Oleh : Khairulloh Ahyari**

Saya mendengar cerita keharuman nama Guru Gamung sejak masih sangat belia. Nama asli beliau sebenarnya K.H. Ma’mun.

Panggilan Guru Gamung disematkan karena ayah beliau yang bernama Bapak Gamung. Mandor Gamung tepatnya. Mandor Gamung sendiri sebenarnya bernama Bapak Ta’yin bin Syari’an. Sedang Ibu dari Guru Gamung adalah Ibu Sabena Binti Tambran.

Mandor Gamung, -ayah Guru Gamung- mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai agama yang kuat, disiplin dan kerja keras, serta kepedulian kepada cita-cita kemerdekaan Indonesia. Itulah yg membentuk kepribadian Guru Gamung di kemudian hari. Selain sebagai ulama dan pendidik, beliau juga seorang aktifis pejuang kemerdekaan.

K.H. Ma’mun lahir di Sawangan, tanggal 11 November 1911. Masih dalam masa penjajahan Belanda. Dalam usia belia, beliau menuntut ilmu kepada seorang ulama besar K.H. Abdul Rahman bin H Abdul Kosim Kampung Gebrug Pondok Pinang, Jakarta Selatan.

K.H. Abdul Rahman dikenal dengan sebutan Guru Doman oleh masyarakat sekitar. Beliau penyebar agama di wilayah Jakarta Selatan, juga wilayah Bogor dan sekitarnya.
Ma’mun muda menuntut ilmu di pesantren Gebrug selama 22 tahun. Beliau juga belajar kepada beberapa kiai di tempat yang berbeda.

Untuk memantapkan kiprahnya di masyarakat, pada tahun 1934 K.H. Ma’mun menikah dengan pujaan hatinya. Beliau menikah dengan seorang gadis jelita yang cerdas, sederhana, dan salihah.

Gadis pilihan K.H. Ma’mun itu bernama Saadah. Kelak akan dikenal dan dipanggil dengan panggilan Wa’ Adah. Panggilan itu masih sering disebut sampai hari ini oleh anak, cucu, cicit, dan keturunannya.

Pada tahun 1935, setahun setelah menikah, Guru Gamung melaksanakan ibadah haji. Hebatnya, uang untuk biaya haji diperoleh dari tabungan sejak K.H. Ma’mun mulai masuk pesantren. Uang sisa keperluan dan sisa jajan ditabung di celengan bambu.

Biaya ongkos haji tahun 1935 sebesar 10 Ringgit. Saat itu harga sapi yang paling besar adalah 1 Ringgit. Adapun lama perjalanan haji waktu itu tujuh bulan lamanya.

Selain menjadi pendidik, K.H. Ma’mun juga mengajar ngaji keliling kampung. Selain hampir semua wilayah Sawangan, beliau juga mengajar ke wilayah Parung Bingung, Meruyung, Limo, Bjongsari, dan lain-lain.

K.H Ma’mun juga merintis dan mendirikan lembaga pendidikan modern seperti Perguruan Darul Irfan Sawangan. Lembaga ini didirikan bersama dengan tokoh agama lain. Jenjang pendidikan dimulai dari MTs, MA, SMP, SMA dan SMK. Di tempat yang agak terpisah juga ada MI Hayatul Islamiyah dan Masjid Al-Mukhlasin.

Semua lembaga pendidikan itu masih berdiri sampai sekarang. Sudah puluhan ribu alumni lahir dari lembaga-lembaga tersebut. Bahkan sekarang di dekat Masjid Al-Mukhlasin sudah berdiri Pesantren Al- Ma’mun.

Guru Gamung atau Kyai Ma’mun wafat pada tanggal 18 Februari 1991. Sebagai generasi penerus, mari kita ikuti semangat dan jejak langkah beliau.

Keterangan:

*Tulisan ini adalah pengantar dan disarikan dari berbagai sumber.

**Penulis adalah aleg PKS Depok dapil Cipayung, Sawangan, dan Bojongsari (Cisari).

Previous articleWali Kota Lepas 48 Anggota Pramuka Depok Untuk Ikuti Jambore Tingkat Nasional 2022
Next articleHadiri Jambore Nasional di Cibubur, Wakil Wali Kota Ceritakan Pengalaman Pramuka Ketika Masih Sekolah