Oleh : Ketua Fraksi PKS DPRD Depok – H. Moh. Hafid Nasir, Dipl. Ing.

Selain puasa, amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan selama bulan Ramadhan yaitu qiyamul lail. Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Man qooma romadhona imanan wahtisaaban ghufiro lahu ma taqoddama min dzanbihi.” Artinya, barangsiapa melakukan sholat malam di bulan Ramadhan (tarawih) dengan rasa iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lewat. Sholat tarawih adalah sholat sunnah yang khusus dilakukan pada malam hari di bulan Ramadhan.

Para ulama telah sepakat bahwa hukum sholat tarawih adalah sunnah. Imam an-Nawawi rahimahullah, seorang ulama besar madzhab Syafi’i’ menyebutkan sebagai berikut: “Adapun hukum shalat tarawih adalah sunnah berdasarkan ijma’ para ulama”. Waktu pengerjaan salat tarawih adalah sehabis salat Isya dan sebelum witir. Sholat tarawih bisa dikerjakan sendiri di rumah, maupun berjamaah di masjid.

Mengenai jumlah rakaat tarawih terdapat perbedaan pendapat antara kaum musilimin yang mengerjakan 11 rakaat dan yang mengerjakan 23 rakaat. Tetapi, kedua pendapat tersebut memiliki dasar hukum masing-masing. Berikut landasan hukum menunaikan sholat tarawih baik 11 rakaat maupun 23 rakaat:

  1. Sholat tarawih 11 rakaat
    Adapun landasan hukum sholat tarawih 11 rakaat didasarkan oleh beberapa hadis nabi. Pertama, hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Aku berdiri di samping Rasulullah; kemudian Rasulullah meletakkan tangan kanannya di kepalaku dan dipegangnya telinga kananku dan ditelitinya, lalu Rasulullah sholat dua rakaat kemudian dua rakaat lagi, lalu dua rakaat lagi, dan kemudian dua rakaat, selanjutnya Rasulullah shalat witir Kemudian Rasulullah tiduran menyamping sampai Bilal menyerukan adzan. Maka bangunlah Rasulullah dan sholat dua rakaat singkat-singkat, kemudian pergi melaksanakan sholat Subuh,” (HR. Muslim)

Kedua, hadis yang diriwayatkan dari Abu Salamah:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى
إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثاً
“Diriwayatkan dari Abu Salamah Ibn ‘Abdul Rahman bahwa Abu Salamah bertanya kepada Aisyah r.a bagaimana cara sholat Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. Aisyah menjawab “Baik di bulan Ramadhan ataupun di luar bulan Ramadhan, Rasulullah saw selalu melakukan sholat (malam) tidak lebih dari sebelas rakaat. Rasulullah melaksanakan shalat empat rakaat; dan jangan ditanyakan tentang baik dan panjangnya sholat yang beliau lakukan. Kemudian sholat lagi empat rakaat, dan jangan ditanyakan tentang baik dan panjangnya sholat yang beliau lakukan. Lalu beliau sholat (witir) tiga rakaat,” (HR Bukhari).

  1. Sholat tarawih 23 rakaat
    Landasan pelaksanaan shalat tarawih 23 tersebut di antaranya: Hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Ia meriwayatkan bahwa Rasulullah sholat tarawih di bulan Ramadhan sendirian sebanyak 20 rakaat. (HR Baihaqi dan Thabrani). Hadis yang diriwayat oleh Ibnu Hajar, “Rasulullah sholat bersama kaum muslimin sebanyak 20 rakaat di suatu malam Ramadhan.” Menurut sejarah Islam, Khalifah Umar bin Khattab menyelenggarakan sholat tarawih dan witir 23 rakaat sebagaimana dilihat di kitab al-Muwaththa’ Yazid bin Huzaifah yang berkata: “Kaum muslimin pada masa Umar bin Khattab melakukan sholat tarawih (dan witir) di bulan Ramadhan sebanyak 23 rakaat.”

Sholat tarawih adalah ibadah salat sunnah muakkad yang sangat dianjurkan. Allah telah menyediakan balasan ibadah shalat tarawih, yaitu dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu. Sebagaimana hadis Nabi SAW yang artinya: “Barangsiapa yang berpuasa melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah SWT, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Pada hadis lain Rasulullah SAW bersabda: “man qaama ma’al imaami hattaa yansharifu kutiba lahu qiyaamu lailah.” Artinya: “Siapa saja yang ikut sholat tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai, maka untuknya itu dicatat seperti sholat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud dan Turmudzi). Wallahu a’lam bish shawab.

Previous articleGebyar Ramadhan, RKI PKS Sukamaju Baru Tapos Adakan Jumat Berkah dengan Minyak Goreng Murah
Next article353 Pelaku Usaha di Kalibaru Akan Terima BTPKLW