DepokNews–Tim pelaksana pengabdian berdiskusi dengan pengelola kawasan membahas hasil survei lapangan dan rencana tindak lanjut.
Sebuah lahan tidur seluas dua hektare di kawasan Sukmajaya, Kota Depok, tengah bertransformasi menjadi proyek percontohan pertanian perkotaan berbasis teknologi. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat, tim dosen dan mahasiswa lintas program studi Universitas Gunadarma merancang Master Plan Kawasan Edu-Agrowisata sekaligus mengembangkan sistem smart urban farming berbasis Internet of Things (IoT) untuk mendukung pengelolaan lahan yang lebih efisien dan terukur.
Lahan Tidur dengan Potensi Besar
Pertanian perkotaan dinilai memegang peran strategis di tengah laju urbanisasi dan menyusutnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan. Kebutuhan pangan global sendiri diproyeksikan meningkat signifikan pada tahun 2050, sementara ketersediaan lahan justru semakin terbatas menjadikan optimalisasi lahan tidur perkotaan sebagai salah satu solusi yang relevan untuk terus didorong.
Program ini digagas sebagai respons atas persoalan klasik yang banyak ditemui di lahan-lahan tidur perkotaan: penyiraman yang masih dilakukan secara manual, tidak adanya sistem pemantauan kondisi tanaman, serta kondisi tanah yang cenderung padat dan miskin unsur hara akibat minimnya pengelolaan organik. Padahal, lahan tersebut sebelumnya pernah menghasilkan panen cabai dan bawang merah hingga delapan ton, menunjukkan potensi produktivitas yang besar apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat. Dari hasil survei lapangan dan diskusi bersama pengelola kawasan, tim mengidentifikasi sejumlah persoalan prioritas yang menjadi dasar penyusunan program:
Penyiraman manual pada lahan seluas dua hektare, membuat distribusi air tidak merata.
Belum ada sistem pemantauan kondisi lahan secara real-time.
Kondisi tanah padat dan miskin bahan organik.
Data topografi lahan belum tersedia untuk perencanaan tata letak.
Kapasitas teknis pengelola dalam teknologi smart farming masih terbatas.
Memetakan Lahan dari Udara
Rangkaian kegiatan diawali dengan survei lapangan dan diskusi kelompok terarah (FGD) bersama pengelola untuk memetakan kondisi eksisting, sumber air, pola tanam, hingga infrastruktur yang tersedia. Salah satu tahapan penting berikutnya adalah pemetaan topografi menggunakan drone (UAV). Data Digital Elevation Model (DEM) hasil pemetaan udara diolah menjadi peta kontur serta analisis penampang melintang dan memanjang lahan. Hasil pemetaan menunjukkan variasi elevasi hingga sekitar enam meter pada beberapa titik, informasi krusial untuk merencanakan arah aliran air, lokasi kolam retensi, hingga pekerjaan cut and fill pada tahap konstruksi berikutnya.
Kondisi Tanah dan Sumber Air
Survei lapangan juga mengungkap bahwa kondisi tanah di lokasi menunjukkan gejala kepadatan dan kekeringan akibat minimnya pengelolaan bahan organik, sementara pemupukan yang dilakukan pengelola belum terstandar. Atas dasar temuan tersebut, tim menyusun rekomendasi pengolahan tanah berkelanjutan berbasis prinsip Low External Input and Sustainable Agriculture (LEISA), sebagai syarat awal agar sistem irigasi presisi pada tahap berikutnya dapat bekerja efektif.
Pembagian zona pada master plan kawasan edu-agrowisata: green house dan nursery, zona tanaman hortikultura dan buah, peternakan ayam petelur, kolam retensi dan kolam ikan, serta fasilitas pendukung.

Menata Kawasan dalam Satu Rancangan
Berdasarkan data survei dan topografi tersebut, tim menyusun master plan kawasan yang membagi lahan ke dalam beberapa zona fungsional: green house dan nursery untuk budidaya tanaman terlindung; zona tanaman labu-labuan dan tanaman rambat; zona tanaman cabai, bawang, dan tomat; zona tanaman buah; peternakan ayam petelur; kolam retensi sekaligus kolam ikan; serta fasilitas pendukung berupa pendopo kuliner, dapur, musala dan toilet, area parkir, dan pergola.
Dashboard Pemantau Real-Time
Selain rancangan fisik kawasan, tim turut merancang dan membangun purwarupa dashboard monitoring berbasis web yang dapat diakses melalui laptop maupun perangkat mobile. Purwarupa ini dirancang menampilkan data sensor secara real-time, meliputi suhu dan kelembapan udara, kualitas udara dalam satuan Air Quality Index (AQI), intensitas cahaya, status hujan, hingga volume bak penampungan air.
Dashboard dilengkapi grafik tren data berkala, riwayat pembacaan sensor yang dapat diekspor ke format CSV, serta pengaturan ambang batas suhu, kelembapan, dan kualitas udara, lengkap dengan notifikasi otomatis apabila kondisi lingkungan melampaui batas optimal yang ditentukan.
Purwarupa Sistem Monitoring Fertigasi
Selain dashboard pemantauan lingkungan secara umum, dalam rangkaian kegiatan ini tim juga membuat purwarupa khusus untuk monitoring sistem fertigasi, yaitu sistem pemberian pupuk dan air secara bersamaan melalui jaringan irigasi. Purwarupa ini dilengkapi halaman pengaturan yang memungkinkan pengelola mengatur koneksi database sensor, menentukan ambang batas parameter seperti suhu maksimum, kelembapan maksimum, dan indeks kualitas udara (AQI), serta interval pembaruan data.
Pada halaman yang sama, pengelola juga dapat mengatur notifikasi otomatis, misalnya pengiriman peringatan setiap kali terjadi anomali pada pembacaan sensor. Fitur ini dirancang agar pengelola tidak perlu memantau data secara manual sepanjang waktu, namun tetap dapat merespons cepat apabila kondisi lingkungan berada di luar batas normal yang telah ditentukan.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Program ini melibatkan dosen dan mahasiswa dari berbagai program studi, di antaranya Arsitektur, Agroteknologi, Teknik Sipil, Teknik Industri, Teknologi Informasi, hingga Manajemen, mencerminkan pendekatan lintas disiplin dalam menyelesaikan persoalan pertanian perkotaan secara menyeluruh, dari aspek keairan dan tata ruang hingga teknologi digital.
Keterlibatan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu ini sekaligus menjadi ruang belajar langsung, di mana teori yang dipelajari di bangku kuliah diterapkan pada persoalan nyata di masyarakat menjadi sebuah pengalaman yang dinilai penting untuk membentuk kompetensi kolaborasi lintas bidang yang semakin dibutuhkan dalam penyelesaian persoalan pembangunan perkotaan yang kompleks.






