Menu

Dark Mode
Ide Keren dan Kreatif, Bantuan Makan Sahur di Depok 20 Alasan Warga Nyaman Tinggal di Kota Depok Santika Hotel Depok Kenalkan Menu Malaysia Kota Depok Masuk Zona Rawan Narkoba Duh! Ada 3700 Perceraian Di Depok Selama 2016, Media Sosial Menjadi Penyebab Utama

Opini

Ngopi: Antara Ritual Wajib, Manfaat, dan Efeknya

badge-check


					Ngopi: Antara Ritual Wajib, Manfaat, dan Efeknya Perbesar

Oleh: Hamdi, S.Sos.

Depok — Ngopi telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat di negeri kita. Aktivitas ini biasanya dimulai saat sarapan pagi, lalu berlanjut siang, sore, bahkan malam hari. Rasanya, hampir tak ada waktu yang terlewat tanpa ngopi. Jika disebut sebagai bagian dari gaya hidup, rasanya juga tidak berlebihan.

Orang bisa ngopi di mana saja: di rumah, warung kopi (warkop), kantor, kafe, hingga ruang terbuka seperti taman. Ngopi seolah telah menjadi ritual “wajib” bagi banyak orang.

Saya sendiri termasuk penikmat kopi, meskipun bukan kategori kelas berat. Biasanya saya menikmati kopi sekitar pukul 09.00 pagi dan sore hari setelah Asar. Bagi saya, secangkir kopi di pagi hari dan satu lagi di sore hari sudah cukup.

Jenis kopi yang biasa saya konsumsi adalah kopi hitam dengan sedikit gula (sekadar berjaga-jaga dari risiko diabetes). Idealnya, saya ingin menikmati kopi hitam tanpa gula, namun tampaknya masih perlu proses pembiasaan. Sesekali, saya juga mencoba kopi instan atau kopi kekinian sebagai variasi.

Secara selera, saya lebih menyukai kopi Robusta dibanding Arabika. Rasa pahit Robusta terasa lebih kuat, dengan body yang lebih tegas. Sementara Arabika memiliki karakter rasa yang lebih kompleks, dengan sentuhan manis dan asam (acidity). Selain itu, ada pula jenis kopi Liberika dan Excelsa, meski saya sendiri belum pernah mencicipinya.

Bagi saya, asal daerah kopi bukanlah hal utama. Saya tidak terlalu fanatik dengan kopi dari daerah tertentu seperti Gayo, Lampung, Rejang Lebong, Toraja, atau Papua. Prinsip saya sederhana: selama kopi tersebut nikmat di lidah dan sesuai selera, maka itulah kopi yang tepat sebagai teman di pagi dan sore hari.

Salah satu kopi yang cocok di lidah saya adalah kopi Rejang Lebong (Bengkulu). Namun, pada akhirnya, selera kopi sangatlah subjektif bagi setiap penikmatnya.

Banyak orang meyakini bahwa ngopi dapat menghilangkan rasa kantuk. Namun, bagi saya, hal itu tidak sepenuhnya berlaku. Meski sudah ngopi, rasa kantuk kadang tetap datang dan sulit ditahan. Hal ini juga dialami oleh beberapa teman sesama penikmat kopi.

Karena itu, bagi saya, ngopi bukan sekadar untuk mengusir kantuk, melainkan untuk dinikmati dan menjadi teman bekerja. Saya sering menyelesaikan tugas, menulis, atau mengikuti rapat—baik offline maupun online—ditemani secangkir kopi dan camilan. Dengan ngopi, saya merasa lebih bersemangat dan fokus.

Selain sebagai bagian dari rutinitas, kopi juga memiliki manfaat bagi kesehatan, terutama jika dikonsumsi tanpa campuran berlebih. Para ahli menyarankan konsumsi kopi hitam sebanyak dua cangkir per hari: satu di pagi hari setelah sarapan, dan satu lagi di waktu berikutnya sesuai kebutuhan.

Kopi merupakan sumber utama kafein, yaitu stimulan yang membantu meningkatkan energi. Kafein dari secangkir kopi dapat terserap ke dalam darah dalam waktu sekitar 20 menit dan bertahan hingga lebih dari 12 jam. Zat ini memengaruhi detak jantung, tekanan darah, serta energi tubuh, sekaligus memengaruhi kadar adenosin di otak—yang membuat kita merasa lebih segar.

Sejumlah penelitian menyebutkan berbagai manfaat kopi, antara lain sebagai antioksidan, meningkatkan fungsi kognitif dan daya ingat, menjaga suasana hati, serta membantu menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, dan diabetes. Bahkan, kopi juga dikaitkan dengan program penurunan berat badan, seperti dalam konsep The Coffee Lover’s Diet yang diperkenalkan oleh Dr. Bob Arnot.

Meski demikian, konsumsi kopi tetap perlu dibatasi. Asupan kafein berlebihan dapat menimbulkan efek negatif, seperti meningkatkan kecemasan, mengganggu pola tidur, menyebabkan gelisah, meningkatkan kadar gula darah, serta menyulitkan pengelolaan insulin pada penderita diabetes tipe 2. Selain itu, pada kondisi tertentu, kafein juga berpotensi memicu gangguan lambung dan masalah kesehatan lainnya.

Bagi mereka yang terbiasa ngopi lalu tiba-tiba berhenti, dapat muncul gejala seperti sakit kepala, kelelahan, dan penurunan konsentrasi selama beberapa hari, hingga tubuh beradaptasi kembali.

Demikian sekelumit cerita tentang ngopi—sederhana namun penuh makna. Masih banyak hal yang bisa digali, mulai dari sejarah kopi, proses pengolahan, hingga tren ngopi di kalangan milenial dan Gen Z. Semoga tulisan singkat ini dapat memberi gambaran tentang peran kopi dalam kehidupan masyarakat.

Kuy, kita ngopi!

Penulis adalah penikmat kopi dan tinggal di Depok.

Facebook Comments Box

Read More

Berbagi Peran, Siapa Takut?

26 December 2025 - 08:48 WIB

Potensi Besar, Tantangan Nyata: Mewujudkan Indonesia sebagai Pusat Industri Halal Global

25 May 2025 - 04:08 WIB

URGENSI PENERAPAN AUDIT SYARIAH DALAM MENJAGA AKUNTABILITAS PADA ORGANISASI PENGELOLA ZAKAT (OPZ)

17 May 2025 - 14:32 WIB

Audit Syariah, Solusi untuk Kepercayaan Publik terhadap OPZ

17 May 2025 - 12:29 WIB

Audit Syariah, Solusi untuk Kepercayaan Publik terhadap OPZ

16 May 2025 - 19:19 WIB

Trending on Opini