Oleh : Sarah Nuraeni Mahasiswa STEI SEBI (Manajemen Bisnis Syariah)

Gunung Meletus adalah salah satu bencana alam yang cukup sering terjadi danmerupakan suatu peristiwa yang sangat besar karena memberikan dampak yang sangat negative. Gunung melutus terjadi karena berbagai penyebab yang disertai gempa vulkanik, pergerakan tektonik, tekanan yang tinggi dan sebagainya. Gunung Meletus sendiri sangat sering terjadi di Indonesia karena Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki salah satu negara yang memiliki gunung yang masih aktif terbanyak di dunia.

Oleh karena itu, gunung Meletus jangan dianggap remeh karena memebrikan dampak yang sangat fatal dan bahkan dapat menimbulkan banyak korban jiwa. Lantas, apakah gunung Meletus juga sering terjadi di Indonesia? Hal ini lah yang membuat setiap masyarakat perlu mengetahui terkait gunung berapi di Indonesia beserta penyebab dan gejalanya agar masyarakat Indonesia dapat meminimalkan atau bahkan mencegah dampak yang diterima akibat dari Gunung Meletus.

            Perlu kita ketahui belom lama juga sedang ramai diperbincangkan terkait dengan salah satu Gunung yang ada di Indonesia yang mengalami erupsi dan mengeluarkan larva dan guguran awan panas. Gunung berapi tersebut adalah Gunung Semeru yang beralokasi di Jawa Timur dimana Gunung berapi tersebut sebelumnnya berada pada status waspada atau Level II. Kejadian tersebut sangat menarik untuk dibahas dan diulas karena jika dilihat secara lebih jelas dan terperinci, maka kejadian tersebut dapat digolongkan ke dalam suatu kejadian Risiko yang dapat diidentifikasi, dianalisis dan dievaluasi agar dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan. Lantas, bagaimana kaitanya antara Manajemen Risiko ini dengan Erupsi Gunung Semeru ?

            Sebelum membahas terkait hubunganya anatara Manajemen Risiko dengan Gunung Semeru, alangkah baiknya kita bahas dulu informasi dan gambara umum terkait kasus Gunung Semeru tersebut maupun konsep dasar dari Manajemen Risiko itu sendiri. Gunung Semeru sendiri merupakan salah satu Gunung Di Indonesia yang terletak dijawa Timur, gunung semeru dapat dikatakan sebagai gunung tertinggi di Jawa Timur dengan ketinggian mencapai 3.676 meter dari permukaan laut. Gunung Semeru juga merupakan Gunung Merapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Sumatra dan Gunung Rinjani Nusa Tenggara Barat.

            Gunung Semeru mengalami Erupsi tepatnya pada tanggal 4 Desember 2021 yang di awali dengan adanya getaran yang dirasakan oleh masyarakat setempat. Erupsi tersebut membuat pemukiaman warga di sekitaran Gunung Semeru terkena imbas berupa semburan guguran asap tebal dan awan panas. Dari kejadian tersebut merenggut korban jiwa sebanyak 46, 9 orang dinyatakan hilang, 18 orang mengalami luka berat, serta 11 orang mengalami luka ringan.

            Risiko merupakan suatu istilah yang menunjukan dampak atau akibat dari suatu tindakan atau aktifitas yang dilakukan oleh seseorang atau perusahaan. Seluruh tindakan dan aktifitas yang dilakukan seseorang dalam meminimalkan risiko tersebut adalah yang disebut dengan Manajemen Risiko. Risiko sendiri dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu: Risiko Murni, Risiko Spekulatif dan Risiko Dasar berdasarkan kasus tersebut, maka dapat dinyatakan sebagai suatu Risiko yang dapat dikategorikan Resiko Dasar.

IDENTIFIKASI RISIKO

            Setelah mengetahui garis besar kronolgi erupsi Gunung Semeru tersebut serta konsep dasar dari Manajemen Risiko, maka dapat dilakukan identifikasi Risiko. Identifikasi Risiko sendiri meliputi beberapa hal diantaranya: Sasaran, kejadian risiko, sumber penyebab, indicator risiko,factor positif dan dampak kualitatif. Setiap masyarakat tentunya menginginkan untuk dapat hidup secra nyaman, aman dan tentram dimana hal tersebut menjadi sebuah sasaran Risiko. Akan tetapi karena erupsi Gunung Semeru tersebut menyebabkan masyrakat menjadi tidak dapat memenuhi sasaran tersebut. Hal ini tentunya disebabkan karena adanya kejadian Risiko yaitu Erupsi Gunung Semeru yang mengganggu kenyamanan dan keamanan masyarakat. Adapun factor positif atau control yang telah dilakukan terkait erupsi Gunung Semeru tersebut yakni adanya peringatan dini yang disampaikan oleh pusat vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Selain itu, dampak kualitatif yang terjadi seperti hilangnya harta benda, hilangnya korban jiwa dan sebagainya.

ANALISIS RISIKO

Berdasarkan dampak risiko yang ditimbulkan beserta dengan probabilitas terjadinya kejadian risiko erupsi Gunung Semeru tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa erupsi Gunung Semeru tergolong pada tingkat Extreme High. Selain itu, dampak finansial yang ditimbulkan atas erupsi Gunung Semeru ini juga ditafsirkan mencapai miliaran rupiah. Akan tetapi, jika dilihat dari probabilitas terjadinya erupsi Gunung Semeru ini dapat dikategorikan pada tingkat sedang yaitu dengan skor 3. Hal ini, dikarenakan bencana erupsi Gunung cukup jarang terjadi dan biasanya hanya terjadi dalam beberapa tahun sekali. Selain itu juga bisa dilihat dari riwayat erupsi Gunung Semeru pada tahun-tahun sebelumnya. Erupsi Gunung Semeru tersebut memiliki dampak yang sangat besar dan signifikan sehingga dalam anailis risiko dapat dinyatakan dengan skor 5 yang artinya sangat berat. Hal ini disesuaikan dengan dampak yang ditimbulkan seperti banyaknya korban jiwa, penduduk yang luka-luka, kerusakan infrastruktur dan harta benda, dan sebagainya.

PEMILIK RISIKO

            Pemilik resiko atau disebut juga Risk Owner merupakan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya suatu risiko dimana dalam kasus ini adalah pihak yang bertanggung jawab terhadap risiko erupsi Gunung Semeru. Risk Owner atas kejadian risiko tersebut adalah pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Hal ini dikarenakan mereka merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam memonitor dan memberikan peringatan dini atas kejadian risiko tersdebut.

EVALUASI RISIKO

            Suatu risiko tentuanya juga harus dievaluasi dan di tentukan cara mengatasi risikio tersebut dimana dalam kejadian risiko tersebut sa;ah satu strategi yang dapat digunakan adalah Strategi Mitigasi. Strategi Mitigasi disini bertujuan untuk mrmitigasi atau meminimalkan dampak yang disebabkan oleh kejadian risiko tersebut. Selain itu, tentunya juga harus dilakukan Risk Treatment atau Penanganan Risiko untuk memitigasi kejadian Risiko tersebut. Salah satu caranya adalah memberikan penyuluhan dan pengetahuan kepada masyarakat agar masyarakat memiliki pengetahuan terkait gejala-gejala terjadinya erupsi serta agar meningkatkan kesadraan masyarakat terhadap kejadian risiko tersebut. Penanganan risiko yang lain adalah dengan menyediakan alat pendeteksi bencana tambahan agar dapat mendeteksi ketika akan terjadi erupsi sehingga juga dapat membantu tugas dan tanggung jawab PVMBG.

            Lantas, penanganan seperti apa yang telah diterapkan atas kejadian risiko tersebut?salah satu penanganan yang telah diterapkan adalah pihak yang bertanggung jawab dalam memonitir dan memebrikan peringantan dini yakni Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMNBG).

            Oleh karena itu, dengan adanya penanganan risisko dalam mengatasi kejadian risiko tersebut diharapkan dapat meminilkan dan mengurangi probabilitas risiko tersebut dimasa depan menjadi pada tingkat kecil dengan skor 2. Selain itu, juga diharapkan dapat menekan dampak yang terjadi dari kejadian risiko tersebut menjadi pada tingkat sedang dengan skor 3. Dengan demikian, berdasarkan dampak risiko yang ditekan beserta dengan probabilitas terjadi kejadian risiko tersebut yang diminimalkan, maka diharapkan kejadian risiki tersebut di masa depan dapat berbeda pada tingkat Medium Risk. Seelain itu, diharapkan juga dampak finansial yang ditimbulkan atas erupsi Gunung Semeru tersebut dimasa depan dapat berkurang menjadi hanya sekitar Ratusan Juta Rupiah.

KESIMPULAN

            Berdasarkan analisis diatas, maka dapat dilihat bahwa Erupsi Gunung Semeru tersebut juga dapat digolongkan sebagai suatu Risiko dimana harus dapat diidentifikasi, dianalisis, serta dievaluasi untuk meminimalkan dampak yang timbul dari Erupsi Gunung Semeru tersebut. Selain itu, diharapkan dengan kejadian risiko tersebu, dsapat menjadi pembelajaran bagi kita dan masyarakat, Lembaga dan negara di masa depan.