binaan membangun kehidupan yang lebih baik dan menatap masa depan dengan harapan baru.

Facebook Comments Box

Read More

Pengabdian Masyarakat Universitas Gunadarma Gelar Psikoedukasi Pemaafan bagi Anak Binaan LPKA Tangerang

6 June 2026 - 16:12 WIB

Pelantikan Pengurus Yayasan Pendidikan Ruhama dan Pimpinan Sekolah Tahun Ajaran 2026/2027

6 June 2026 - 04:46 WIB

Ungguli Jawa Barat dan Nasional, Nilai TKA SMPIT Nurul Fikri Tembus 81,84 pada Literasi

5 June 2026 - 09:17 WIB

Optimalisasi Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Produksi dan Pemasaran Cinderamata Berbasis Kuliner di Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat

4 June 2026 - 14:31 WIB

Cooking Class Implementasi Produk Gyoza Lele sebagai PMT Lokal di Desa Rawapanjang

2 June 2026 - 16:53 WIB

Trending on Pendidikan