DepokNews- Kota Depok mulai bebenah kembali, kali ini di pedestrian atau trotoar di Jalan Kartini saat ini sedang dalam pembangunan.

Troktoar akan dilengkapi dengan guiding block atau penunjuk arah bagi penyandang disabilitas. Hal ini dilakukan agar seluruh pengguna jalan merasa nyaman.

“Guiding block tersebut berfungsi sebagai rambu jalan bagi tunanetra, bertekstur timbul dengan warna kuning yang berada di trotoar. Karena trotoar juga menjadi hak seluruh pejalan kaki, termasuk penyandang disabilitas,” ujar Wali Kota Depok, Mohammad Idris, belum lama ini.

Idris juga menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok serta pelaksana kegiatan agar memenuhi standar dalam pemasangan guiding block di trotoar Jalan Kartini. Kemudian, jalurnya tidak terputus, rapi, dan cat tak mudah terkelupas serta tidak menabrak tiang maupun pohon.

Selain itu, trotoar di Jalan Kartini juga nantinya memiliki bagian landai yang bertujuan untuk mempermudah pengguna kursi roda ketika naik dan turun trotoar. Lebar trotoar yang akan dibangun juga bervariasi,” jelasnya.

Trotoar mulai dari 1 hingga 1,5 meter dengan panjang 1,5 kilometer, dengan ketinggian berkisar 15 cm dari bahu jalan.

“Mudah-mudahan selsai cepat waktu dan mohon maaf jika perjalanan terganggu,” terangnya.

Sementara itu, Kepala PUPR Kota Depok, Citra Indah Yulianty menuturkan, anggaran peningkatan Jalan Kartini berasal dari bantuan Provinsi Jawa Barat (Jabar). Pengerjaannya dimulai dengan pemasangan saluran air berukuran 60 x 80 sentimeter.

“Pertama yang kita kerjakan saluran airnya, dibongkar dulu trotoar, digali baru salurannya dipasang. Nantinya per 20 meter setelah pengerjaan saluran selesai, kami langsung mengecor trotoar menggunakan bondek, lalu kita cor dengan beton setebal 10 sentimeter,” paparnya.

Dia menambahkan, untuk pembangunan trotoar akan menggunakan pola seperti trotoar di Jalan Margonda. Kemudian, teksturnya dibuat menyerupai kulit jeruk serta dilakukan hotmix dengan metode pengaspalan.

“Jalur trotoar atau pedestriannya ramah difabel, kita siapkan jalur yang bertekstur, sehingga penyandang difabel bisa terarah dan tidak ada perbedaan elevasi yang membahayakan,” tandasnya.

Previous articleAtasi Kesulitan Air, Sekolah Ilmu Lingkungan UI Lakukan rainwater harvesting di Manggarai Barat dan Laboan Bajo
Next articleBaznas Depok Sosialisasikan Optimalisasi Pengelolaan Zakat di Sekolah