Dilema Lahan Pertanian di Pancoran Mas: Urbanisasi vs Nasib Petani Milenial Depok

Ketik minimal tiga huruf untuk mulai mencari.

Kota Depok terus berbenah. Dalam satu dekade terakhir, wajah kota ini berubah cepat: dari kawasan pinggiran yang tenang menjadi pusat hunian, bisnis, dan pendidikan yang padat. Di balik kemajuan itu, muncul pertanyaan penting yang jarang dibahas di ruang publik: bagaimana nasib kawasan resapan air, khususnya di Pancoran Mas?
Pancoran Mas dikenal sebagai salah satu kecamatan tertua dan paling padat di Depok. Kawasan ini menyimpan sejarah panjang, mulai dari kawasan pemukiman kolonial hingga menjadi pusat pemerintahan kota. Sayangnya, perubahan tata ruang yang masif berpotensi menggerus fungsi resapan air yang selama ini menjadi “benteng alami” terhadap banjir.
Secara geografis, Depok berada di dataran rendah dengan curah hujan tinggi. Kawasan resapan berfungsi menyerap air hujan ke dalam tanah, mengurangi limpasan permukaan, dan mengisi cadangan air tanah. Tanpa resapan yang memadai, air hujan langsung mengalir ke saluran dan sungai, memicu genangan di titik-titik rawan.
Pancoran Mas memiliki beberapa area yang secara historis berfungsi sebagai resapan, seperti:
Ketika lahan-lahan ini berubah menjadi bangunan beton, kemampuan tanah menyerap air menurun drastis. Inilah yang membuat diskusi tata ruang bukan sekadar soal estetika kota, tetapi menyangkut keselamatan warga.
Perubahan tata ruang di Depok, termasuk Pancoran Mas, didorong oleh beberapa faktor: pertumbuhan penduduk, kebutuhan hunian, dan perkembangan aktivitas ekonomi. Alih fungsi lahan dari permukiman berkebun menjadi perumahan cluster, ruko, dan bangunan komersial terjadi di banyak titik.
Beberapa dampak yang mulai terasa antara lain:
Perlu dicatat, tidak semua pembangunan berdampak negatif. Beberapa pengembang menerapkan konsep sumur resapan dan biopori. Namun, konsistensi penerapan di lapangan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Bagi warga, dampak perubahan tata ruang terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari. Genangan yang datang lebih cepat saat hujan, jalan yang licin, dan kekhawatiran akan banjir menjadi keluhan yang kerap muncul di forum warga.
Selain itu, berkurangnya ruang terbuka hijau juga memengaruhi kualitas udara dan kenyamanan lingkungan. Anak-anak kehilangan ruang bermain, sementara suhu kawasan terasa lebih panas dibandingkan beberapa tahun lalu.
Meski demikian, warga juga menyadari bahwa pembangunan tidak bisa dihentikan. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian fungsi resapan. Inilah inti dari tata ruang yang berkelanjutan.
Pemerintah Kota Depok telah memiliki regulasi terkait tata ruang dan kewajiban penyediaan ruang terbuka hijau. Namun, implementasi di lapangan membutuhkan pengawasan dan partisipasi semua pihak. Beberapa langkah yang bisa didorong:
Partisipasi warga juga sangat menentukan. Membuat biopori di halaman rumah, tidak menutup seluruh pekarangan dengan paving, dan menjaga saluran air dari sampah adalah kontribusi nyata yang bisa dilakukan siapa saja.
Perubahan tata ruang di Depok, khususnya di Pancoran Mas, adalah konsekuensi dari pertumbuhan kota yang tidak bisa dihindari. Namun, pertumbuhan harus dikelola dengan bijak agar tidak mengorbankan fungsi resapan air yang menjadi kunci pencegahan banjir.
Kawasan resapan di Pancoran Mas perlu dijaga, bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh warga dan pengembang. Dengan kolaborasi yang baik, Depok bisa tetap berkembang tanpa kehilangan kemampuan alaminya menyerap air.
Mari mulai dari langkah kecil di sekitar kita. Buat biopori di halaman, jaga saluran air tetap bersih, dan ikut mengawasi pembangunan di lingkungan Anda. Punya cerita atau pengalaman soal genangan dan resapan di Pancoran Mas? Bagikan di kolom komentar atau kirimkan ke redaksi Depok News!