Siapa kunci pengawasan Pemilu 2024 dan bagaimana memanfaatkannya?

Oleh Firtra Ratory

Depoknews.id – Pengawasan jalannya Pemilu agar berlangsung jujur dan adil sangat tergantung partisipasi aktif masyarakat yang konstruktif.

Lalu pertanyaannya adalah kelompok masyarakat pada umur berapa yang mendominasi pada pemilu 2024?

Berdasarkan data pemilu, jumlah pemilih Gen Y atau generasi milenial (24-39 tahun) ada di angka 35,59 persen. Angka itu makin tampak mendominasi jika digabung dengan para pemilih awal yakni Gen Z (17-23 tahun) di 15,82 persen.

Total jumlah calon pemilih Gen Z ditambah Gen Y mencapai 51,41 persen. Jumlah yang sangat fantastis. Artinya calon pemilih pada pemilu 2024 di atas kertas didominasi kalangan muda.

Lalu bagaimana kita mengungkap keinginan Gen Y dan Gen Z untuk memilih di pemilu 2024?

Survei litbang Kompas yang dilakukan Januari-Februari 2022 menunjukkan tingginya keinginan itu.

Dari 3.224 responden usia 17-40 tahun, sebanyak 86,7 persen memilih untuk berpartisipasi. Sisanya 10,7 persen masih menimbang dan hanya 2,6 persen yang tegas menolak berpartisipasi.

Itu artinya jika kelompok pemilih ini bisa dijaga bahkan ditingkatkan minatnya, mereka dapat menjadi sumber daya yang luar biasa untuk ikut mengawasi jalannya pemilu.

Bagaimana melibatkan mereka?

Kata kuncinya adalah komunikasi. Gen Y dan Gen Z punya cara berkomunikasi dan berinteraksi yang sangat berbeda dengan beberapa generasi di atasnya (Gen X, Baby Boomers dan preboomers).

Mereka berkumpul dan bisa didekati melalui media sosial. Sebagian besar mereka bukan pemuda yang menghabiskan banyak waktu di tongkrongan, tapi bukan berarti mereka tidak “ngumpul” alias “hang out”. Mereka lebih memilih rebahan tapi tetap produktif dan gaul. Wow.

Kunci berkomunikasi dengan mereka dengan menggunakan bahasa pergaulan mereka yang terus berkembang dengan kosa kata gaul baru sesuai perkembangan jaman.

Mereka juga tertarik dengan tayangan audio visual yang menarik tapi lebih “to the point”. Jika tidak berhasil membuat mereka tertarik di 10 detik awal, sangat sulit menjaga minat mereka agar menonton video itu sampai akhir. Mereka akan “zapping” mencari konten menarik lainnya.

Berbagai platform media sosial yang mereka gunakan beragam karena tiap aplikasi menawarkan kenyamanannya masing-masing.

Jadi kunci melibatkan mereka untuk mengawasi jalannya pemilu ya dengan melibatkan konten kreator yang memahami bagaimana berinteraksi via berbagai platform yang mereka biasa gunakan.

Namun di samping keunggulan mereka yang cepat beradaptasi dengan dinamika digital dan terbiasa “multi tasking”, mereka juga terkenal sebagai generasi stroberi. Generasi yang manis dan tampak indah tapi sesungguhnya gampang terluka.

Jadi agar peran para pemilih muda ini bisa optimal, para komisioner khususnya humas Bawaslu sudah harus memanfaatkan para konten kreator dalam menyampaikan pesan-pesan pemilu dan melibatkan mereka dalam berbagai program-program edukasi dan komunikasi.