Menu

Dark Mode
Ide Keren dan Kreatif, Bantuan Makan Sahur di Depok 20 Alasan Warga Nyaman Tinggal di Kota Depok Santika Hotel Depok Kenalkan Menu Malaysia Kota Depok Masuk Zona Rawan Narkoba Duh! Ada 3700 Perceraian Di Depok Selama 2016, Media Sosial Menjadi Penyebab Utama

Pendidikan

Tim Abdimas LPM Universitas Gunadarma Perkenalkan Model Penguatan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga melalui Kreasi Drop Box Botol Plastik

badge-check

DepokNews, Bogor – Permasalahan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Bogor. Menjawab tantangan tersebut, bersama dengan bermitra Bank Sampah RW 10 Desa Sasak Panjang, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) Universitas Gunadarma melalui Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) menyelenggarakan kegiatan edukasi masyarakat bertajuk “Model Penguatan Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis 3R melalui Kreasi Drop Box Botol Plastik” pada Rabu (22/7/2026) di Desa Sasak Panjang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini mengangkat model penguatan pengelolaan sampah rumah tangga berbasis 3R melalui kreasi Drop Box Botol Plastik.

Bertempat di sekolah RA Al-Madinah, sebanyak 39 peserta yang terdiri atas pengurus Bank Sampah RW 10 Desa Sasak Panjang, kader Kampung Ramah Lingkungan, guru, dan wali murid mengikuti kegiatan yang dikemas dalam bentuk praktek instalasi/pembuatan Drop Box Botol Plastik dan Focus Group Discussion (FGD). Melalui kegiatan tersebut, Tim Abdimas Universitas Gunadarma memperkenalkan model pengelolaan sampah berbasis prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) sebagai upaya mengurangi volume sampah rumah tangga yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Membangun Kesadaran Pengelolaan Sampah Sejak dari Rumah

Dalam sesi penyampaian materi, peserta memperoleh pemahaman mengenai kondisi pengelolaan sampah saat ini, pentingnya pemilahan sampah organik dan anorganik, serta strategi penguatan Bank Sampah sebagai bagian dari upaya mewujudkan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat. Selain itu, tim Abdimas memperkenalkan Drop Box Botol Plastik, yaitu sarana pengumpulan sampah anorganik yang dirancang menggunakan bahan sederhana, mudah dibuat, ekonomis, dan dapat direplikasi oleh masyarakat di lingkungan masing-masing.

Tim Abdimas Universitas Gunadarma menjelaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mengurangi timbulan sampah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari sampah yang masih dapat dimanfaatkan. Oleh karena itu, penerapan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) perlu dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti memisahkan sampah organik dan anorganik sebelum disalurkan ke Bank Sampah. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun budaya masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus mendukung keberlanjutan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Sebagai penegasan, Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gunadarma, Dr. Edi Minaji Pribadi, S.P., M.Sc., menyampaikan bahwa perubahan besar dalam pengelolaan sampah berawal dari kebiasaan sederhana di rumah.

FGD Berlangsung Interaktif, Peserta Aktif Berdiskusi

Salah satu sesi yang mendapat perhatian peserta adalah Focus Group Discussion (FGD). Pada sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan berbagai pengalaman, kendala, serta berdiskusi secara langsung mengenai pengelolaan sampah rumah tangga di lingkungan masing-masing.

Salah seorang peserta, Ibu Weny, mengajukan pertanyaan mengenai jenis sampah yang dapat diterima oleh Bank Sampah.

“Apakah yang boleh dikumpulkan hanya botol air mineral bening?” tanyanya.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Ibu Diny selaku pengurus Bank Sampah menjelaskan bahwa masyarakat tidak hanya dapat menyetorkan botol air mineral bening, tetapi juga berbagai jenis botol plastik lainnya, botol kaca, hingga kardus bekas paket yang masih memiliki nilai ekonomi.

Menurutnya, semakin banyak jenis sampah yang dipilah sejak dari rumah, semakin besar pula potensi pengurangan volume sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari sampah yang masih dapat dimanfaatkan.

Pertanyaan lain yang juga menjadi perhatian peserta adalah mengenai mekanisme penyetoran sampah ke Bank Sampah.

Menjawab hal tersebut, Ibu Diny menjelaskan bahwa tidak terdapat batas waktu penyetoran. Warga dapat mengumpulkan sampah terlebih dahulu sesuai kemampuan masing-masing. Bahkan, apabila jumlah sampah yang telah dipilah cukup banyak, masyarakat cukup menghubungi pengurus Bank Sampah dan petugas akan melakukan penjemputan langsung ke rumah.

“Nilai hasil penjualan sampah akan dicatat sebagai tabungan anggota dan dapat ditukarkan dengan berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti minyak goreng maupun bentuk reward lainnya,” jelasnya.

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Berbagai pertanyaan yang disampaikan peserta menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat untuk memahami tata kelola Bank Sampah, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam membangun budaya memilah sampah sejak dari rumah sebagai bagian dari upaya mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Drop Box Botol Plastik, Inovasi Sederhana dengan Dampak Besar

Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah Drop Box Botol Plastik, yaitu sarana pengumpulan sampah anorganik yang dirancang menggunakan bahan sederhana, mudah dibuat, ekonomis, serta dapat direplikasi oleh masyarakat di lingkungan masing-masing.

Drop Box tersebut berfungsi sebagai tempat pengumpulan sementara botol plastik sebelum dilakukan penimbangan dan penyetoran ke Bank Sampah. Dengan adanya fasilitas ini, masyarakat diharapkan semakin terbiasa memilah sampah sejak dari rumah sehingga proses pengelolaan sampah menjadi lebih tertib, efisien, dan bernilai ekonomi.

Lebih dari sekadar wadah pengumpulan sampah, Drop Box Botol Plastik juga menjadi media edukasi yang mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menerapkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) secara konsisten. Kebiasaan sederhana seperti memilah dan mengumpulkan sampah sejak dari sumbernya diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Model yang diperkenalkan oleh Tim Abdimas LPM Universitas Gunadarma ini mengintegrasikan proses pemilahan, pengumpulan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali sampah menjadi produk bernilai ekonomi maupun kompos. Pendekatan tersebut tidak hanya mendukung keberlanjutan pengelolaan sampah berbasis masyarakat, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan melalui penguatan peran Bank Sampah.

Kolaborasi Kampus dan Masyarakat Menjadi Kunci Keberhasilan

Keberhasilan pengelolaan sampah berbasis masyarakat tidak hanya ditentukan oleh tersedianya sarana dan prasarana, tetapi juga memerlukan perubahan perilaku yang dilakukan secara konsisten serta didukung oleh kolaborasi berbagai pihak. Perguruan tinggi memiliki peran sebagai penyedia ilmu pengetahuan dan pendamping masyarakat, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama dalam penerapan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.

Melalui kolaborasi antara LPM Universitas Gunadarma, Bank Sampah 10 Desa Sasak Panjang, Kampung Ramah Lingkungan (KRL), serta masyarakat Desa Sasak Panjang, diharapkan terbentuk sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.

Kegiatan ini merupakan salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat, dengan menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang dapat diterapkan secara langsung sesuai kebutuhan masyarakat. Pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya memilah sampah sejak dari rumah sebagai pondasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Antusiasme Peserta Menjadi Modal Keberlanjutan Program

Sepanjang kegiatan, peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi. Tidak hanya menyimak materi, mereka juga aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, hingga mempraktikkan pembuatan Drop Box Botol Plastik yang akan ditempatkan di beberapa titik strategis sebagai sarana pengumpulan sampah anorganik di lingkungan masyarakat.

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa masyarakat memiliki semangat untuk terlibat dalam pengelolaan sampah yang lebih baik apabila didukung melalui edukasi, pendampingan, serta penyediaan sarana yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

Melalui kegiatan ini, berharap model penguatan pengelolaan sampah rumah tangga berbasis Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) melalui kreasi Drop Box Botol Plastik dapat direplikasi secara luas di RT/RW lainnya. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi timbulan sampah dari sumbernya, tetapi juga mampu meningkatkan nilai ekonomi masyarakat melalui penguatan peran Bank Sampah sekaligus membangun budaya peduli lingkungan yang berkelanjutan.

Sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, LPM Universitas Gunadarma berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi dan pendampingan berbasis ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung terwujudnya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

 

 

Facebook Comments Box

Read More

Universitas Gunadarma Dorong Pertanian Berkelanjutan melalui Pelatihan Teknologi Modern bagi Petani PNM Sukabumi

23 July 2026 - 05:47 WIB

Universitas Gunadarma Gelar Workshop Smart UMKM: Strategi Kuasai Digital Marketing dan Perpajakan di Era Coretax

22 July 2026 - 15:48 WIB

Pengabdian Masyarakat : Pendampingan Optimalisasi Prasarana Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan di Alun-alun Timur Kota Depok

19 July 2026 - 11:50 WIB

Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gunadarma: Penyuluhan Komunikasi Pemasaran dan Digital Marketing bagi Peserta Didik Yayasan Bina Insan Mandiri Depok

18 July 2026 - 14:34 WIB

PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT PEMBERIAN PELATIHAN INTERACTIVE ENGLISH SPEAKING GAMES PADA SISWA YAYASAN BINA INSAN MANDIRI DEPOK

17 July 2026 - 20:36 WIB

Trending on Pendidikan