Bekasi – Anggota Komisi VIII DPR RI Hj. Nur Azizah Tamhid, B.A., M.A. dalam rangkaian Agenda Reses Anggota DPR RI Tahun 2021-2022 pada Rabu (22/12), meninjau Panti Sosial Rehabilitasi Mental, di bawah Lembaga Kesejahteraan Sosial Yayasan Jamrud Biru, Mustika Jaya, Kota Bekasi. Pada kesempatan ini Nur Azizah memberikan santunan untuk pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di panti ini yang mayoritas merupakan ODGJ yang terlantar dan di rawat oleh pemilik yayasan.

Masalah ODGJ ini harus menjadi perhatian khusus Kemensos. Menurut Nur Azizah, saat ini masih banyak ODGJ yang terlantar di jalan. Dengan dukungan khusus dari Kemensos kepada panti rehabilitasi khusus ODGJ ini dapat menjadi solusi, bagi para ODGJ terlantar itu.

“Secara khusus memang masih minim perhatian bagi ODGJ, tidak hanya yang terlantar tidak memiliki keluarga, yang memiliki keluarga pun, masih minim kesadaran untuk melakukan rehabilitasi khusus. Hal ini karena masih minimnya informasi, dan sarana rehabilitasi bagi ODGJ yang dapat diakses dengan mudah dan gratis.”, jelas Nur Azizah.

Nur Azizah menambahkan, seperti halnya Yayasan Jamrud Biru ini, dirintis secara sukarela oleh relawan yang peduli kesejahteraan ODGJ. Sebanyak 160 pasien yang saat ini melakukan rehabilitasi, dibiayai secara sukarela oleh donatur. Dan setiap bulannya, Yayasan dapat menyembuhkan 5 hingga 6 pasien. Nur Azizah mendukung kelak akan semakin banyak Yayasan seperti ini, tentu dengan didukung penuh dari pemerintah.

Pada kesempatan ini, Subartono, Pendiri Yayasan Jamrud Biru, sudah merintis Yayasan ini sejak tahun 2009. Ia menuturkan, Yayasan ini fokus untuk mengurus dan mengobati para ODGJ yang terlantar di jalanan “kami merawat ODGJ terlantar. Harapan kami, dikarenakan kami tempatnya masih ngontrak, kami ingin ada lahan untuk bisa lebih luas mengurus ODGJ, agar tidak menjadi liar di jalanan, kami butuh dukungan penuh dari berbagai pihak khususnya pemerintah”, jelas Subroto.

Subroto menambahkan, setiap harinya Yayasan Jamrud Biru dapat menghabiskan dana sekitar 2-3 juta rupiah untuk makan dan perawatan pasien. Pasien berasal dari berbagai daerah dari seluruh Indonesia, dan yang terjauh berasal dari NTT.

Kami sangat memperhatikan dari segi kebersihan, panti ini tidak bau sama sekali, semua pasien perlahan di ajari cara merawat diri. Mandi harus 2 kali sehari, kebersihan ruangan selalu diperhatikan. “Pasien kami ajarkan untuk mandiri sambil terus diberikan terapi dengan totok saraf, rukiyah, minum ramuan herbal dan dzikir ayat-ayat al-Quran”, kata Subroto.

Selain itu, seluruh pasien yang saat ini dirawat oleh 20-an terapis, diberikan pantangan, dari segi makanan, mereka tidak mengkonsumsi daging. Adapun untuk mempercepat proses penyembuhan, seluruh pasien diberikan waktu satu kali dalam seminggu untuk refreshing berkeliling kampung, bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, tentu tetap dalam pengawasan. Dan tidak diperkenankan bagi pasien yang masih agresif.

“Nur Azizah mengapresiasi upaya para relawan yang peduli akan kesejahteraan ODGJ. Ia menegaskan Pemerintah melalui Kemensos tentu harus menganggap serius masalah ini. Keberadaan Yayasan relawan ini, tidak boleh diabaikan. Harus di dukung penuh, dan dianggarkan melalui APBN guna kesejahteraan para ODJG. Mereka berhak untuk hidup layak dan sejahtera”, pungkas Nur Azizah.