Depoknews — Tim dosen dan mahasiswa Universitas Gunadarma dari Program Studi Pendidikan Profesi Bidan dan Program Studi Pendidikan Profesi Psikologi, Fakultas Ilmu Kesehatan dan Farmasi (FIKF) dan Fakultas Psikologi, melaksanakan Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Revitalisasi Kelas Ibu Hamil melalui Pendekatan Psiko-Midwifery: Upaya Memutus Rantai Pernikahan Dini dan Meningkatkan Derajat Kesehatan Ibu-Anak” di Desa Cibeuteung Muara, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor. Program ini menyasar Kelas Ibu Hamil setempat yang selama ini masih berjalan secara konvensional, untuk ditransformasikan menjadi layanan yang lebih holistik, menggabungkan asuhan kebidanan dengan pendampingan kesehatan mental.

Suasana sesi Kelas Ibu Hamil bersama para peserta di Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor.
Kegiatan ini terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat. Program ini merupakan bentuk nyata dukungan pemerintah kepada perguruan tinggi agar dapat berkontribusi langsung dalam penyelesaian persoalan kesehatan ibu dan anak di tingkat desa.
Tim pengusul diketuai oleh Bdn. Rochmawati, S.ST., M.Keb., dosen Pendidikan Profesi Bidan Universitas Gunadarma, bersama dua anggota pelaksana yaitu Rini Damayanti, S.ST., MPH dari Program Studi Kebidanan dan Dr. Nurul Qomariyah, M.Psi., Psikolog dari Program Studi Psikologi. Tim juga melibatkan dua mahasiswa Program Studi Sarjana Kebidanan, yang turut berperan aktif membantu pengumpulan data, pendampingan teknis edukasi, hingga dokumentasi kegiatan sebagai bagian dari pengalaman belajar di luar kampus.
Program ini lahir dari keprihatinan atas kondisi kesehatan ibu dan anak di Desa Cibeuteung Muara. Berdasarkan survei pendahuluan tim pengusul pada November 2025, ditemukan bahwa 23 persen peserta Kelas Ibu Hamil di desa tersebut adalah remaja di bawah usia 20 tahun, dan 67 persen di antaranya hamil akibat pernikahan dini. Lebih memperhatinkan lagi, 56 persen remaja perempuan yang menikah dini mengaku belum pernah mendapatkan informasi tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kondisi ini menempatkan mereka pada risiko komplikasi obstetri sekitar 30 persen lebih tinggi dibandingkan kehamilan pada usia optimal.
Provinsi Jawa Barat sendiri saat ini tercatat memegang angka pernikahan anak tertinggi secara nasional, dengan Kabupaten Bogor sebagai salah satu kontributor signifikan melalui angka dispensasi nikah yang melebihi 500 kasus per tahun. Di sisi lain, Kelas Ibu Hamil yang selama ini berjalan di desa dinilai masih bersifat fisik-sentris, hanya berfokus pada nutrisi dan persiapan persalinan tanpa menyentuh aspek kesehatan mental, serta dikelola secara insidental tanpa struktur organisasi dan pembagian peran yang jelas antara bidan desa dan kader.
Ketua tim pelaksana, Bdn. Rochmawati, S.ST., M.Keb., menjelaskan bahwa pendekatan Psiko-Midwifery yang diterapkan mengintegrasikan asuhan kebidanan fisik dengan intervensi kesehatan mental secara bersamaan, sehingga ibu hamil remaja tidak hanya dipantau kondisi kehamilannya, tetapi juga mendapat dukungan psikologis dalam menghadapi tekanan sosial akibat pernikahan dini.
Solusi yang ditawarkan tim meliputi empat langkah utama. Pertama, penerapan kurikulum Psiko-Midwifery yang diintegrasikan dengan Edukasi Cakap Jiwa (CAJI) untuk meningkatkan literasi kesehatan mental peserta. Kedua, pembentukan “Sahabat Psiko-Midwifery”, yaitu kader kesehatan desa yang dilatih melakukan konseling dasar dan deteksi dini KDRT, sehingga ibu hamil remaja memiliki pendamping yang siap membantu di tingkat akar rumput. Ketiga, restrukturisasi manajemen Kelas Ibu Hamil melalui penetapan struktur organisasi, pembagian tugas kader, dan penyusunan prosedur operasional standar (SOP) pelayanan. Keempat, penerapan sistem pemantauan digital berbasis WhatsApp dan Google Workspace, yang memungkinkan kader dan bidan memantau kondisi fisik maupun suasana hati ibu hamil secara berkala meskipun terkendala jarak menuju Puskesmas Ciseeng yang mencapai sekitar 4,5 kilometer.

Tim dosen dan kader berdiskusi bersama para ibu hamil dalam sesi Kelas Ibu Hamil Holistik.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan dilaksanakan di rumah warga dan balai pertemuan masyarakat di Kecamatan Ciseeng yang dimanfaatkan sebagai lokasi penyelenggaraan Kelas Ibu Hamil. Peserta mengikuti kegiatan dengan didampingi oleh kader kesehatan dan tim dosen. Rangkaian kegiatan meliputi pengisian instrumen skrining kesehatan fisik dan psikologis, diskusi mengenai tanda bahaya kehamilan, serta pemberian edukasi terkait kesiapan mental dalam menghadapi persalinan dan menjalankan peran pengasuhan. Kehadiran anak-anak yang turut mendampingi peserta selama kegiatan mencerminkan pelaksanaan program yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan, partisipatif, serta terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Anggota tim, Rini Damayanti, S.ST., MPH, menekankan pentingnya deteksi dini dalam mencegah komplikasi obstetri pada ibu hamil remaja. Ia menjelaskan bahwa tim membawa dan menggunakan berbagai alat penunjang pemeriksaan kebidanan, di antaranya tensimeter digital, doppler fetal monitor, phantom ibu hamil, serta pita LILA, sebagai bagian dari edukasi dan simulasi pemeriksaan kehamilan yang aman bagi peserta.
Sementara itu, Dr. Nurul Qomariyah, M.Psi., Psikolog, yang bertanggung jawab pada aspek psikososial program, menyampaikan bahwa selama ini para ibu hamil remaja di Cibeuteung Muara masih minim informasi mengenai kesehatan psikologis selama kehamilan, termasuk pengetahuan tentang KDRT yang selama ini masih dianggap sebagai persoalan domestik semata dan jarang dibicarakan secara terbuka. Melalui sesi psikoedukasi dan pelatihan kader, tim berupaya memperkenalkan pengetahuan dasar tersebut sejak awal, sekaligus membangun kesadaran bahwa dukungan psikologis merupakan bagian tak terpisahkan dari pelayanan kesehatan ibu hamil.
Kegiatan ini turut mendapat sambutan positif dari Nurmiati, beliau ada ibu lurah sekaligus ketua kader desa cibeuteng muara, yang menyatakan kesediaan kelompok beranggotakan 25 orang tersebut untuk berkolaborasi penuh sebagai mitra sasaran program. Dukungan warga terlihat dari tingginya partisipasi peserta dalam setiap sesi kegiatan, mulai dari pengisian data awal, pelatihan, hingga sesi evaluasi bersama.

Tim dosen Universitas Gunadarma berfoto bersama para peserta Kelas Ibu Hamil Desa Cibeuteung Muara, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor.
Program yang dijadwalkan berlangsung selama satu tahun dengan minimal delapan kali kunjungan lapangan ini menargetkan sejumlah capaian, di antaranya minimal 80 persen peserta memiliki pengetahuan kesehatan mental yang baik, lima kader terlatih aktif melakukan pendampingan psikososial, tidak ada lagi kasus kegawatdaruratan obstetri yang tidak tertangani, serta terbangunnya satu sistem monitoring digital yang terintegrasi dengan pelaporan ke Puskesmas Ciseeng.
Melalui program ini, Universitas Gunadarma menunjukkan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan akademik, tetapi juga hadir secara nyata di tengah masyarakat, khususnya dalam upaya memutus mata rantai dampak negatif pernikahan dini serta meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak di wilayah pedesaan. Kegiatan ini juga sejalan dengan capaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, sekaligus menjadi wadah bagi mahasiswa dan dosen untuk berkegiatan langsung di luar kampus.
Tim berharap model intervensi Psiko-Midwifery yang diterapkan di Desa Cibeuteung Muara ini dapat menjadi contoh yang direplikasi di desa-desa lain dengan karakteristik serupa di Kabupaten Bogor maupun wilayah Jawa Barat secara lebih luas, sehingga semakin banyak ibu hamil remaja yang mendapatkan pendampingan fisik dan mental secara utuh.
(Red)






