Maggot atau dalam istilah populer disebut dengan belatung adalah larva dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia Illucens dalam bahasa Latin. Maggot merupakan larva dari jenis lalat yang awalnya berasal dari telur dan bermetamorfosis menjadi lalat
dewasa. Tubuh maggot berwarna hitam dan sekilas mirip dengan tawon. Hal yang menarik, maggot memiliki potensi untuk dibudidayakan, bagi sebagian masyarakat, budidaya maggot merupakan potensi yang baik untuk dikembangkan.

Budidaya maggot relatif tidak sulit untuk dikembangkan, mengingat maggot berkembang biak dengan alami di alam sehingga mudah untuk mendapatkannya. Maggot bertahan hidup pada lingkungan tropis sehingga potensi mengembangbiakannya sangat mudah
dilakukan di Indonesia yang memiliki iklim tropis.

Bidang Tani dan Nelayan (BTN) PKS Kota Depok mengusung program One Demplot One Village (ODOV), telah membuat demplot (demonstration plot) dengan tema budidaya maggot, berlokasi di Kelurahan Tirtajaya Kecamatan Sukmajaya. Dikelola oleh Arif dan
Hari, wirausahawan muda sekaligus praktisi budidaya satwa harapan yang menjadi pilot project percontohan demplot budidaya maggot yang akan segera diduplikasi di beberapa kelurahan lain di Kota Depok tahun 2022 ini.

Arif, yang merupakan salah satu pengurus BTN PKS Depok menyampaikan bahwa metode pembiakan maggot memakai media yang bersih yaitu pada media yang beraroma fermentasi sehingga lalat BSF tidak membawa penyakit, perlu diketahui bahwa lalat BSF
merupakan hewan yang memiliki antibiotik alami dalam tubuhnya yang membuatnya tidak membawa penyakit. Tentu lain halnya apabila dibandingkan dengan lalat hijau yang biasa berkembang biak pada media yang kotor atau busuk sehingga mudah
mendatangkan kuman dan bakteri.

“Untuk mengundang lalat BSF berkembang biak pada media yang mengandung fermentasi, perlu kita pancing datang dengan cara tertentu, cara ini akan kami ajarkan dan bedah kasus dalam Sekolah Tani PKS yang secara rutin diadakan, untuk waktunya silahkan
simak informasi update di akun Instagram kami @btnpksdepok”, ungkap Arif.

Lalat BSF akan bertelur pada media berfermentasi kurang lebih selama 1-3 hari, lalu telur-telur ini akan menetas dan bergerak dengan sendiri dan memakan makanan yang ada pada media fermentasi tersebut. Dalam waktu 2-3 minggu maggot akan tumbuh
besar dan siap untuk dipanen. Perlu diperhatikan agar menyisakan maggot agar dijadikan bibit untuk mendapatkan telurnya kembali.

“Maggot dapat menjadi pakan tambahan atau alternatif bagi budidaya ikan dan unggas. Untuk budidaya ikan dapat digunakan 100 persen maggot sebagai pakan, untuk unggas jenis bebek bisa 75 persen dan unggas jenis ayam antara15 sampai 25 persen”, imbuh
Hari, yang sudah menjalani demplot maggot selama dua bulan berjalan ini.

Dalam kesempatan terpisah, Suryono, warga Kota Depok yang berdomilisi di Jalan Dahlia, menuturkan pengalamannya membudidayakan maggot, “Sebagai makanan maggot, saya biasa memberi kepala ikan, ekor tuna, lele mati dan isi perut ikan dari Pasar Kemiri setiap siang di sela istirahat kantor, kadang variasi dengan buah-buahan sisa”, ungkapnya.

Maggot, sang satwa harapan, menyimpan banyak potensi untuk dikembangkan lebih lanjut ke tahap industri skala rumah tangga. Tentunya partisipasi kaum muda milenial untuk makin meningkatkan potensi pengembangan budidaya maggot di Kota Depok selalu dinantikan, mengingat maggot juga memiliki fungsi pengurai sampah.